Urbannews | Dalam percakapan musik, istilah senior dan junior kerap hadir bukan sekadar sebagai penanda usia atau pengalaman, melainkan sebagai garis batas imajiner. Garis yang memisahkan siapa yang dianggap “sudah matang” dan siapa yang “masih belajar”. Padahal, musik sendiri tak pernah mengenal usia; ia hanya mengenal bunyi, rasa, dan konteks zaman yang terus bergerak.
Secara akademik, musik dapat dipahami sebagai praktik kultural yang selalu hidup dalam dialektika antargenerasi. Setiap generasi menghadirkan cara dengar, cara cipta, dan cara makna yang berbeda. Musisi senior membawa memori kolektif—jejak sejarah, disiplin, dan kedalaman estetika—sementara musisi junior hadir dengan sensibilitas baru, teknologi mutakhir, serta keberanian mendobrak pakem. Ketika keduanya diposisikan secara hierarkis, musik berisiko membeku; ketika keduanya dipertemukan secara dialogis, musik justru menemukan napas panjangnya.
Di panggung global, kita dapat melihat bagaimana sekat ini dengan sadar diruntuhkan. Paul McCartney, figur sentral dalam sejarah musik populer dunia, tidak menempatkan dirinya di menara gading nostalgia. Ia justru mengapresiasi dan berkolaborasi dengan Billie Eilish—seorang musisi muda yang tumbuh dalam lanskap digital dan budaya pop kontemporer. Pertemuan mereka bukan sekadar kolaborasi lintas generasi, melainkan dialog antara ingatan masa lalu dan kegelisahan masa kini.
Elton John pun menunjukkan sikap serupa. Dengan pengalaman puluhan tahun di industri musik, ia secara konsisten memberi ruang bagi musisi generasi baru seperti Ed Sheeran dan Dua Lipa. Elton John tidak hadir sebagai penghakim selera, melainkan sebagai pendengar yang terbuka. Dalam konteks ini, senioritas tidak berubah menjadi otoritas yang menekan, melainkan menjadi sumber legitimasi yang menguatkan.
Sikap ini juga tampak pada Dave Grohl. Sebagai musisi yang pernah berada di berbagai fase sejarah musik rock—dari Nirvana hingga Foo Fighters—Grohl kerap mengekspresikan kekagumannya pada musisi muda. Ia berbicara tentang mereka bukan dengan nada curiga, tetapi dengan rasa ingin tahu, seolah musik selalu punya cara baru untuk mengejutkan, tak peduli seberapa lama seseorang telah berada di dalamnya.
Secara sastrawi, musik adalah sungai panjang. Musisi senior adalah hulu yang menyimpan cerita batu, akar, dan aliran awal. Musisi junior adalah arus baru yang membawa warna, kecepatan, dan percikan cahaya. Sungai tidak pernah bertanya mana yang lebih penting; ia hanya mengalir, menyatu, dan memberi kehidupan di sepanjang jalurnya.
Menghapus dikotomi senior versus junior bukan berarti menafikan pengalaman, juga bukan mengagungkan kebaruan secara membabi buta. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa musik tumbuh melalui pertukaran, bukan dominasi. Senior belajar untuk tetap mendengar, junior belajar untuk tetap menghargai. Di titik itulah musik menemukan etika dan estetikanya sekaligus.
Pada akhirnya, musik tidak diwariskan secara satu arah. Ia ditafsirkan ulang, dimainkan kembali, dan dirayakan bersama. Ketika sekat generasi runtuh, yang tersisa hanyalah bunyi—jujur, hidup, dan terus mencari makna di setiap zaman.


