Urbannews | Usia sebuah lagu jarang ditentukan oleh tahun rilisnya. Ia lebih sering diukur oleh seberapa lama ia menetap dalam ingatan, seberapa sering ia kembali diputar tanpa diminta, dan seberapa relevan ia terasa di fase hidup yang berbeda. Ada lagu yang baru berumur beberapa bulan namun sudah terasa usang, ada pula yang diciptakan puluhan tahun lalu tetapi tetap terdengar akrab—seolah baru ditulis kemarin. Di titik itulah usia lagu menjadi perkara keterhubungan, bukan kronologi.
Di Indonesia, contoh paling jelas dapat ditemukan pada karya Bimbo – “Sajadah Panjang” (ciptaan Taufiq Ismail & Bimbo). Lagu ini tidak mengikuti tren musik tertentu, tidak pula mengejar kompleksitas aransemen. Ia bertahan karena liriknya jujur, reflektif, dan menyentuh wilayah batin yang selalu relevan: perjalanan hidup, kesalahan, dan harapan akan ampunan. Lagu ini menua secara biologis, tetapi tetap muda secara emosional.
Hal serupa terlihat pada Chrisye – “Badai Pasti Berlalu” (ciptaan Eros Djarot, Yockie Suryoprayogo, dan Chrisye). Lagu ini tidak sekadar menceritakan patah hati, melainkan memberi harapan yang tenang tanpa menggurui. Melodinya sederhana namun kuat, liriknya tidak menjelaskan segalanya, dan justru karena itu pendengar bebas menaruh pengalaman masing-masing. Lagu ini terus hidup lintas generasi, bahkan diinterpretasikan ulang berkali-kali tanpa kehilangan ruhnya.
Dari sisi kesederhanaan dan kejujuran, Iwan Fals – “Ibu” adalah contoh lain lagu yang ajeg di hati. Liriknya sangat spesifik—tentang seorang ibu—namun hampir semua orang memiliki relasi emosional dengannya. Tidak ada metafora berlebihan, tidak ada permainan kata rumit, hanya rasa yang disampaikan apa adanya. Kesederhanaan inilah yang membuat lagu tersebut sulit ditinggalkan oleh waktu.
Jika menoleh ke luar negeri, pola yang sama juga terlihat. John Lennon – “Imagine” (ciptaan dan dinyanyikan John Lennon) tetap relevan bukan karena pesan politiknya semata, melainkan karena keberaniannya bermimpi tentang dunia yang lebih manusiawi. Liriknya lugas, melodinya mudah diingat, dan temanya melampaui konteks era 1970-an. Lagu ini tidak memaksa pendengar setuju, hanya mengajak membayangkan—dan ajakan itu tak pernah kedaluwarsa.
Contoh lain adalah Queen – “Bohemian Rhapsody” (ciptaan Freddie Mercury). Meski secara struktur sangat tidak konvensional, lagu ini bertahan karena kejujuran ekspresi dan keberanian artistiknya. Ia tidak mencoba menyesuaikan pasar, justru pasar yang akhirnya menyesuaikan diri dengannya. Lagu ini membuktikan bahwa keabadian tidak selalu lahir dari kesederhanaan, tetapi dari identitas yang kuat dan konsisten.
Dari ranah balada, Frank Sinatra – “My Way” (ditulis oleh Paul Anka) menjadi contoh bagaimana lagu dengan tema personal dapat terasa universal. Ia berbicara tentang hidup, pilihan, dan penerimaan diri—tema yang akan selalu relevan selama manusia masih bertanya tentang makna hidupnya sendiri.
Dari contoh-contoh tersebut, dan mungkin masih banyak lagi, tampak bahwa lagu yang tak lekang oleh waktu hampir selalu memiliki beberapa kesamaan: kejujuran emosi, karakter yang jelas, dan keberanian untuk tidak sepenuhnya tunduk pada zamannya. Lagu-lagu ini tidak sibuk menjadi “baru”, melainkan setia menjadi “benar” bagi penciptanya.
Pada akhirnya, lagu bertahan bukan karena ia sempurna secara teknis, melainkan karena ia hadir saat seseorang paling membutuhkannya—dan tetap tinggal setelahnya. Ketika sebuah lagu mampu menemani duka, merayakan harap, atau sekadar menjadi pengingat bahwa seseorang pernah merasa dimengerti, di sanalah usianya menjadi panjang. Dan mungkin, di sanalah musik menemukan bentuk keabadiannya.




