Urbannews | Bayangkan lampu panggung yang meredup, asap tipis menari di udara, dan nada gitar yang menembus keheningan. Di tengah sorotan yang temaram, berdirilah Pasha Chrisye, suara yang dulu hanya kita kenal melalui nama besar ayahnya, kini berbicara dengan lantang dan jujur. Anak bungsu almarhum Chrisye ini tak lagi berada di bayang-bayang legenda; ia menegaskan dirinya sendiri, membuka lembaran baru bagi musik Indonesia.
Di sampingnya, Reiner Ramanda menaburkan melodi synth dan keys yang tajam, membentuk atmosfer yang sekaligus memikat dan menegangkan. Dan di belakang drum, Axel Andaviar, putra Ovy /rif, memukul dengan presisi dan karakter, mengikuti jejak ayahnya tanpa kehilangan identitas sendiri. Hentakan ritme Axel menegaskan bahwa darah musik terus mengalir, dari generasi ke generasi.
EP debut mereka, PALINGENESIS, memuat empat trek: Perjuangan, Bayanganmu, Dark Night of The Soul, dan yang paling memukau, Deru Belenggu. Video musiknya baru dirilis, tapi bahkan sebelum menonton, setiap nada sudah membawa pembaca ke dalam badai emosi: cinta yang tak bisa dimiliki, luka yang tak kunjung sembuh, dan jiwa yang terperangkap di antara kenangan dan harapan yang hilang.
Dengarkan gitar agresif yang menjerit, dipadukan dengan ritme drum yang seakan menahan napas, dan vokal Pasha yang bergeser dari lirih penuh luka ke ledakan kemarahan yang membakar. Setiap detik adalah perjalanan melalui labirin batin sang narator, menghadapi bayangan masa lalu dan belenggu yang tak terlihat namun menghancurkan.
Bayangkan: tangan Axel bergerak cepat di drum kit, menciptakan ritme yang propulsif, sementara Reiner menambah tekstur gelap dengan synth. Dan di tengahnya, Pasha melantunkan kata-kata yang terasa seperti bisikan jiwa sendiri—sakit, rawan, tapi juga membebaskan. Deru Belenggu bukan sekadar lagu; ia adalah pengalaman yang harus dirasakan, bukan hanya didengar.
Secara visual, panggung Shadowbourne adalah kanvas bagi emosi yang terdalam: cahaya merah yang menyorot wajah-wajah penuh ketegangan, asap yang menari mengikuti nada gitar, dan udara yang terasa tebal oleh energi yang memuncak. Ini adalah ritual pemurnian: luka yang diubah menjadi kekuatan, rasa sakit yang dilawan dengan musik, dan generasi baru yang menegaskan diri melalui nada.
Di tengah semua itu, jelas bahwa Shadowbourne bukan hanya band; mereka adalah simbol bahwa industri musik Indonesia terus menggeliat, selalu menemukan cara baru untuk bercerita, dan bahwa warisan musik keluarga—seperti Chrisye dan Ovy—bisa diteruskan dan dibentuk ulang tanpa kehilangan jiwa sendiri.
Ketika lagu berakhir, deru terakhir gitar dan drum tetap terngiang, meninggalkan kesadaran: kegelapan dan cahaya, luka dan kekuatan, masa lalu dan masa depan, semuanya bersatu di dunia Shadowbourne. Di sini, Pasha, Axel, serta dukungan Reiner, menulis sejarah mereka sendiri, membuktikan bahwa dari bayang-bayang legenda lahir cahaya baru yang menaklukkan kegelapan.




