Urbannews | Ada lagu-lagu yang tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk dipanggil kembali—oleh ingatan, oleh kerinduan, oleh ribuan suara yang pernah tumbuh bersamanya.
Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Sabtu malam (31/1/2026), berubah menjadi ruang ingatan kolektif. Ribuan Sobat Padi memenuhi arena, mengelilingi panggung yang ditempatkan di tengah dengan konsep 360 derajat. Tidak ada jarak kaku antara band dan penonton—yang ada hanyalah lingkaran besar perayaan, tempat lagu-lagu lama berkelindan dengan rasa hari ini.

Panggung melingkar itu menjadi pusat gravitasi. Personel Padi Reborn bebas berjalan memutar, menyapa dari segala arah, seolah menegaskan bahwa konser ini milik bersama. Tata lighting yang dinamis, LED monitor yang menyelimuti ruang, serta mekanisme panggung yang bisa ditinggikan dan diturunkan memberi nuansa teatrikal tanpa kehilangan fokus pada musik. Semua dirancang untuk satu hal: membuat lagu-lagu Padi tetap bernapas.
Konser bertajuk Dua Delapan ini terselenggara berkat kerja sama Megapro Communications dan Northstar Entertainment, yang meramu perayaan musik tersebut menjadi pengalaman lintas generasi—rapi secara teknis, hangat secara emosional.
Konser Dua Delapan bukan sekadar penanda usia perjalanan Padi Reborn—band asal Surabaya yang terbentuk pada 1997—melainkan momentum reflektif. Mereka menoleh ke belakang, tetapi tidak untuk menetap. Lagu-lagu lama tidak diperlakukan sebagai artefak nostalgia, melainkan sebagai teks hidup yang terus ditafsir ulang.
Sebanyak 25 lagu dibawakan malam itu, dimulai dari Prolog, Bayangkanlah, Menanti Sebuah Jawaban. Fadly dan Piyu menyapa para Sobat Padi yang hadir, dan berikutnya Sang Penghibur, Lingkaran, Sesuatu Yang Indah. Setlist terasa seperti kronik emosional lintas generasi: “Bayangkanlah”, “Begitu Indah”, “Kasih Tak Sampai”, “Mahadewi”, “Rapuh”, hingga “Sobat”. Setiap lagu disambut koor panjang, menjadikan konser ini lebih mirip ruang karaoke raksasa ketimbang pertunjukan satu arah.
“Ini bukan nonton konser, tapi nyanyi bareng ribuan orang yang punya cerita masing-masing,” ujar Raka (34), Sobat Padi yang sengaja datang bersama istrinya dari Bogor. “Lagu-lagu Padi itu kayak arsip hidup. Tiap baitnya pernah kita pakai di fase yang berbeda.”
Padi Reborn malam itu, menunjukkan satu hal penting: lagu pop yang baik tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus berubah seiring pendengarnya bertambah usia. “Rapuh” tak lagi sekadar lagu patah hati; ia menjadi refleksi kedewasaan. “Begitu Indah” terdengar bukan hanya romantis, tetapi juga kontemplatif. Waktu memberi lapisan makna baru.
Kehadiran Sal Priadi membawakan lagu Gala Bunga Matahari, dan Fani Sugi lewat lagu Langit Biru, memperluas spektrum musikal konser ini. Mereka hadir bukan sebagai tempelan generasi, melainkan dialog lintas zaman. Kolaborasi itu terasa organik—membuktikan bahwa lagu-lagu Padi cukup lentur untuk dibaca ulang oleh suara yang berbeda, tanpa kehilangan identitas.
“Gue ngerasa Padi itu band yang nemuin kita di usia yang tepat,” kata Nadia (27) Sobat Padi lainnya dari Bekasi. “Dulu dengarnya dari orang tua, sekarang gue nyanyi sendiri. Rasanya tetap kena.”
Konser Dua Delapan juga menegaskan satu hal: Padi Reborn tidak berusaha menjadi band muda, tapi juga tidak membeku dalam romantisme masa lalu. Mereka memilih jalan tengah yang jujur—menghormati sejarah sambil terus bergerak. Energi panggung terasa matang, tidak berlebihan, namun penuh keyakinan.
Saat “Sobat” dilantunkan menjelang akhir, ribuan suara menyatu. Tidak ada gimmick berlebihan. Hanya lagu, ingatan, dan rasa kebersamaan yang mengendap lama setelah lampu padam. Konser ini bukan sekadar perayaan usia band, melainkan perayaan relasi panjang antara musik dan pendengarnya.
Dua delapan tahun berlalu. Dan seperti lagu yang terus dinyanyikan meski waktu berganti, Padi Reborn membuktikan bahwa kejujuran dalam musik tak pernah lekang—ia hanya tumbuh, bersama mereka yang setia mendengarkan.
Foto: Dok.Busan




