Ketika Panggung IMust 2025 Berubah Jadi ‘Ruang Presentasi Dadakan’

Urbannews | Indonesia Music Summits (iMust) 2025 di Teater Wahyu Sihombing mestinya menjadi ruang aman bagi gagasan-gagasan segar. Ruang yang memberi kesempatan pada semua pemangku kepentingan untuk berdialog tanpa hierarki—setidaknya begitu idealismenya.

Namun siang itu, Kamis (20/11), forum yang digagas untuk membedah masalah venue dan sarana pertunjukan musik justru membuka bab baru dalam seni pertunjukan: seni menyisipkan agenda.

Sebuah Kursi yang Menunggu, dan Seorang Pejabat yang Tidak Terpanggil untuk Duduk

Ketika nama Wamen Kemenbud RI Giring Ganesha dipanggil, semua mata mengikuti alurnya yang wajar: naik ke panggung, senyum, duduk. Kursi narasumber sudah berjejer rapi, seperti aktor pendukung yang siap menjalankan fungsinya.

Tapi kursi itu hanya berdiri sebagai properti panggung—disediakan, tapi tak disentuh. Giring memilih berdiri di tengah panggung, memegang mikrofon, lalu boom—layar menyala, slide berloncatan, dan Konferensi Musik Indonesia (KMI) tiba-tiba hadir di panggung iMust.

Semuanya begitu siap, begitu sistematis, begitu… tidak spontan. Bahkan penonton bisa merasakan aroma file PowerPoint yang sudah dipoles dari kantor.

Moderator? Untuk beberapa menit berubah fungsi menjadi penonton VIP.

Ketika Diskusi Jadi Interupsi

Sesi diskusi yang seharusnya menjadi inti acara tak ubahnya menjadi jeda panjang. Forum yang merupakan ruang privat iMust mendadak jadi tempat promosional: sebuah ad-lib yang tak tertulis dalam rundown.

Di sinilah satire berjalan tanpa perlu dipaksakan.

Bayangkan Anda menghadiri arisan, lalu ada seseorang datang dengan membawa katalog MLM dan berkata, “Mumpung kita kumpul, saya presentasi sebentar ya.” Semua orang sopan, tapi sebenarnya ingin berkata, “Bu, ini bukan tempatnya.”

Begitulah suasana iMust sore itu—sopan dalam permukaan, geli dalam hati.

Antara Kebanggaan dan Ruang yang Bukan Tempatnya

Mungkin Giring sekadar ingin menunjukkan kerja yang telah dilakukan, dan itu tidak salah. Namun, ketika panggung orang lain berubah menjadi panggung sendiri, publik sulit mengabaikan pertanyaan yang menggantung:

Apakah pemerintah datang untuk mendengar? Atau untuk memastikan semua orang mendengar pemerintah terlebih dahulu?

Karena pada dasarnya, iMust dan KMI sama-sama membicarakan musik, tetapi dengan tujuan yang berbeda. Satu ruang independen, satu ruang resmi. Dan ketika ruang resmi menyelinap masuk ke ruang independen tanpa permisi, yang tersisa adalah rasa kikuk kolektif yang disamarkan dengan tepuk tangan tipis-tipis.

Seni Berbicara dalam Forum: Antara Etika dan Ego

Ruang diskusi membutuhkan kepekaan:
Kapan bicara, kapan mendengar, kapan menahan diri, dan kapan memberi tempat kepada suara yang lebih kecil.

Mungkin itulah seni yang lebih sulit dikuasai dibandingkan memegang mikrofon.

Karena industri musik Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak panggung untuk presentasi—ia butuh lebih banyak panggung untuk kolaborasi, untuk kritik yang tak tersaring, dan untuk gagasan yang tumbuh dari pengalaman nyata, bukan semata-mata laporan kinerja.

Dan sore itu, di tengah gedung Taman Ismail Marzuki, publik kembali diingatkan: Kadang, yang menghambat alur diskusi bukanlah perbedaan gagasan—tetapi ego yang lupa mengecilkan volumenya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *