Urbannews | Pagi itu, sebuah kafe kehilangan suaranya. Bukan karena listrik padam, bukan pula karena pengunjung sepi. Mesin kopi tetap berdengung, cangkir masih beradu, barista tetap bekerja seperti biasa. Yang hilang hanyalah musik—sesuatu yang selama ini dianggap remeh, namun diam-diam menjaga ruang tetap bernyawa.
Saya duduk di sudut ruangan dengan secangkir kopi yang mengepul pelan. Tanpa musik, kafe itu terasa seperti ruang tunggu: fungsional, rapi, dan dingin. Sunyi hadir bukan sebagai pilihan estetik, melainkan sebagai keputusan administratif. Sejak sebuah surat edaran pemerintah terbit, musik mendadak menjadi risiko.
“Biasanya ada lagu, Mas,” kata Roni, barista yang sudah tiga tahun bekerja di kafe itu. Ia melirik pengeras suara di sudut ruangan. “Sekarang lebih sering dimatikan. Kami pilih aman.”
Sunyi, rupanya, lahir dari kecemasan
Belakangan, pemerintah mewajibkan kafe dan restoran membayar royalti jika memutar lagu. Secara prinsip, kebijakan ini berangkat dari niat yang sah: melindungi hak cipta dan memastikan musisi memperoleh hak ekonominya. Musik adalah kerja, dan kerja layak dihargai. Namun kebijakan, ketika turun ke ruang-ruang keseharian, tak pernah berdiri sendirian. Ia selalu bersentuhan dengan konteks, skala, dan realitas hidup banyak orang.
Di kota-kota kita, kafe dan warung kopi bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah ruang antara—tempat orang berhenti sejenak dari ritme hidup yang berisik. Di ruang-ruang ini, musik tidak berdiri di panggung. Ia duduk bersama pengunjung, mengalir pelan sebagai latar, menyelinap tanpa mengganggu. Justru dari sinilah banyak lagu pertama kali dikenal.
“Saya sering tahu lagu dari kafe,” ujar Dina, pengunjung yang setiap hari bekerja selalu singgah ke warung kopi. “Awalnya cuma lewat di telinga. Lama-lama nempel. Sampai akhirnya saya cari sendiri.”
Proses perkenalan itu nyaris tak pernah tercatat. Tak ada statistik resmi tentang berapa musisi yang dikenal pertama kali dari pengeras suara kafe kecil. Namun ruang-ruang inilah yang selama ini menjaga musik tetap dekat dengan kehidupan sehari-hari. Musik hidup bukan hanya di layar gawai atau panggung besar, tetapi di antara obrolan ringan, tawa singkat, dan jeda yang nyaman.
Bagi pemilik usaha kecil, kebijakan royalti sering kali terasa seperti beban tambahan yang datang tanpa penjelasan memadai. “Kami bukan tempat hiburan,” kata Sari, pemilik warung kopi di kawasan padat penduduk. “Musik cuma buat suasana. Tapi kalau harus bayar lagi, kami harus hitung ulang semuanya.”
Hitung-hitungan itu kerap berujung pada keputusan paling sunyi: ya!, mematikan musik. Bukan karena tak menghargai karya, melainkan karena tak sanggup menanggung risiko. Sunyi menjadi kompromi, meski mengubah wajah ruang.
Ironisnya, dampak sunyi ini juga dirasakan oleh musisi. “Lagu saya dikenal pertama kali justru dari kafe,” ujar Bayu, musisi independen. “Orang dengar sambil ngopi, lalu cari, lalu datang ke pertunjukan. Kalau ruang itu hilang, jalurnya ikut hilang.”
Di sinilah kebijakan sering tersandung realitas. Musik tidak hanya bergerak lewat industri besar dan platform digital. Ia juga tumbuh lewat ruang-ruang kecil yang tak pernah masuk laporan resmi. Ketika regulasi memandang semua ruang sebagai entitas ekonomi yang sama, nuansa pun hilang. Warung kopi dengan beberapa meja disamakan dengan pusat hiburan besar. Musik sebagai latar disamakan dengan musik sebagai komoditas utama.
Persoalannya bukan pada royalti, melainkan pada cara membaca konteks. Kebijakan yang adil seharusnya mampu membedakan fungsi, skala, dan dampak. Musik yang diputar untuk membangun suasana jelas berbeda dengan musik yang dijual sebagai tontonan. Menyeragamkan keduanya hanya akan melahirkan ruang-ruang publik yang patuh, tetapi kehilangan kehangatan.
Negara semestinya hadir sebagai penjaga keseimbangan: melindungi hak musisi tanpa mematikan ruang hidup musik itu sendiri. Skema royalti yang proporsional, transparan, dan mudah dipahami akan jauh lebih bermakna daripada aturan yang membuat kota memilih sunyi.
Sebab musik, sebelum dihitung sebagai royalti, pernah menjadi perkenalan. Ia hidup di ruang-ruang kecil, menyusup tanpa izin, membentuk selera tanpa paksaan. Dari warung kopi dan kafe sederhana, musik belajar dikenal—dan manusia belajar mendengarkan.
Jika ruang-ruang itu kini dipaksa memilih antara kepatuhan dan kehangatan, maka yang dikorbankan bukan hanya suasana, melainkan denyut budaya itu sendiri. Kota mungkin tetap berjalan, tetapi dengan napas yang ditahan. Dan ketika musik tak lagi diberi tempat di keseharian, kita tak sedang melindungi karya—kita sedang menjauhkannya dari manusia.


