by

Sylvia Saartje, Sang Lady Rocker Pertama Indonesia Dalam Bingkai Film Dokumenter

-Movie-146 views

Urbannews | Jika di Barat punya penyanyi blues rock sekelas Janis Joplin, maka di Indonesia kita mengenal sosok Sylvia Saartje. Penyanyi rock legendaris asal Malang ini adalah satu dari lady rocker legendaris yang tersisa yang dimiliki bumi pertiwi.

Dikenal dengan julukan Jippi, penyanyi kelahiran Arnhem, Belanda ini adalah anak ke 2 dari 7 bersaudara pasangan Nedju Tuankotta yang berasal dari Ambon, Maluku dan Christina Tuyem yang berasal dari Malang, Jawa Timur. Tahun 1962, keluarga Sylvia Saartje memutuskan untuk pindah dari Belanda ke Indonesia. Awalnya, mereka tinggal di Jakarta sebelum kemudian pindah ke Kota Malang.

Kariernya di dunia rock muncul di pertengahan tahun 70-an. Saat itu ia kerap tampil di panggung-panggung rock dengan membawakan lagu-lagu rock dari Janis Joplin sampai Pink Floyd.

Berbekal kostum-kostum dengan warna yang mencolok, bahan kulit serta jeans dan sepatu boots akan sangat mudah mengenali sosok Jippi pada saat itu, selain sosok perempuan yang jarang sekali ditemukan di skena musik rock saat itu.

Salah satu penampilannya yang fenomenal adalah pada saat konser ‘Aktuil Vacancy Rock’ di Gedung Olah Raga (GOR) Pulosari Malang, 27 Desember 1976. Sylvia adalah satu-satunya penyanyi rock perempuan yang tampil dalam konser tersebut.

Karier panggung yang melejitnya pun membawanya sampai ke dapur rekaman. Hasilnya adalah “Biarawati”, sebuah nomor karya Ian Antono yang menjadi single perdana Jippi yang kerap diputar pada saat itu. Sejak saat itu hingga hari ini, di usia yang ke-65 tahun, Sylvia Saartje dikenal sebagai lady rocker Indonesia yang dihormati.

Adapun cerita di atas adalah sekelumit dari potongan kisah yang dilontarkan oleh para narasumber di film Dokumenter bertajuk “Sylvia Saartje, Lady Rocker Pertama Indonesia”. Diproduksi oleh Terakota Indonesia, Yayasan yang memiliki fokus pada pemberitaan budaya dan sejarah, film besutan Sutradara Subi berhasil di danai dengan dukungan program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) 2021 bidang dokumentasi karya – pengetahuan maestro, Dirjenbud Kemdikbudristek RI.

Film ini menjadi sarana nyata pemajuan kebudayaan nasional di bidang sejarah pengetahuan musik rock, dimana sosok Sylvia Saartje merupakan produk hibriditas dengan latar belakang kosmopolitan yang terbukti mampu memajukan musik rock nasional. Tak hanya Sylvia Saartje menjadi aset Kota Malang, ia juga menjadi aset besar kebudayaan dan musik populer yang dimiliki Indonesia. Nama Sylvia Saartje adalah pionir dan membuka jalan bagi penyanyi rock perempuan Indonesia generasi selanjutnya.

Usai menyaksikan film tersebut, ada cerita dan moment yang menarik dituturkan Jippi dengan terisak dan suara menggeletar menceritakan dirinya yang berdarah-darah  dalam perjalanan karirnya yang tidak selalu mulus. Untuk penyanyi rock cewek berkepala enam yang masih aktif menyanyi sampai hari ini, Jippi adalah seorang petarung tangguh.

Begitu pun tuturan sang sutradaranya, Subiyanto saat proses pembuatan filmnya, ia mengeluhkan mahalnya biaya pembelian materi video Sylvia Saartje dari TVRI yang mengakibatkan film dokumenter ini luput memasukkan footage penting sebagai bagian dari upaya mengedukasi generasi muda. Padahal salah satu maklumat lembaga resmi yang dibiayai negara itu adalah ‘Melayani dan bekerja sepenuh hati’.

Jika informasi sang sutradara valid, sikap pihak TVRI itu patut disesalkan. Bagaimana proses transfer budaya bisa berlangsung dengan baik?

Terlepas dari pencapaiannya, film ini cukup menggembirakan karena dapat melengkapi pendokumentasian musik sebelumnya seperti film dokumenter Gelora Saparua (2021, Alvin Yunata ) atau biopic “Slank Nggak Ada Matinya” (2013, Fajar Bustomi)  dan “Chrisye” (2017, Rizal Manthovani).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed