“Kaset Awards”, Bisa Jadi Antitesis Sebuah Ajang Penghargaan Bagi Insan Musik Tanah Air

Music478 Dilihat

Urbannews | Beberapa dekade terakhir, gelombang penghargaan terhadap karya musik Indonesia terus merebak. Sejumlah institusi tampak secara intens terus memberikan sejumlah penghargaan. Beragam kategori juga ditentukan dalam memberikan penghargaan terhadap karya industri musik Indonesia. Penghargaan tampak terus digelar dari tahun ke tahun, baik terhadap musik yang katanya banyak dibilang mainstream maupun indie.

Walau sempat stagnant karena pandemi, industri musik juga panggung musik terus bergerak dan menggeliat menemukan jalannya sendiri. Bahkan banyak nama-nama baru potensial bermunculan kepermukaan di panggung musik nasional. Melihat hal ini, beberapa jurnalis yang konsen di dunia musik (45 nama dan masih akan di update) membentuk Jaringan Jurnalis Musik, yang bertujuan memberi penghargaan bagi pelaku industri musik di tanah air, dengan nama ‘Kaset Awards’.

Jaringan Jurnalis Musik beranggotakan media dari Jakarta dan beberapa kota lainnya, bekerja secara independent, dan dinaungi oleh Deteksi Production ini. Kurasi untuk Awards sudah dimulai sejak bulan April 2022 lalu, dengan memilih 10 kategori yang beberapa diantaranya tidak ada di banyak awards lainnya. Pilihan tersebut berdasarkan lagu/album yang resmi dirilis atau konser/event yang baru diadakan pada masa penjurian. pada pemilihan di atas tidak dibagi berdasarkan genre, tapi dilihat dari kualitas. performa, dan hasil penjualan lagu/album hanya menjadi pertimbangan terakhir.

Sistem kurasi dilakukan setiap bulan. Dimana seluruh member Jaringan Jurnalis Musik bisa mengajukan kandindat yang dipilihnya secara pribadi, dan di akhir bulan akan dilakukan vote bersama-sama untuk dipilihnya pemenang di setiap bulan. Pemenang perbulan di masing-masing kategori ini nantinya akan divote di akhir tahun (Maret 2023) untuk dipilih pemenang yang berhak mendapatkan ‘Kaset Awards’. Akan tetapi ada penghargaan tiap bulannya, buat artis/band yang memang memiliki potensi luar biasa. Diharapkan kegiatan ini, bisa memacu kreatifitas para pelaku industri musik di tanah air.

Sebuah catatan!

Nah! Kaset Awards, sebagai sebuah pergerakan (katakanlah seperti itu) atas nama perubahan, diharapkan bisa memberikan sesuatu yang baru, berisi dan punya nilai lebih. Kaset Awards yang digagas oleh Jaringan Jurnalis Musik, ada dan hadir diharapkan sebagai bagian antitesis ajang penghargaan musik semisal AMI (Anugerah Musik Indonesia), dan atau IMA (Indonesian Music Awards) besutan salah stasiun televisi yang kadung tercitrakan prestisius, dengan gelaran-gelarannya yang terbilang “wah”, namun (maaf) nir makna.

Bagaimana tidak? Dengan calon pemenang yang mudah ditebak, progres musik yang itu-itu saja, yang terasa dikerjakan dengan setengah hati. Contoh kecilnya seperti ketika AMI tidak bisa membedakan genre Punk dan Funk, dengan memasukan kelompok musik Tor yang notabene-nya memainkan musik funk kedalam kategori Punk. Kecil memang, tapi untuk ajang prestisius sebesar AMI itu, jadi terasa kurang, dalam hal kesiapan yang setengah-setengah.

Maka, sekali lagi kehadiran ajang penghargaan musik seperti Kaset Awards diharapkan bisa menjadi sebuah tolok ukur perkembangan musik di luar ranah arus utama. Perannya memberikan penawaran lain dari musik yang mungkin jarang tersentuh oleh khalayak banyak. Bicara tentang musik, maka kita akan bicara sesuatu yang sifatnya relatif, sesuai dengan selera masing-masing pendengarnya.

Namun jika harus dikerucutkan lagi jadi sesuatu yang punya nilai lebih, musik menjadi satu hal yang bisa dibagi dalam beberapa kategori dalam sebuah ajang penghargaan. Bentuk apresiasi semacam ini mungkin perlu, untuk menjadi trigger para musisi agar bisa lebih bergairah dalam membuat karya. Meskipun mendapatkan award semacam ini bukan jadi tujuan utama, karena itu hanyalah imbas dari apa yang telah mereka buat, seperti halnya ketika albumnya laku atau panggung mereka dipenuhi banyak orang yang mengapresiasi musiknya.

Memang perlu usaha lebih untuk bisa menyeimbangkan pola musik yang ada di Indonesia? Tidak hanya sebatas indie vs mainstream, yang makin hari wacana ini makin membosankan. Atau seberapa penting sampai orang harus tahu betapa kerasnya raungan gitar dari Burgerkill, atau betapa bernilainya syair-syair yang dinyanyikan Semak Belukar dalam lagu-lagunya?, bahkan, bagaimana penyanyi Niki Zefanya atau yang lebih populer disapa dengan sebutan Niki, perjalanan karir bermusik justru dilalui di Los Angeles, Amerika Serikat.

Atau mungkin kita pada akhirnya menyadari jika penghargaan paling tinggi bagi seorang musisi adalah tidak dalam bentuk piala, namun dengan apresiasi dari karya yang mereka buat. Bisa dengan membeli albumnya, atau menonton konsernya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *