by

Ziarah Makam Usmar Ismail, Jelang Penyelenggaraan UIA 2016

-Movie-481 views

image

Jakarta, UrbannewsID. | Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (10/1) sore kemarin, tidak ada yang istimewa. Hanya ada rombongan kecil untuk ziarah ke makam sosok seniman sekaligus pejuang perfilman Indonesia, H Usmar Ismail dan beberapa tokoh perfilman nasional lainnya yakni Suryo Sumanto, mantan ketua umum Parfi, serta Jarot Jaya Kusuma pelopor Badan Kesenian Jakarta.

Rombongan yang datang berziarah khusus untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa mereka yang menanamkan fondasi perfilman nasional. Acara itu pun tak lepas berdoa bersama untuk kelancaran ajang penghargaan insan film sesungguhnya, bertajuk Usmar Ismail Awards pada 3 April 2016 mendatang yang akan disiarkan secara langsung oleh Trans7. Termasuk juga, memperingati Hari Perfilman Nasional yang jatuh pada 30 Maret.

Di pinggir makam nampak duduk Lenny Marlina, aktris pemeran film “Ananda” (1971) yang diproduksi dan disutradarai, serta skenarionya ditulis oleh Usmar Ismail. Kehadiran Lenny ditemani Taufik Andaru Baskara, putra terkecilnya yang juga Ketua Pelaksana UIA, Kepala Sinematek Indonesia sekaligus juga penggagas dan penanggung jawab UIA Adisurya Abdy, Irwan Ismail dari pihak keluarga, Bens Leo pengamat musik, Yan Wijaya pengamat film, serta panitia lainnya.

Mengenang sosok Usmar Ismail membuat Lenny kembali larut dalam nostalgia 40an tahun silam. Sebagai artis pendatang baru yang duduk di bangku SMA ketika itu, Lenny mendapat kehormatan dipertemukan dengan Usmar Ismail. Menurutnya, saat itu usianya baru 16 tahun ketika Pak Usmar Ismail datang ke Bandung tahun 1970 minta izin ke bapak saya, supaya saya diperbolehkan main film. Walau tidak dapat izin dari sang Bapak, Lenny yang terpilih nekat berangkat juga ke Jakarta.

Lewat film Ananda inilah, Lenny terpilih sebagai Aktris Pendatang Baru Terbaik se-Asia. Sayangnya, film pertama Lenny ini menjadi karya terakhir Usmar Ismail. Menurut Lenny, waktu proses dubbing Ananda, beliau sudah tidak ada. Saya menjadi saksi bahwa beliau adalah tokoh pejuang perfilman, dan masyarakat harus diberitahu tentang ketokohannya tersebut. Kan tidak mendadak muncul nama gedung Usmar Ismail, kalau beliau bukan tokoh besar, jelasnya.

Lenny pun berharap ajang penghargaan Usmar Ismail Award dapat dirasakan manfaatnya oleh semua masyarakat, termasuk putra-putri Usmar Ismail. Semoga ini tidak sekadar acara show tapi menjadi spirit bahwa Pak Usmar Ismail adalah tokoh perfilman yang harus kita ketahui bersama.

Sosok H Usmar Ismail memang tidak bisa dilupakan begitu saja. Dialah Bapak Perfilman Nasional. Bahkan, tanggal 30 Maret yang dijadikan Hari Perfilman Nasional diambil dari hari pertama syuting film Long March karya Usmar Ismail 66 tahun lalu. Maka, sewajarnyalah jika mereka yang berziarah, langsung menuju makam Usmar Ismail.

UIA 2016 merupakan ajang penghargaan insan film Indonesia yang di independen, dan diselenggarakan oleh Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (YPPHUI) ini, Taufik Andaru Baskara sebagai Ketua Pelaksana yang didampingi Ketua Bidang Humas dan Penjurian UIA, serta beberapa panitia lainnya, mengatakan :

Dalam kaitan ziarah kubur ini, kami ingin memberi penghormatan sekaligus memohon doa dan ijin-nya kepada Pak Usmar Ismail, agar acara Usmar Ismail Awards yang kita laksanakan berjalan lancar dan berkah.

Usmar Ismail Award (UIA) 2016, sebuah ajang penghargaan bagi para insan film yang sesungguhnya dengan melibatkan wartawan sebagai anggota juri penilai. Diharapkan, kehadiarn UIA akan melahirkan persaingan yang saling memperkuat, bukan sebaliknya. Semakin banyak anugerah juga akan memunculkan lebih banyak sudut pandang penilaian dan jumlah penerima penghargaan, karena setiap tahun industri film Indonesia melahirkan lebih dari satu film, aktor, dan pekerja film lain yang pantas dihargai sebagai yang terbaik.|Edo (Foto Rosihan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed