Urbannews | Minggu, 14 Desember 2025, Motovillage Jakarta terbangun lebih awal dari biasanya. Sejak pagi, deru mesin motor sudah memecah udara, seolah menjadi alarm kolektif bagi para pencinta otomotif. Hari itu, Motovillage merayakan 7th Anniversary, sebuah tonggak perjalanan yang bukan hanya tentang usia, melainkan tentang konsistensi merawat budaya dan persaudaraan.
Pagi hingga siang hari menjadi milik para biker. Puluhan komunitas motor dari berbagai penjuru Jakarta dan sekitarnya berdatangan, memenuhi area Motovillage dengan warna, karakter, dan cerita masing-masing. Dari motor kustom bergaya klasik, moge modern, hingga motor harian yang setia menemani pemiliknya menembus kemacetan ibu kota—semuanya berkumpul tanpa sekat.
Jaket komunitas, helm penuh stiker perjalanan, serta obrolan hangat tentang mesin dan modifikasi mengalir alami. Motovillage kembali menjelma ruang temu—bukan hanya tempat singgah, tetapi rumah yang menyatukan.
Di sela-sela keramaian, alunan lagu-lagu The Beatles, yang dibawakan band Kirribilly, yang dimotori Ikmal Tobing Dan kawan-kawan, sebagai pengisi acara untuk menghidupkan suasana pengiring obrolan para biker yang menikmati kopi, berbagi pengalaman touring, hingga berdiskusi soal kustom dan lifestyle roda dua. Tanpa mengurangi rasa hormat, secara atmosfer, pilihan musik di siang hari terasa belum sepenuhnya menyatu dengan karakter para biker yang mendominasi acara.
Walau The Beatles memiliki sejumlah lagu upbeat yang dimainkan dengan rapi dan berenergi untuk bernostalgia, iramanya tetap terasa kurang “nendang” untuk membangun adrenalin khas dunia roda dua. Bukan soal kualitas penampilan, melainkan soal kecocokan karakter musik—di mana rock atau blues yang lebih mentah dan keras kerap lebih selaras dengan semangat jalanan dan deru mesin yang sejak pagi sudah mengisi Motovillage.
Maraknya industri kustom sepeda motor di Indonesia memang membuka ruang baru bagi kreativitas dan bisnis. Peluang itulah yang sejak awal ditangkap Umar Lubis—aktor senior yang akrab disapa Umay—dengan mendirikan Motovillage sebagai one stop place bagi para biker di Jakarta.
“Motor sekarang sudah jadi bagian dari gaya hidup, bukan sekadar alat transportasi,” ujar Umay, CEO Motovillage Jakarta. “Saya ingin Motovillage menjadi tempat di mana biker bisa menemukan semua kebutuhannya, sekaligus tempat berkumpul.”
Sesuai dengan visinya, Motovillage hadir mengusung konsep destinasi terlengkap layaknya mal mini otomotif. Di satu area, biker dapat memasang aksesori, berbelanja merchandise dan apparel, menikmati kuliner, hingga melakukan perawatan motor. Konsep ini diklaim sebagai yang pertama di Jakarta karena menggabungkan seluruh unsur kebutuhan otomotif dalam satu ekosistem.
Memasuki sore hari, nuansa perayaan perlahan bergeser. Jika pagi hingga siang didominasi komunitas motor, maka sore hingga malam giliran komunitas mobil mengambil peran. Area PapaBro Cafe, yang berada di kawasan Motovillage, menjadi pusat aktivitas.
Deretan mobil dengan berbagai aliran—dari klasik, retro, hingga modern performance—mulai mengisi area parkir. Obrolan pun berganti, dari rasio gir dan karburator menjadi suspensi, velg, dan mesin berkapasitas besar. Meski berbeda roda, semangatnya tetap sama: kecintaan pada dunia otomotif.
Malam kian hidup ketika hiburan DJ mulai mengalun di PapaBro Cafe. Dentuman musik elektronik berpadu dengan lampu-lampu temaram, menciptakan atmosfer urban yang hangat dan inklusif. Biker dan car enthusiast melebur tanpa batas, merayakan ulang tahun Motovillage dengan cara yang cair dan modern.
“Dari awal saya ingin Motovillage itu inklusif,” kata Umay. “Bukan hanya untuk motor, tapi untuk semua pecinta otomotif. Pagi sampai malam, semuanya punya ruang.”
Perayaan 7th Anniversary Motovillage pun menjadi refleksi perjalanan panjang. Tujuh tahun membangun ruang, komunitas, dan kepercayaan. Di tengah dinamika tren otomotif yang terus berubah, Motovillage tetap berdiri sebagai simpul pertemuan—tempat singgah, tempat berbagi, dan tempat pulang.
Saat malam kian larut dan musik perlahan mereda, satu hal terasa jelas: Motovillage bukan sekadar destinasi. Ia adalah perjalanan yang terus bergerak, mengikuti irama zaman, namun tetap setia pada akarnya—persaudaraan.
