by

“The Other SideOf Rafi”, Potret Perjalanan Drummer Muda Berbakat!

-Music-511 views

image

Jakarta, UrbannewsID.| Apakah menjadi musisi tergantung dengan genetik? Sebuah pertanyaan yang cukup menarik dan menggelitik, bagaimana bakat dan genetika sekarang dianggap sebagai kunci dalam kemampuan bermusik. Mungkin di benaknya melihat banyak pemusik terlahir dari keluarga pemusik juga. Sebenarnya jika mau jujur, terlahir menjadi seorang musisi atau tidak adalah bukan pilihan Anda sama sekali? Sama seperti Anda tidak bisa memilih warna kulit dan ras Anda?

Sebuah pemikiran bahwa pemusik haruslah terlahir dengan genetika seorang pemusik, masih berada di area abu-abu. Bahkan banyak pula pemusik yang menentang pernyataan genetika tersebut. Seakan kita tidak mempunyai kuasa atas masa depan kita dan pilihan hidup kita. Tapi kita lupa dan sering menafikkan bakat, pengaruh kondisi lingkungan, termasuk menempatkan kerja keras berlatih serta kecerdasan sebagai kunci kesuksesan, bukan genetik sama sekali. Menarik bukan?

imagePertanyaan tulisan diatas soal musisi tergantung dengan genetik. Saya ingin bercerita seorang drummer muda berbakat, Muhammad Ibnu Rafi, anak bungsu dari tiga bersaudara sibuah hati pasangan Bambang Wasono Basoeki Rachmat dan Indah. Jika ditelisik dari cerita sang ayah, tidak ada sedikit pun darah sebagai pemusik mengalir dalam diri Rafi, karena dirinya atau istrinya bukan seorang pemusik. Justru, kalau bicara garis keturunan malah Rafi memiliki darah tentara, karena dia cucu Mayor Jenderal (Purn) Basuki Rahmat.

Perhatian dan minat besar Rafi dalam dunia musik, khususnya drumm, terlihat sejak usia lima tahun. Walau awalnya, sang ayah maupun ibunya kurang setuju. Namun anugerah yang diberikan sang pencipta, kedua orang tuanya memberikan dukungan penuh agar Rafi mendapatkan yang terbaik dalam mengembangkan minatnya. Sejak itu, selain Rafi dibelikan drumm, dipanggil seorang instruktur untuk melatih bermain drumm yang benar. Berkat kegigihannya, saat usia 8 tahun kepiawaiannya bermain drumm ditunjukannya dari panggung ke panggung.

image

Bahkan, diusianya yang masih anak-anak itu sudah melahirkan karya solonya yang direkam di Amerika oleh Harvey Mason, seorang produser sekaligus seorang drummer jazz yang disegani di dunia. Menariknya, album yang diberi judul “Can’t Stop the Bea” ini, Rafi adalah satu-satunya drummer anak-anak dari Indonesia. Selebihnya adalah musisi dewasa yang tinggal di Amerika Serikat, diantaranya Bob James, Paul Jackson Jr., Nathan East, Paul Russo dan Vann Johnson.

Album tersebut memasukan pula lagu yang telah Popular di Indonesia, seperti Bengawan Solo (karya Gesang Martohartono) dan Burung Camar (karya Haryono Huboyo Jati dan Iwan Abdurahman). Hasil penjualan album tersebut sebagian diberikan kepada anak-anak kurang beruntung melalui Unicef. Sebagai Drummer cilik, banyak penghargaan yang Rafi peroleh sejak usianya belum lagi 10 tahun, seperti Young and Talented Drummer, Young and Talented, The 2006 Most New Upcoming Talent, hingga meraih tiga kali penghargaan MURI baik sebagai musisi termuda.

image

Tepat pada tanggal 3 Desember 2016 lalu, usia Rafi genap 20 tahun. Rafi tidak lagi menyandang drummer cilik, tapi tumbuh dan menjelma menjadi seorang musisi yang mencurahkan seluruh hidupnya kepada musik. Rafi bukan saja dikenal sebagai musisi yang menabuh drumm bersama grupnya, Rafi and the Beat, Urban Phat, Art of Tree, Her Coat of Arm, atau masuk ke formasi grup yang didirikan oleh Indra Lesmana, LLW. Beberapa proyek bermusik dengan berbagai musisi, baik di studio rekaman maupun diatas panggung.

Rafi tak pernah berhenti belajar dari membaca dan berdiskusi dengan orang-orang yang lebih tua. Bukan hanya soal musik, tapi segala hal yang menarik perhatiannya. Rafi mengapresiasi keberuntungannya dalam hidup karena selalu di kelilingnya oleh orang-orang yang mengapresiasinya dan memberikan horizon baru untuk mengembangkan dirinya sebagai musisi. Maka, ia hadir sebagai komposer dan juga produser, selain tentunya sebagai drummer masa depan yang diperhitungkan di skena musik Indonesia.

Dalam merayakan ulang tahunnya ke-20 bersama keluarga, sahabat dan juga para musisi lewat suguhan pentas musik pada Minggu (4/12) sore, bertempat di Queen Heads kawasan Kemang Jakarta. Rafi juga mengumumkan album solo ketiga berjudul “The Other Side of Rafi” yang akan dirilis pada bulan Maret 2017. Proses penggarapan album yang berjalan satu tahun ini, dan materinya ditulis oleh Rafi sendiri, merupakan potret perjalanan bermusik yang dilakoni dirinya selama 13 tahun.

The Other Side of Rafi, sebuah metamorfosis sang drummer anak-anak yang kini menjelma menjadi seorang musisi remaja. Rafi diusianya yang sekarang memang layak memiliki panggung sendiri, tampil yang terdepan dan bukan lagi berada dibelakang penabuh drumm diantara deretan para pemain musik saat berada diatas panggung. Rafi adalah aset musik nasional, dia harus dijaga, diasah, dan diarahkan menjadi bintang untuk masuk dijajaran para musisi yang pernah atau yang sedang berkibar sebagai bagaikan dari dokumentasi perjalanan musik Indonesia.|Edo (Foto Istimewa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed