SWAG Event Hadirkan Oleg Sanchabakhtiar dan Gagasan Musik Video

Urbannews | Di bawah rintik hujan dan temaram lampu Kala di Kalijaga, Blok M, Selasa (13/1/2026) malam, mengalir pelan seperti bait pembuka sebuah lagu. Denting nada, obrolan akrab, dan semangat berkarya berpadu dalam ruang intim yang sejak lama menjadi rumah bagi musisi independen. Di tempat inilah mimpi-mimpi kecil kerap menemukan panggungnya.

Star with a Gigs (SWAG) Event edisi ke-130 malam itu menjelma menjadi momen spesial. Bukan hanya karena konsistensinya sebagai ruang temu musisi lintas genre, tetapi juga karena kehadiran Oleg Sanchabakhtiar, sosok video maker yang dikenal lewat sensitivitas visualnya dalam menerjemahkan musik ke layar. Kehadiran Oleg bukan sekadar kunjungan ke sahabat lamanya, Rian ‘ncek’ Kampua—inisiator SWAG Event—melainkan membawa gagasan dan energi baru bagi para penampil.

Di hadapan para musisi, Oleg menyampaikan pandangannya tentang pentingnya memperluas kehidupan sebuah lagu. Menurutnya, karya musik tidak cukup hanya berhenti di ruang dengar, tetapi perlu hadir di ruang lihat. Musik video, bagi Oleg, adalah medium yang mampu memperkuat narasi, emosi, sekaligus identitas sebuah lagu.

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan lewat ajakan terbuka kepada para musisi SWAG untuk mengirimkan karya video musik mereka ke Indonesian Music Video Awards (IMVA), sebuah ajang apresiasi video musik yang dirancang untuk berjalan sepanjang tahun 2026 dengan penilaian rutin setiap bulan. IMVA diharapkan menjadi ruang apresiasi sekaligus pemantik semangat bagi musisi dan pembuat video musik tanah air.

Tak berhenti di situ, kolaborasi antara IMVA dan SWAG Event juga direncanakan dalam bentuk kompetisi khusus. Karya-karya musisi yang tergabung sebagai member SWAG akan diseleksi, dan yang terpilih akan mendapatkan kesempatan untuk dibuatkan video musik secara profesional. Sebuah langkah konkret yang membuka akses visual bagi musisi independen yang kerap terkendala produksi.

Malam pun beranjak larut, namun gagasan yang ditinggalkan terasa panjang gaungnya. Dari panggung kecil di Kala di Kalijaga, SWAG kembali menegaskan perannya bukan sekadar sebagai ruang tampil, melainkan sebagai simpul ekosistem kreatif. Tempat di mana lagu-lagu lahir, menemukan wajahnya, lalu bersiap melangkah lebih jauh—untuk didengar, dilihat, dan diingat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *