Urbannews | Dalam monolognya tentang “Pohon”, Sandy Canester tidak sekadar memperkenalkan sebuah karya, melainkan membuka ruang batin—sebuah ruang hening tempat kata-kata tumbuh seperti akar yang tak terlihat.
Ia memulai dengan penyangkalan yang lembut: bukan tentang alam. Bukan tentang daun, batang, atau rimbun hijau yang memayungi bumi. Namun justru dari sana, kita digiring pada makna yang lebih dalam—bahwa pohon dalam lagunya adalah metafora tentang keberadaan yang setia, tentang peran-peran sunyi yang jarang disorot namun menentukan kelangsungan hidup.
Ada kesadaran reflektif dalam kalimatnya: “semakin ke sini, kita sering lupa pada hal-hal yang diam-diam menjaga kita tetap hidup.” Ini bukan sekadar kritik sosial, melainkan pengakuan personal. Sebuah pengakuan bahwa dalam hiruk-pikuk pujian dan pengakuan, manusia kerap melupakan yang esensial—udara yang dihirup, teduh yang menaungi, atau bahkan kasih yang tak diumbar.
Pohon, dalam tafsir lirisnya, menjelma simbol keteguhan tanpa klaim. Ia tidak meminta dilihat, tidak menuntut namanya disebut. Ia memberi—tanpa pamrih, tanpa riuh. Di sini, Sandy seperti sedang merayakan bentuk cinta paling purba: memberi tanpa syarat.
Menariknya, ia menyebut lagu ini lahir dari “fase diam.” Fase ini terdengar seperti periode kontemplasi, mungkin juga kelelahan, mungkin pula jarak dari gemuruh dunia. Dalam diam itu, ia memilih mendengar ketimbang berbicara, mengamati ketimbang menjelaskan. Sebuah sikap yang jarang diambil di zaman serba cepat. Seolah-olah ia ingin mengatakan bahwa makna tidak selalu lahir dari suara paling keras, melainkan dari keheningan yang sabar.
“Pohon” lalu diposisikan sebagai pengingat—bukan pengkhotbah. Ia tidak menggurui, melainkan menemani. Tentang memberi tanpa pamrih. Tentang bertahan tanpa sorotan. Tentang tetap berdiri meski tak selalu dipuji. Nilai-nilai ini terasa seperti refleksi perjalanan seorang seniman yang memahami bahwa eksistensi tidak selalu diukur dari tepuk tangan.
Bagian paling puitis mungkin terletak pada kalimat penutupnya: “Setelah dilepas, lagu juga punya hidupnya sendiri. Seperti pohon.” Di sini, ia melepaskan kepemilikan. Lagu bukan lagi miliknya sepenuhnya. Ia akan tumbuh di hati pendengar, mungkin menjadi teduh bagi yang lelah, mungkin menjadi napas bagi yang hampir putus asa.
Dan bila suatu hari lagu itu benar-benar menemani seseorang yang sedang rapuh, maka seperti pohon yang tak pernah tahu siapa yang berteduh di bawahnya, tugasnya telah selesai—tanpa perlu disaksikan.
Monolog ini, pada akhirnya, bukan hanya tentang karya baru. Ia adalah meditasi tentang makna keberadaan. Tentang menjadi berarti tanpa harus terlihat. Tentang berdiri—hening, tegak, dan setia—di tengah dunia yang sering kali hanya memuja yang bersuara.
Foto: dok.fb. Sandy Canester
