PPFI Desak Pemerintah Terbitkan Protokol Kesehatan Untuk Sektor Perfilman

Movie316 Dilihat

IMG_20200617_181402

Urbannews Film | Sejak diberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) guna menekan penyebaran Covid-19, membuat dunia perfilman Indonesia kolaps. Ribuan insan film terdampak nafkahnya, karena tidak bisa lagi berproduksi, termasuk juga bioskop yang memutarnya.

Setelah 3 bulan lebih, akhirnya Pemerintah mengambil keputusan untuk melaksanakan tatanan normal baru atau new normal di sejumlah provinsi, kabupaten, dan kota, yang laju penyebaran virus corona sudah rendah. Dan, Jakarta pun memberlakukan PSBB Transisi.

Dimasa itulah ada yang menyambutnya dengan aktifitas syuting film dan sinetron. Namun, Ketua Umum PPFI (Pengurus Persatuan Perusahaan Film Indonesia) Deddy Mizwar Selasa (16/6) di Jakarta dalam acara konferensi pers daring, sangat menyayangkan tanpa protokol kesehatan khusus perfilman.

Pemeran Nagabonar itu mengkhawatirkan aktifitas syuting yang tidak mengikuti protokol kesehatan khusus di masa PSBB transisi akan menciptakan kluster baru penyebaran virus corona. Untuk itu, PPFI mendesak pemerintah c.q Kementerian Kesehatan segera menerbitkan protokol kesehatan khusus untuk industri perfilman.

“Dari laporan yang diterima suasana di beberapa lokasi aktifitas syuting seperti di masa normal. Mengerikan. Ini jelas bisa mengorbankan insan film yang terlibat syuting, dan secara umum bisa merusak citra dunia perfilman Indonesia yang sudah terbangun dengan baik,” katanya.

Deddy mengakui PPFI tidak mempunyai kewenangan untuk melarang. PPFI hanya bisa mengimbau, mengingatkan insan film agar menaati protokol kesehatan. Dan, ada pihak yang bisa dimintai tanggung jawab kalau sampai terjadi penularan akibat aktifitas itu. Apalagi, ada Pergub DKI yang mengatur sanksi bagi pelanggaran PSBB.

Dalam kesempatan itu, Sekjen PPFI Zairin Zain menambahkan mengenai perlu adanya protokol kesehatan perfilman. Pihaknya sudah berupaya berkomunikasi dengan berbagai pihak berwenang, namun sejauh ini belum mendapatkan tanggapan. “Tidak ada gunanya ekonomi film bangkit tapi tak bisa dinikmati pekerjanya jika terpapar virus corona,” terangnya.

Ketum PPFI mempersilahkan masyarakat perfilman kembali beraktifitas, namun hendaknya itu sudah satu kesatuan dengan mentaati protokol kesehatan yang berlaku. “Ada dua hal yang menjadi concern PPFI. Pertama, protokol kesehatan. Kedua, sudah dibolehkan pemerintah untuk beraktifitas. Apakah itu syuting film, pemutaran film di bioskop, dan lain- lain,“ ujarnya.

Deddy memahami pandangan ahli epidemi bahwa di Indonesia penyebaran virus corona masih sangat mengkhawatirkan. Atas dasar itulah, ia mendesak pemerintah turun tangan menangani sektor perfilman, sebelum jatuh banyak korban covid19. “Segerakan protokol kesehatan khusus untuk produksi dan pertunjukan film; dan berilah petunjuk kapan waktu yang tepat aktifitas insan film dimulai,“ desaknya.

/e20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *