Pop Camp si Sepatu Merah; Catatan latar rilis lagu

Music74 views

Urbannews | Yogyakarta memang gudang nya kreatifitas. Apapun bentuk kreatifitas selalu bisa diberi istilah, label atau diksi apapun sesuai selera dan keinginan mereka. Dalam skena musik di jogja kerap muncul nama-nama kelompok band yang tidak lazim yang beberapa diantaranya memiliki makna yang dalam dan filosofis (sepertinya demikian), namun ada juga yang hanya sekedar nama saja.

Berkaitan dengan eksistensi sebuah nama grup musik di Jogja, sekelompok pemuda akan  mendeklarasikan grup musik bernama Sepatu Merah sekaligus merilis single perdana mereka yang berjudul “Ketika Hari Ini” pada Senin 23 Januari 2023.

Sepatu Merah yang beranggotakan 3 personel, Bismo Adi Kuncoro selaku leader dan konseptor merangkap arranger, Arya bertindak sebagai composer digital programing dan Bagas Biantara sang penyanyi yang mengekspresikan lirik dan lagu yang ditulis oleh Yulianto Suwarno, seniman lawas yang sering berkiprah di pertunjukan dan gelaran budaya skala nasional.

Mencoba mengulas Sepatu Merah sebagai kalimat yang dipilih untuk nama suatu grup musik cukup mengusik keinginan tau saya, bagaimana mereka menjelaskan itu? Menyitir dari profil grup yang sempat di posting di medsos. Sepatu disimbol kan sebagai langkah untuk maju dan warna Merah adalah simbol semangat atau keberanian. Menariknya lagi ternyata ada disisipkan muatan ke arifan lokal dengan menentukan hari weton untuk rilis perdana lagu mereka. Senin Wage yang bermakna semangat yang ber api-api dalam menjalani apapun. Nah, jadi clear ya bahwa pemilihan nama grup musik pun ternyata mereka sudah memikirkan dan mempertimbangkan masak-masak.

Sepatu Merah sebagai bangunan atau ruang ekspresi musik juga mengambil sikap yang cukup percaya diri dalam menyusun menu kreatifitas mereka. Mereka menyebutnya aliran musik Pop Camp. Nah ini mulai semakin menarik. Musik jenis pop sering di identifikasikan sebagai musik yang “marketable” dan kadang menabrak atau bersinggungan dengan mazhab genre musik yang konservatif, seperti Jazz, Blues, Rock dan lainnya.

Walau selama lebih dari satu dekade belakangan ini genre musik semakin mengabur. Karena generasi kreatif hari ini kadang membikin genre sendiri dengan alasan mereka sendiri, sering mereka menyebut itu sebagai “gue banget” aktualisasi dari idiom “Free Will, sebagai pilihan bebas kreatifitas mereka dan tidak tertarik dengan apapun pendapat orang-orang lain terhadap karya mereka. Asik khan?, Pede abis pokmen.

Dukungan sumber daya teknologi baik dalam hal digital audio serta arus komunikasi digital yang semakin masif, mengkondisikan situasi ini menjadi ajang pertarungan kreatifitas berbasis jagad digital dengan sederet media sosial dan seabrek platform musik digital. Capaiannya adalah viewer, follower, subscriber dan berujung pada monetizing dalam strategi yang menyasar kependapatan ekonomi.

Lalu apa yang salah dengan itu? Memang tidak ada yang salah, tapi jika dikutip visi dan filosofi dari Pop Camp ini adalah; satu model berproses mencipta karya dari berfikir bersama, belajar bersama melangkah bersama, bersumber dari rasa ketulusan, keikhlasan dan kejujuran.

Proses bermusik memang sejatinya adalah proses ber kolektif entah melalui analog atau digital, keterlibatan dan peran anggota, partner dan pihak lain sangatlah dibutuhkan. Walau mungkin sekarang proses itu bisa dilakukan secara WFH (kerja dari rumah masing-masing). Namun dengan ditambahkan kata “Camp” ini menjadi sangat jelas bahwa aktifitas Camping (Kemping) pasti tidak mungkin dilakukan di rumah masing-masing.

Pop Camp adalah semangat sebuah sanggar seni, dimana proses interaksi batin dan fisik terjadi secara otentik. Pertukaran emosi antar pelaku seni menjadi begitu penting dalam memunculkan dan meng-interpretasikan suatu gagasan hingga bermuara pada suatu karya yang “masterpiece”. Rasa ketulusan, keikhlasan dan kejujuran itu memang sikap dasar berkesenian. Di jaman era tahun 80 an dulu pun muncul diksi yang berbunyi “bermusik itu harus jujur” dan sering diungkapkan oleh musisi-musisi papan atas negeri kita. Yang menarik adalah kenapa sekelompok anak muda yang mewakili generasi hari ini mendadak memunculkan kembali semangat dan sikap tersebut?

Untuk mencoba memahami hal itu saya mencoba menyimak trailer karya perdana mereka yang berjudul “Ketika Hari Ini” syair tersebut di tulis oleh seorang seniman yang memulai proses kesenian nya di tahun 90 an, Yulianto Suwarno atau lebih dikenal dengan nama Kenyut Kubrow.

Lirik nya demikian :

“Bila tiba waktumu ada dan tolonglah kita bicara, ada yang harus kita putuskan, putuskan

tak ada waktu lagi merasakan rindu yang datangku tak kuat ku merasakan, ada yang harus kita putuskan, putuskan

kamu dan aku lagi

andai hari ini perjumpaan bisa kau lakukanbahagiamu aku yang tauandai hari ini semua itu bisa kau lakukan

bahagiaku kamu yang tau”

Sepatu merah mengawali intro musik nya dengan kesederhanaan kord dan ketukan piano serta dibayangi petikan gitar akustik nya yang mampu membangun nuansa yang dramatis. Latar suara insrumen tiup (sejenis flute) membawa kita dalam imajinasi nuansa tempo dulu dimana era musik keroncong pernah mewarnai khasanah musik negeri kita.

Dari secuil intro itu maka saya mencoba menyelami alam pikir para musisinya. Cara mereka menginterpretasikan syair-syair lagu dan sepertinya mereka berusaha menguak latar kisah dari imajinasi si penulis lagu. Ada semacam keintiman emosi diantara mereka, yang pasti ada jejak-jejak panjang proses kreatif si penulis lagu yang berhasil ditangkap oleh seorang Bismo sang aranger.

Tema lagu tetap bicara dan mengungkapkan persoalan cinta diantara sepasang kekasih. Menterjemahkan rasa rindu dalam komposisi lagu untuk menggambarkan hal tersebut agar sampai ketelinga pendengar memang dibutuhkan kejujuran dan keikhlasan dari seluruh personel yang terlibat.

Proses pengungkapan itu memang bisa didapat melalui semacam Camp atau ruang interaksi konvensional yang cenderung intim hingga emosi dan chemistry nya bisa ter-kalibrasi dengan pas atau klik.

Sepertinya itu yang hendak di sampaikan dan dipresentasikan oleh si Sepatu Merah bahwa proses berkarya itu memang harus “human being” atau manusiawi dan natural.

Segala perangkat dan ornament canggih modern hanyalah alat dan perkakas semata untuk menunjang dan mendorong gagasan kita agar lebih optimal. Dari gaya musikal Sepatu Merah, nampaknya mereka ingin menyodorkan suatu trend musik dengan kedewasaan berpikir kreatif dan lebih “Well Educated” agar bisa diterima oleh masyarakat hari ini, beserta sekian banyaknya karya-karya lagu yang hadir di jagad digital.

Bravo! Sepatu Merah semoga karya kalian bisa memberi wacana dan khasanah baru bagi dunia musik di Jogja pada khususnya.Akhir kata ijinkan saya mengutip quotes dari seorang penulis terkenal yang bilang begini “In order to write about life first you must live it.” [Ernest Hemingway]

Untuk menulis tentang kehidupan, terlebih dahulu anda harus menjalaninya. Begitu pula dengan musik.

Tabik, salam budaya

Jogja Senin Wage 23 Januari 2023 (Heri Machan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *