Urbannews | Ada malam-malam tertentu ketika musik berhenti menjadi hiburan, dan memilih menjadi pengalaman batin. Sabtu (17/1/2026) di Kopi&Ti Deheng House, Kemang, adalah salah satunya. Gugun Blues Shelter dan Dewa Budjana tidak datang untuk memamerkan kepiawaian, melainkan membuka ruang: ruang dengar, ruang tafsir, ruang sunyi di dalam diri para pencinta musik sejati.
Blues yang dibawa Gugun adalah blues yang telah kenyang perjalanan. Ia tidak meraung untuk minta perhatian, tetapi berbicara apa adanya. Nada-nadanya terasa seperti tanah: kokoh, berdebu, dan menyimpan jejak langkah. Gugun memahami blues bukan sebagai gaya, melainkan sikap. “Blues itu soal kejujuran,” katanya. “Kalau sudah jujur, dia akan menemukan jalannya sendiri.” Maka ketika blues itu dipertemukan dengan gitar Dewa Budjana, yang terjadi bukan benturan, melainkan pertemuan takdir bunyi.
Budjana datang dengan kesunyian yang aktif. Petikan gitarnya tidak mengisi ruang, tetapi membuka ruang. Ia membiarkan setiap nada punya umur, membiarkan jeda berbicara sama lantangnya dengan bunyi. “Saya mendengarkan dulu,” ujarnya. “Lalu gitar saya merespons.” Di situlah spiritualitas hadir bukan sebagai simbol, melainkan sebagai sikap mendengar sepenuh hati.
Dalam pertemuan ini, blues tidak kehilangan akarnya, dan spiritualitas tidak terbang terlalu tinggi. Keduanya bercumbu dalam rima suara hati masing-masing—kadang saling mendekat, kadang memberi jarak—seperti dua kesadaran yang saling menghormati batas. Tidak ada dominasi. Tidak ada keinginan untuk menang. Yang ada hanyalah kepercayaan pada proses.
Dos Hermanos memainkan peran penting sebagai penjahit waktu. Ritme mereka menjadi napas yang menjaga musik tetap berjalan tanpa tergesa. Mereka memastikan bahwa dialog gitar ini tidak jatuh ke dalam kekacauan atau pamer kecakapan. Dalam diam mereka, musik justru menemukan keseimbangannya.
Yang menarik, perjumpaan ini tidak selesai di atas panggung. Ia berpindah ke ruang batin penonton. Setiap orang membawa pulang tafsirnya sendiri. Seorang penonton, Edo, yang duduk menepi di sudut belakang dalam remang cahaya, merangkumnya dengan sederhana: “Saya datang untuk mendengar blues, tapi pulang seperti habis diajak berdialog dengan diri sendiri.” Kalimat itu terasa tepat. Musik malam itu bekerja di wilayah personal, di tempat di mana ingatan, luka, dan harapan saling menyapa.
Kopi&Ti Deheng House menjelma ruang ritual kecil. Tanpa jarak antara musisi dan penonton, tanpa sekat antara bunyi dan rasa. Ketika nada terakhir mengendap, keheningan yang muncul bukan kekosongan, melainkan kepenuhan. Seolah musik telah melakukan tugas purbanya: mengingatkan manusia pada dirinya sendiri.
Dalam dunia yang kian bising oleh kecepatan dan sensasi, Gugun Blues Shelter feat Dewa Budjana—bersama Dos Hermanos—menghadirkan alternatif: musik sebagai perjumpaan batin. Sebuah pengalaman yang tidak menuntut sorak, tetapi meninggalkan gema panjang di dalam diri.
Sampai jumpa di episode berikutnya!




