Once Mekel Bicara Akar Budaya dan Masa Depan Bangsa

Urbannews | Di sebuah siang yang teduh di Jakarta, Once Mekel duduk tenang seolah baru keluar dari ruang rekaman, bukan dari ruang rapat politik. Rambutnya yang selalu rapi, suara tenor yang khas, dan mata yang menyimpan ketegasan lembut membuat kehadirannya tidak pernah kehilangan aura seorang seniman. Hanya saja, kini ia membawa beban lain: amanah sebagai anggota DPR RI 2024–2029 dari PDI Perjuangan.

Di balik meja kerjanya, terselip buku-buku filsafat, riset hak cipta, hingga laporan industri kreatif. “Musik mengajarkan saya tentang harmoni, dan politik menantang saya untuk memperjuangkannya,” ujarnya membuka percakapan.

Dan pada titik itulah, wawancara ini bergerak dari sekadar bincang seorang musisi—menjadi permenungan panjang tentang budaya, identitas, dan arah strategis bangsa.

Tanpa akar, kita tidak akan tahu ke mana harus pulang

Once mengingat sebuah pepatah lama yang sering ia ulang: “Tanpa akar, pohon akan keropos. Tanpa budaya, bangsa akan rapuh.”

Ia menyandarkan tubuh, menarik napas, lalu melanjutkan pelan, “Kita terlalu sering mengejar masa depan, tapi lupa membawa serta rumah tempat kita berangkat. Budaya itu rumahnya.”

Menurutnya, budaya adalah fondasi tak tampak yang membentuk cara bangsa berpikir, merasa, dan berperilaku. Dari bahasa daerah hingga ritual kecil dalam keluarga, semuanya adalah serpihan identitas yang—jika disatukan—menjadi benteng menghadapi derasnya arus globalisasi.

“Kebudayaan bukan nostalgia. Ia adalah energi. Ia membuat kita tahu siapa kita, dan apa yang ingin kita pertahankan,” katanya.

Indonesia, rumah besar yang perlu disulam terus-menerus

Di tengah masyarakat yang majemuk, budaya bekerja sebagai benang halus yang merajut perbedaan. Once melihat kohesi sosial yang lahir dari budaya sebagai modal besar bangsa ini.

“Keberagaman adalah kekayaan, tapi tanpa narasi bersama, ia bisa menjadi jurang. Di situlah budaya bekerja — merawat rasa memiliki,” jelasnya.

Ia menyebut nilai gotong royong sebagai contoh nyata: konsep sederhana yang menjadi jantung etos Indonesia. “Itu bukan slogan. Itu DNA kita,” katanya sambil menekankan setiap kata.

Pembangunan yang berjiwa: “Angka penting, tapi manusia lebih penting.”

Ketika berbicara soal pembangunan, Once tampak lebih serius. Ia mengkritik cara negara melihat kemajuan hanya lewat statistik.

“Pembangunan yang tak mempedulikan budaya ibarat bangunan tinggi tanpa pondasi. Mau kejar angka berapa pun, kita akan goyah,” tuturnya.

Ia berpendapat bahwa nilai budaya harus disambungkan ke kebijakan publik—entah dalam pendidikan, regulasi kreatif, hingga arah perekonomian.

“Kreativitas yang lahir dari budaya itu tidak pernah habis. Itu sumber daya terbarukan yang paling setia,” katanya sambil tersenyum.

Soft Power: ketika musik, kuliner, dan cerita menjadi wajah bangsa

Sebagai musisi yang pernah tampil di berbagai negara, Once memahami betul kekuatan soft power. Ia menyebut contoh Jepang, Korea Selatan, dan Prancis—negara yang menjadikan budaya sebagai strategi diplomasi.

“Korea bisa mengutus K-Pop ke dunia, Jepang mengirim anime, Prancis mengirim dapur mereka. Kita? Kita punya semuanya, hanya belum dikelola sebagai strategi,” katanya sambil mengangkat dua tangan.

Menurutnya, Indonesia memiliki modal yang tak ternilai: ratusan tradisi, ribuan bahasa, jutaan cerita. “Tinggal bagaimana negara menempatkannya sebagai kebijakan, bukan hanya seremoni,” ujarnya.

Dari panggung konser ke panggung legislasi

Masuknya Once ke Senayan bukan sekadar perjalanan karier, tetapi kelanjutan dari suara yang sudah lama ia bawa: perjuangan untuk para pekerja budaya.

“Banyak seniman yang berjuang dalam senyap. Mereka mencipta untuk bangsa, tapi sering jadi yang paling rentan. Saya ingin itu berubah lewat kebijakan,” ucapnya mantap.

Ia menyebut beberapa isu yang menjadi fokusnya:

• revisi aturan hak cipta,
• perlindungan karya di era teknologi dan kecerdasan buatan,
• revitalisasi pendidikan seni dan budaya,
• hingga tata kelola industri kreatif agar lebih adil dan transparan.

“Ini bukan soal musisi saja. Ini soal seluruh ekosistem budaya yang memberi warna pada kehidupan bangsa,” tambahnya.

Modernisasi dan ancaman akar yang terkikis

Once tidak menutup mata terhadap risiko yang mengintai kebudayaan: modernisasi yang serba cepat, budaya global yang masuk tanpa filter, hingga kesenjangan ekonomi yang membuat seni tradisi hidup sekadarnya.

“Kita boleh modern, tapi jangan tercerabut. Budaya butuh ruang untuk bernafas dan berkembang, bukan sekadar dipajang di festival,” katanya dengan nada prihatin.

Menurutnya, bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu memfilter inovasi tanpa kehilangan jati diri. “Itulah fungsi kompas budaya,” tegasnya.

Menuju masa depan yang berakar

Ketika percakapan hampir usai, Once menatap jauh seolah sedang melihat Indonesia puluhan tahun ke depan.

“Saya percaya masa depan bangsa ini bisa sangat cerah — asal kita tidak kehilangan akar. Budaya bukan museum. Ia hidup, bernapas, dan tumbuh jika dirawat,” katanya pelan namun tegas.

Ia merapikan map berisi draft regulasi industri kreatif, sebelum mengakhiri dengan satu kalimat yang terasa seperti penutup lagu:

“Kalau para pelaku seni ikut menyusun arah bangsa, maka kita akan melangkah bukan hanya lebih cepat — tetapi lebih berjiwa.”

Dalam keheningan setelahnya, terasa bahwa perjuangan Once bukan sekadar tentang undang-undang. Ia tengah mengajak bangsa ini mendengarkan kembali suara yang sering tenggelam: suara budaya, suara akar, suara diri kita sendiri.

Foto: dok.once mekel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *