Konser Amal 100 Musisi Heal Sumatra: Musik Bergerak Lebih Cepat dari Sirene Negara

Urbannews | Konser amal 100 Musisi Heal Sumatra hadir sebagai ruang bersama yang menghubungkan empati, seni, dan kepedulian sosial dalam satu getaran yang sama. 100 musisi Tanah Air turut ambil bagian dengan menyumbangkan karya, waktu, dan tenaga. Kehadiran mereka sepenuhnya untuk mendukung pemulihan korban banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Barat, serta Sumatra Utara.

Tanpa menerima bayaran, para musisi tampil dengan semangat gotong royong yang kuat, menempatkan kepedulian kemanusiaan sebagai tujuan utama di atas kepentingan pribadi maupun profesional. Dan, panggung perdana rangkaian konser ini digelar di T-SPACE Bintaro pada 7 Desember 2025, banyak dihadiri korporasi dan BUMN.

100 Musisi Terus Lanjut Bergerak

Selasa, 16 Desember 2025, Avenue of the Star di Lippo Mall Kemang Village, sebagai acara kedua Konser Amal 100 Musisi Heal Sumatra, sejak siang telah dipenuhi orang-orang yang datang dengan niat yang sama. Tidak ada antrean panjang yang gaduh, tidak ada teriakan khas konser hiburan. Yang tampak justru langkah-langkah pelan, wajah-wajah tenang, dan pilihan untuk tinggal lebih lama.

Pusat perbelanjaan itu perlahan berubah fungsi, dari ruang konsumsi menjadi ruang kebersamaan, dari tempat lalu-lalang menjadi tempat berhenti. Hingga matahari tenggelam dan lampu-lampu mal menyala, ribuan penonton tetap berada di area konser, berdiri, duduk di lantai, bersandar di pagar, dan memilih tidak beranjak.

Panggung berdiri sederhana dengan latar bertuliskan Charity Heal for Sumatra – 100 Musisi. Tidak ada permainan visual yang berlebihan. Musik dimulai tanpa dentuman. Lagu-lagu mengalir pelan, seolah memberi waktu bagi penonton untuk menyusun perasaan. Tepuk tangan hadir tidak riuh, tetapi konsisten—menjadi penanda bahwa malam ini bukan tentang hiburan semata.

Sejumlah musisi tampil bergantian, di antaranya Andien, Vina Panduwinata, Yuni Sara, Titi Dj, King Nassar, Iis Dahlia, Juicy Luicy, David Bayu, Afgan, Cakra Khan, Giring, hingga Once feat. Gugun serta Fajar Satritama, dan banyak lagi. Di atas panggung, mereka tidak berdiri sebagai bintang. Beberapa memejamkan mata saat bernyanyi, beberapa tersenyum kecil ketika penonton ikut bersenandung. Sesekali, musisi dan penonton saling menyapa dengan anggukan, menciptakan perasaan setara—tidak ada jarak yang tegas antara panggung dan kerumunan.

Konser ini merupakan bagian dari gerakan 100 Musisi, sebuah inisiatif yang digagas oleh Kadri Mohamad, Irma Hutabarat, dan Tompi, dengan dukungan berbagai komunitas, termasuk ILUNI UI, dan DSS Music Studio. Gerakan ini lahir dari dorongan untuk bergerak cepat, tanpa rapat panjang dan tanpa birokrasi yang berlapis.

“Kami tidak menunggu prosedur,” ujar Kadri Mohamad dari atas panggung. “Kami bergerak karena merasa harus hadir.” ucapannya yang didampingi Irma Hutabarat, disambut tepuk tangan panjang—tidak meledak, tetapi penuh makna.

Di antara penonton, kebahagiaan hadir dengan cara yang tenang. Wajah-wajah asing saling tersenyum dan saling mengangguk. Pada bagian lagu tertentu, suara penonton ikut mengalir pelan, nyaris berbisik. Beberapa orang tampak menyeka mata, sementara yang lain menarik napas panjang, seperti menemukan kelegaan di tengah kerumunan yang padat namun hangat.

Seorang penonton berkata lirih kepada orang di sampingnya, yang baru ia kenal malam itu, “Rasanya seperti berdiri bareng sebagai satu bangsa.” Kalimat itu terasa sederhana, tetapi cukup untuk menjelaskan suasana yang mengikat malam tersebut.

Waktu berjalan tanpa terasa. Sore bergeser ke malam. Namun tidak terlihat arus pulang lebih awal. Justru ketika malam semakin larut, area Avenue of the Star terasa semakin rapat. Tepuk tangan kerap muncul di momen-momen sunyi—bukan karena lagu berakhir, melainkan karena emosi terasa penuh dan ingin dilepaskan.

Malam itu, di tengah pusat perbelanjaan Jakarta Selatan, musik tidak menjadi pelarian. Ia menjadi ruang pertemuan. Tempat empati, kebahagiaan, dan solidaritas antar anak bangsa hadir dan dirasakan bersama. Tanpa banyak kata, konser ini memperlihatkan bahwa ketika niat telah menyala, musik bisa bergerak lebih cepat dari apa pun—bahkan sebelum sirene negara terdengar.

Ketika lagu terakhir usai dan lampu panggung meredup, tepuk tangan panjang mengalir. Tidak ada teriakan meminta tambahan lagu. Tidak ada euforia penutup. Beberapa penonton tetap berdiri sejenak, membiarkan hening bekerja sebelum perlahan meninggalkan area. Nada terakhir berhenti, tetapi rasa kebersamaan itu tinggal lebih lama, menjadi penanda bahwa di malam itu, musik telah menjalankan perannya yang paling sunyi dan paling kuat: menyatukan.

Menurut Kadri Mohamad, total donasi acara pertama dan kedua, kurang lebih Rp 17,1 M. “Acara kedua di Avenue of the Star di Lippo Mall Kemang Village, lebih kepada kampanye galang dana yang sampai sekarang masih berlangsung. Kita akan update dan tunggu hasil akhir yang akan kita peroleh,” pungkasnya.

Foto: dok.IG Gusti Hendy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *