Urbannews | Ada kalanya kota terasa terlalu bising untuk sekadar didengarkan. Klakson bersahut, langkah tergesa, dan waktu seolah berlari tanpa jeda. Namun di satu sudut Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, terdapat sebuah ruang yang seperti menurunkan tempo kehidupan—mengajak siapa pun yang datang untuk bernapas lebih pelan.
Namanya Komune Place, Resto & Coffee Shop beralamat di TB Simatupang No.1, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dari luar, ia mungkin tampak bersahaja. Namun begitu melangkah masuk, suasananya segera berubah: rindang pepohonan, meja-meja kayu tertata santai, dan semilir angin yang membawa aroma kopi serta rempah kuah rawon.
Sesuai namanya, Komune Place memang dirancang sebagai ruang bertemu—sebuah “komune” bagi ragam komunitas, terutama para penikmat dan pelaku musik. Tempat ini adalah gagasan dua sahabat, Restu Fortuna dan Evan Sanjaya, yang ingin menghadirkan ruang santai di tengah kota, tanpa kehilangan sentuhan alam.
“Kami ingin membuat tempat ngumpul yang nyaman, santai, sambil menikmati kuliner di area yang rimbun pepohonan,” ujar Restu. Lokasinya yang berada di kawasan Pusat Pengembangan Benih dan Proteksi Tanaman DKI Jakarta membuat suasana hijau bukan sekadar konsep, melainkan kenyataan.
Rasa-Rasa Nusantara di Lantai Dasar
Bangunan dua lantai Komune Place membagi pengalaman bersantap secara jelas. Di lantai dasar, restoran bergaya buffet menyajikan kuliner Indonesia otentik. Menu yang dihadirkan bukan sekadar pengisi daftar, melainkan representasi lintas daerah.
Rawon dengan kuah hitam pekat dan aroma kluwek yang dalam. Coto Makassar yang kaya rempah, berpadu potongan daging empuk dan ketupat. Soto Madura dengan kuah kuning hangat yang mengingatkan pada dapur rumah nenek. Hingga Mie Yamin dengan cita rasa manis-gurih yang akrab di lidah.
Konsep buffet memberi kebebasan bagi pengunjung untuk memilih sesuai selera. Siang hari, suasana terasa hangat oleh obrolan santai pekerja kantoran sekitar. Aroma kuah panas berpadu dengan suara sendok beradu piring—sebuah simfoni kecil yang akrab dan membumi.
Kopi, Angin Sore, dan Denting Musik
Naik ke lantai dua, atmosfer berubah lebih ringan. Coffee shop Komune Place hadir dengan sajian kopi nusantara dan aneka camilan. Ruangannya semi-terbuka, membiarkan cahaya alami masuk leluasa. Di sore hari, tempat ini menjadi titik favorit untuk menikmati secangkir kopi sambil memandangi taman di bawah.
Namun daya tarik utama justru berada di area taman. Sederet meja dan kursi tertata di ruang terbuka, dikelilingi pepohonan yang membuat udara terasa lebih sejuk dibanding hiruk pikuk jalan raya di depan. Di sinilah live music kerap digelar—akustik sederhana, vokal yang jujur, dan tepuk tangan spontan dari penonton yang duduk tak jauh dari panggung.
Musik di Komune Place bukan sekadar hiburan tambahan, melainkan napas dari konsepnya. Tempat ini memang dibayangkan sebagai rumah bagi komunitas—ruang untuk berbagi karya, gagasan, dan cerita.
Lebih dari Sekadar Tempat Makan
Menurut Restu, Komune Place juga terbuka untuk berbagai acara: gathering komunitas, ulang tahun, hingga press conference. Fleksibilitas ruang menjadi keunggulan tersendiri. Ke depan, mereka bahkan berencana menyiapkan live house dengan kapasitas lebih besar untuk showcase musik.
Di tengah kota yang bergerak cepat, Komune Place menawarkan sesuatu yang sering terlewat: waktu untuk duduk lebih lama. Menyeruput kopi tanpa tergesa. Menyendok rawon sambil berbagi cerita. Atau sekadar menikmati lagu yang mengalun pelan di bawah langit Jakarta yang mulai temaram.
Dan ketika malam perlahan turun, lampu-lampu taman menyala temaram, menyisakan percakapan yang belum selesai dan tawa yang masih menggantung di udara. Komune Place bukan hanya tentang makanan atau kopi. Ia adalah ruang temu—tempat rasa, nada, dan kenangan saling bersilang, lalu tinggal lebih lama dari yang kita rencanakan. Sebuah komune kecil di sudut selatan ibu kota, tempat kota belajar untuk beristirahat sejenak.
