Urbannews | Perayaan 37 tahun KLa Project di Balai Sarbini, Sabtu 7 Februari 2026, tidak diposisikan sebagai pesta nostalgia yang menoleh ke belakang dengan gegap gempita. Konser bertajuk Lux Nova ini justru hadir sebagai pernyataan sikap: bahwa perjalanan panjang sebuah band tidak selalu harus dirayakan dengan kebisingan, melainkan dengan kesadaran akan waktu, ingatan, dan perubahan. Seperti makna yang disampaikan Adi Adrian, Lux Nova menjadi simbol titik awal—terbitnya cahaya baru setelah malam yang panjang, penanda fase transformasi yang dijalani KLa Project hari ini.
Sejak awal, konser ini menegaskan pilihannya pada pendekatan mendengar. “Tinggal Sehari” membuka malam dengan nuansa personal yang sunyi, seolah mengajak penonton masuk ke ruang batin masing-masing. Alur lagu kemudian mengalir tanpa urgensi berlebihan melalui “Datanglah Pesona” dan “Menjemput Impian”. Tata panggung yang bersih dan pencahayaan memperkuat kesan bahwa musiklah pusat perhatian. Tidak ada upaya membangun euforia instan; yang ada justru kesabaran—sebuah kualitas yang kian jarang ditemui dalam lanskap konser populer hari ini.
Memasuki bagian romantik melalui “Sayap Rindu”, “Bunga Tidur”, dan “Gerimis”, KLa Project memperlihatkan bagaimana lagu-lagu lama mereka tidak berhenti pada fungsi nostalgia. Lagu-lagu ini bekerja seperti arsip emosional yang hidup, berubah seiring usia pendengarnya. Di titik ini, vokal Katon Bagaskara terdengar lebih membumi: tidak lagi berambisi menaklukkan nada tinggi, tetapi memilih menyampaikan makna. Lirik-lirik yang dulu dirayakan sebagai ungkapan cinta kini terdengar seperti catatan reflektif seseorang yang telah lama berdamai dengan waktu.
“Aku suka karena nggak lebay. Rasanya kayak diajak ngobrol, bukan disuruh terkesan,” kata Dimas (29), penonton yang datang bersama pasangannya.
Bagian tengah konser menjadi ruang kontemplasi kolektif. “Hasrat Bathin”, “Romansa”, dan “Kidung Mesra” dimainkan dengan penekanan pada atmosfer, bukan dramatika. Puncaknya hadir saat “Indonesia Pusaka” dirangkai dengan “Terpuruk”—sebuah pertemuan antara identitas kebangsaan dan kegelisahan personal. Dalam redup cahaya dan minim ornamen, keheningan penonton justru menjadi elemen musikal tersendiri. Di sini, konser tidak lagi bekerja sebagai tontonan, melainkan sebagai pengalaman bersama yang hening dan intim.
Setelah mencapai titik refleksi terdalam, konser bergerak ke wilayah yang lebih hangat dan personal. Lagu-lagu seperti “Terkenang”, “Semoga”, hingga “Meski Telah Jauh” memberi ruang bagi ingatan untuk muncul tanpa dipaksa. Sebuah lagu baru diselipkan tanpa pengumuman besar—sebuah gestur yang terasa konsisten dengan semangat Lux Nova: melanjutkan perjalanan tanpa perlu menegaskan batas antara masa lalu dan masa depan.
Penutup malam melalui “Yogyakarta” menjelma menjadi momen komunal. Lagu itu tidak lagi sekadar tentang sebuah kota, melainkan tentang rindu yang menetap dan perjalanan hidup yang tidak pernah benar-benar pulang ke titik semula. Suara penonton yang bernyanyi bersama—meski tak selalu rapi—menjadi bukti bahwa relasi antara KLa Project dan pendengarnya dibangun lewat waktu, bukan sensasi sesaat.
Lagu itu tidak lagi sekadar tentang sebuah kota, melainkan tentang rindu yang menetap dan ingatan yang tidak pernah benar-benar pulang. “Dulu dengarnya pas masih kuliah. Sekarang kok rasanya malah lebih dalam,” ujar Rina (47), salah satu penonton, seusai lagu itu usai.
Secara musikal, konser ini menegaskan kematangan KLa Project sebagai sebuah unit. Lilo bermain ekonomis dan presisi, Adi Adrian menata bunyi dengan ketelitian khasnya, sementara Katon berdiri sebagai pencerita yang menyadari bahwa usia tidak mengurangi relevansi, justru memperdalam makna. Perayaan 37 tahun ini bukan tentang bertahan hidup di tengah perubahan zaman, melainkan tentang bagaimana sebuah band memilih tumbuh bersama pendengarnya.
Di tengah lanskap musik yang bergerak cepat dan sering kali dangkal, KLa Project melalui Lux Nova menawarkan sesuatu yang semakin langka: kesabaran untuk mendengar dan keberanian untuk menua dengan jujur. Sebuah pengingat bahwa musik, ketika diberi waktu, dapat menjadi ruang refleksi—bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana kita melangkah ke hari esok.
Foto: Dok.Miss Ade




