by

Ketika Musisi Merasa Hebat; Catatan Tepi Sawah di Balkonjazz untuk Pamungkas

-Music-20 views

Urbannews | Entah kenapa juga mengapa saya ingin menulis catatan yang tercecer dari tepian sawah panggung Balkonjazz Festival 2022 yang dihelat Sinergi Live dan Bhiva Indonesia di Gasblock Balkondes PGN Karangrejo, Borobudur, Magelang. Malam itu, Sabtu (14/5/2022), menjadi malam paling ditunggu bagi mereka yang hadir disana. Termasuk kami, pekerja teks komersial alias jurnalis musik dari ragam media, ikut menjadi saksi keseruan Balkonjazz dengan merekam dan mencatat setiap moment spesial mulai siang hingga usai acara.

Kami_jurnalis peliput konser musik baik dari Yogyakarta dan daerah sekitarnya maupun dari Jakarta berada di joglo yang menghadap panggung, tempat berkumpul kami_semua jurnalis atau biasa disebut press room, sekaligus juga area keluar masuknya artis penampil. Kehadiran kami tidak sekedar mencatat, merekam peristiwa yang terjadi saat itu, kemudian mewartakannya. Tapi, kami mencoba menggali apa yang dirasakan semua artis penampil setelah mereka usai manggung, tersebab sekian purnama tidak tampil off air.

Dibantu teman pantia Balkonjazz, para artis mulai dari lokal hero Megantoro, Coldiac dari Malang, Juicy Luicy dari Bandung, atau Raissa Anggiani, Aditya Sofyan, Dere, juga Rendy Pandugo, secara bergantian mampir ke press room bertemu rekan media untuk berbagi cerita suasana batin mereka usai manggung menghibur penonton atau juga penggemarnya. Bahkan, sekelas hits maker Yovie Widiyanto, bersedia cerita mulai dari persiapan Kahitna juga setelah tampil hanya lewat whatsapp atau telpon langsung.

Tapi sayang, dari semua para penampil di Balkonjazz Festival 2022, ada satu musisi yang enggan diwawancara, bahkan sekedar say hello dengan awak media pun tidak, karena menurut panitia dia langsung ngacir. Awalnya saya positif thinking, aah mungkin dia capek atau buru-buru ada urusan lain. Namun, menurut teman-teman jurnalis muda biasa meliput musik, Pamungkas orang yang sulit atau tak mau diwawancara. Entah kenapa dan mengapa. Ya sudalah!.

Saya jadi teringat ucapan seorang jurnalis musik senior yang sudah tiada, saat kami ngobrol santai dikedai kopi. Menurutnya, banyak musisi yang ketika sudah di atas, tiba-tiba merasa tidak perlu siapapun. Mereka merasa, bisa membuat sesuatu yang disukai penggemarnya. Banyak musisi yang benar-benar merasa “hebat” padahal mereka sebenarnya tidak bisa apa-apa. Banyak yang lupa, ketika mereka mulai merangkak sebagai musisi. Mungkin mereka juga lupa, pernah menjadi bayi merah yang harus ditolong untuk sekadar minum susu atau kencing.

Siapa yang berani membantah kita dilahirkan dalam wujud bayi merah? Siapa yang menyangkal ketika bayi, kita adalah manusia lemah, tak berdaya dan selalu bergantung pada orang lain? Tak ada kesombongan, belagu, sok-sokan atau suka pamer. Mau minta susu, harus nangis. Minta makan, nangis. Tak ada yang bisa dilakukan tanpa menangis. Semuanya tergantung pada orang lain. Semuanya terserah orang yang lebih dewasa. Benar-benar tak bisa berbuat apa-apa.

Sayangnya ketika dewasa, semua kerendahhatian, semua ketidakmampuan, semua ketergantungan, seringkali lenyap. Kita merasa bisa melakukan semuanya dengan sempurna bahkan mungkin tanpa bantuan orang lain. Kita tiba-tiba menjadi berdaya, merasa tegar dan tak perlu harus menangis ketika menginginkan sesuatu. Semuanya bisa teratasi [sendiri].

Tiba-tiba kita lupa, bahwa kita pernah menjadi bayi yang lemah. Kita lupa bahwa kita pernah ditolong orang lain untuk minum susu. Kita lalai bahwa kita pernah bergantung pada orang lain. Kita benar-benar menjadi orang yang [merasa] luarbiasa mampunya.

Dan ketika terjatuh, kita baru teringat pernah menjadi bayi merah yang lucu. Ketika kita “disengsarakan” orang lain, kita baru sadar pernah bergantung pada orang lain. Terlalu banyak yang kita lupa, sehingga belajar menjadi bayi merah ketika kita sudah [merasa] dewasa pun terabaikan. Ataukah kita lahir langsung menjadi dewasa sehingga tak mengenal arti kelemahan dan ketidakberdayaan? Tetap mau sok-sokan paling hebat?

Jadi hati-hatilah terkena syndrome sok ngartis. Mengapa? Karena kalau sudah terjebak pada sindrom ini, biasanya mereka maunya menjadi orang yang dilayani dan mulai punya keinginan yang nek-neko. Selain persoalan attitude, persoalan star syndrome yang menggangu pertemanan. Percaya atau tidak, ketika sudah dibaptis menjadi “artis” dan kemudian punya penggemar, mereka dituntut untuk tampil rendah hati dan bersahabat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.