Industri Musik Indonesia, Cerah atau Lelah

Music165 Dilihat

Urbannews | Kita_saya dan anda mungkin sepakat, bahwa “musik adalah senjata terhebat yang pernah diciptakan manusia.” Bagaimana tidak. Karena musik merupakan unsur penting untuk membantu kita hidup, serta memenuhi kehidupan dan mencapai solusi holistik berkelanjutan terhadap tantangan kemanusiaan.

Pernahkah kita, apalagi yang mengaku pelaku, pecinta maupun penikmat musik [rasakan], bahwa musik dalam tataran intrinsic yakni kehormatan atau keberanian sebenarnya untuk memberikan kekuatan. Mengapa?. Karena, musik merupakan unsur penting dalam menggerakkan dan juga mengembangkan diri dalam tatanan global.

Berapa pentingnya musik bagi kehidupan kita, baik secara pribadi, bermasyarakat juga berbangsa. Lihat saja, simbol sebuah negara dimuka bumi ini, termasuk Indonesia, selain bendera adalah lagu kebangsaan (nasional anthem). Lagu kebangsaan dapat membentuk identitas nasional suatu negara dan dapat digunakan sebagai ekspresi dalam menunjukkan nasionalisme dan patriotisme.

Musik menjadi seni yang mewarnai kehidupan manusia. Tanpa musik, dunia akan sepi, hampa dan terasa monotone, karena musik dapat mencairkan suasana manusia, merelaksasikan hati dan pikiran serta mampu memberikan makna untuk membangkitkan gairah dan semangat hidup dan lebih memaknai hidup. Tidak Salah, jika pada lirikasi lagu kebangsaan “Indonesia Raya” ada kalimat, bangulah jiwanya// bangunlah badannya. Artinya, membangun jiwa lebih dulu setelah itu badannya.

Para filosof juga menyebut musik sebagai sarana yang dapat mempengaruhi jiwa manusia. Pendapat mereka, bahwa jiwa (soul) bersifat immateri (metafisik) yang dapat dikembangkan melalui sarana-sarana pemicu pikiran dan perasaan. Sebagaimana disebutkan oleh Marsilio Ficino, bahwa musik serius (the serious music) dapat menjaga dan memperbaiki harmoni pada bagian-bagian jiwa, sedangkan pengobatan medis dapat memperbaiki harmoni pada bagian-bagian tubuh.

Tapi sayangnya, musik di negeri tercinta, Indonesia ditempatkan sebagai unsur yang kecil, bukan sebuah komuditas yang sexy serta menguntungkan. Cilakanya lagi, musik tak dianggap produk kebudayaan. Padahal, musik mempengaruhi kebudayaan. Musik adalah cerminan dari nilai-nilai dan sejarah suatu masyarakat. Gaya musik, instrumen yang digunakan, dan liriknya mencerminkan asal-usul dan identitas budaya

Jangan terjebak para ruang nostalgia, sehingga lupa melahirkan karya yang bisa jadi ciri budaya.

Secara etimologis, budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Tentu tidak secara harafiah mentah-mentah kita mengadopsi penjelasan tersebut. Dalam kacamata saya, “budaya adalah karya yang dibentuk manusia di satu masa, dan berkembang luas memengaruhi kehidupan dan manusia lain di masa sesudahnya.”

Lalu, apakah saya, Anda dan kita bisa menciptakan budaya? Tentu saja bisa. Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada karena manusia yang menciptakannya dan manusia dapat hidup ditengah kebudayaan yang diciptakannya.

Kebudayaan akan terus hidup manakala ada manusia sebagai pendudukungnya. Kalau tidak ada yang mendukung dan memberinya kehidupan, budaya dan kebudayaan, lambat laun juga bakal mati.

Saya teringat cerita, bagaimana Korean Wave akhirnya menjadi budaya yang luarbiasa dan menjadikan Korea [Selatan], bangga dan berdiri sejajar dengan negara ras kuning lainnya, seperti Jepang dan Tiongkok.

Dalam satu masa, pemerintah Korea mengundang musisi-musisi hebat seluruh dunia, termasuk Indonesia. Mereka diundang untuk menggelar konser setiap tahun dengan genre yang berbeda-beda. Ada pop, rock, blues, jazz, dan macam-macam. Usut punya usut, bukan untuk mencuri ilmu dari musisi yang mereka undang, tapi memberikan wawasan baru kepada rakyatnya, untuk menciptakan budaya sendiri. Terbukti, kebudayaan Korea sekarang dengan K-Popnya benar-benar merajai dunia.

Bagaimana Indonesia? Jangan terjebak para ruang nostalgia, sehingga lupa melahirkan karya yang bisa jadi ciri budaya. Musisi [dan seniman] Indonesia, termasuk Pemerintah sendiri, sering terjebak pada pewarnaan ketika bicara soal budaya. Seolah-olah budaya dan kebudayaan selalu bicara tradisi dan tradisionalisme. Coba kita ketik “kebudayaan” di image Google, yang muncul selalu hal-hal yang berbau tradisi saja.

Tentusaja bukan salah dan dosa, tapi sebenarnya tidak melulu itu. Budaya populer, juga adalah kebudayaan kekinian yang bisa dikembangkan dan menjadi kekuatan atau ciri dari satu bangsa. Musisi juga bisa mengadopsi tradisi menjadi populer, tentu saja dengan pengembangan dan inovasi yang kreatif.

Saya harus katakan, zaman berubah, manusia berkembang dan kebudayaan menemukan persepsi dan definis terkini. Tapi yang tetap, budaya dan kebudayaan selalu dan akan terus menjadi ciri bangsa yang kuat. Kalau sekarang Korea menjadi “contoh” bagaimana budaya popnya begitu menggurita, siapa tahu kelak Indonesia bisa melakukan hal yang sama, bahkan lebih.

Jaring kebudayaan kita semestinya bisa lebih menggurita, tapi sinerginya yang perlu disentuh. Negara harus hadir, Pemerintah harus bersemuka dengan para seniman juga pelaku undustrinya, bukan malah sebaliknya berpunggungan. Begitu pula, para senimannya harus kompak bersuara seirama dan senada demi Industri musik lebih baik serta cerah. Bukan sebaliknya, menciptakan friksi-friksi, berkelompok menciptakan habitat sesuai selera. Maju sendiri dan cari selamat sendiri, atau bersama kelompoknya sendiri.

Tulisan diatas ini hasil dari resapan temu pikir musisi seperti; Doddy Katamsi, Denny Chasmala, Taraz Bistara; promotor seperti Atuk Faturachman; jurnalis musik seperti Irish Blackmore; pakar PR Akbar Akb, dan masih banyak lagi yang bersuara tentang ekosistem dan Industri musik yang kurang sehat, pemerintah yang kurang tanggap. Acara yang di inisiasi Seno M. Hardjo, Senin (25/3/2024) malam, di Bengkel Vokal sekaligus Café Dokat (Doddy Katamsi), dikawasan Limo Meruyung, Depok.

Nah! Mari kita terus bersuara tentang musik kita, tentang nafas kita, tentang jiwa kita. Semoga pengajian musikal seperti ini terus bergulir rutin dengan isu-isu menarik lainnya. Bhinneka Tunggal Musik!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *