Ikaputri Comeback Lewat “Sadis”, Balada Emosional Karya Bebi Romeo

Urbannews | Di tengah industri musik Indonesia yang bergerak cepat—kadang terlalu cepat—nama Ikaputri berdiri dengan cara yang berbeda. Ia tidak datang membawa sensasi. Tidak pula mengejar keramaian yang gemerlap. Ia memilih berjalan pelan, tapi pasti. Ada ketenangan dalam langkahnya, dan justru di situlah kekuatannya.

Sejak awal kemunculannya, Ikaputri dikenal lewat warna vokal yang lembut dan jernih. Ia bukan tipe penyanyi yang memamerkan teknik berlebihan. Sebaliknya, ia membiarkan emosi bekerja secara alami. Artikulasinya rapi, penghayatannya terasa tulus. Pada masa ketika pop Indonesia masih memberi ruang luas pada kekuatan lirik dan melodi, ia tumbuh sebagai bagian dari gelombang itu—gelombang yang percaya bahwa lagu harus punya cerita.

Beberapa single dan tiga album telah ia lahirkan. Benang merahnya jelas: cinta, luka batin, kesetiaan, dan refleksi diri. Lagu-lagunya terasa intim, hampir seperti percakapan pribadi. Seolah ia duduk berhadapan dengan pendengar—mendengarkan kisah patah hati, menenangkan kegelisahan, atau sekadar menemani proses belajar mengikhlaskan.

Ikaputri memang tidak selalu berada di barisan depan arus utama. Namun justru di situ nilai pentingnya. Ia bertahan tanpa perlu mengubah jati diri. Ia merawat pop balada yang matang—musik yang tidak tergesa-gesa, tidak dibangun dari tren sesaat, melainkan dari kedalaman rasa.

Dan mungkin karena itulah namanya tetap diingat, bahkan setelah hampir satu dasawarsa ia tak terdengar merilis karya baru.

Comeback Lewat “Sadis”

Kembalinya Ikaputri ditandai dengan single terbaru berjudul “Sadis”, ciptaan Bebi Romeo—komposer yang reputasinya tak diragukan dalam meramu emosi menjadi melodi yang membekas. Lagu ini sebelumnya dipopulerkan oleh Afgan Syahreza, dan kini hadir dengan interpretasi baru yang lebih personal. Diproduksi oleh BHS Productions, di bawah arahan Seno M Hardjo, lagu ini terasa seperti pintu yang kembali dibuka perlahan, bukan dibanting dengan gegap gempita.

“Sadis” tidak sekadar berbicara tentang cinta yang kandas. Lagu ini menyentuh wilayah yang lebih dalam: kekerasan emosional dalam hubungan. Tentang pengkhianatan yang dilakukan diam-diam. Tentang janji yang perlahan membusuk karena dibiarkan. Ada rasa pedih yang tidak meledak, tetapi merayap.

Dalam lagu ini, Ikaputri memilih pendekatan yang dewasa. Ia tidak meninggikan nada untuk menunjukkan luka. Justru sebaliknya—ia menahannya. Emosi ditekan ke dalam, membuat tiap kata terdengar lebih tajam. Aransemen yang bersih memberi ruang bagi lirik untuk bernapas. Tidak ramai, tidak berlebihan. Heningnya terasa.

Pendekatan seperti ini mengingatkan bahwa kesedihan tak selalu harus diteriakkan. Kadang ia hanya perlu diucapkan pelan, dan justru itu yang membuatnya menghantam lebih dalam.

Ikaputri mengakui bahwa membawakan lagu yang sudah lebih dulu melekat kuat lewat suara Afgan adalah tantangan tersendiri.

“Saya tidak ingin meniru versi sebelumnya. Saya harus menemukan ruang emosi yang benar-benar jujur dari pengalaman pribadi saya. Persiapannya cukup panjang—mendalami lirik, berdiskusi dengan Mas Bebi, dan mencoba beberapa pendekatan vokal sampai akhirnya menemukan karakter yang paling dekat dengan diri saya. ‘Sadis’ versi saya adalah tentang luka yang dipendam, bukan diluapkan.” jelasnya, Jumat (13/2) di RRI Jakarta.

Ia juga menambahkan bahwa proses rekaman dilakukan dengan pendekatan yang lebih minimalis agar nuansa rapuhnya tetap terjaga.

Sebagai produser, Seno M Hardjo memiliki pertimbangan khusus memilih “Sadis” sebagai lagu comeback Ikaputri.

“Kami butuh lagu yang kuat secara lirik dan sudah teruji secara musikal, tapi tetap punya ruang interpretasi baru. ‘Sadis’ punya kedalaman itu. Justru karena Ikaputri sempat hiatus cukup lama, kami tidak ingin kembali dengan lagu yang biasa-biasa saja. Lagu ini emosional, matang, dan sesuai dengan karakter vokalnya. Ini bukan sekadar comeback, tapi penegasan identitas.”

Menurut Seno, memilih karya Bebi Romeo juga menjadi langkah strategis untuk mengangkat kembali nama Ikaputri ke lanskap industri yang kini lebih kompetitif. Lagu yang kuat secara komposisi memberi fondasi kokoh, sementara interpretasi personal Ikaputri menjadi pembeda.

Sambutan terhadap “Sadis” pun cukup hangat. Lagu ini masuk ke sejumlah Official Playlist Spotify—sebuah penanda bahwa musik dengan kedalaman emosi masih menemukan pendengarnya, bahkan di era dominasi algoritma dan playlist digital.

Namun lebih dari sekadar capaian platform, “Sadis” terasa seperti pernyataan artistik. Bahwa Ikaputri belum selesai. Ia kembali bukan untuk bernostalgia pada masa lalu, melainkan untuk berbicara pada generasi pendengar yang mungkin baru mengenalnya hari ini.

Pada akhirnya, kisah Ikaputri di blantika musik Indonesia adalah kisah tentang ketekunan. Tentang kesetiaan pada rasa. Ia membuktikan bahwa karier musik tidak harus riuh untuk berarti. Ada kalanya suara yang tenang dan jujur justru memiliki daya tahan paling panjang.

Dan mungkin, di situlah letak kekuatannya yang sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *