Urbannews | Di tengah riuh rilisan digital yang datang dan pergi begitu cepat, HIMM—nama panggung dari Himawan Darma—memilih melangkah dengan tenang. Ia tidak menawarkan gebrakan sensasional, melainkan sesuatu yang lebih jarang: kejujuran.
Melalui album debutnya yang berjudul Selamanya, HIMM memosisikan cinta bukan sebagai akhir yang manis dan sempurna, tetapi sebagai proses yang panjang—kadang membahagiakan, kadang melelahkan, sering kali membingungkan. Di situlah kekuatan album ini berakar.
Diproduksi oleh Goss Records, Selamanya menjadi penanda penting bagi HIMM sebagai solois. Bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan sebuah pernyataan identitas. Ada kematangan dalam cara ia menulis, juga keberanian untuk tidak tergesa-gesa menyederhanakan emosi.
Album ini berisi sembilan lagu yang disusun seperti bab dalam satu buku harian. Lagu pembuka, “Selamanya”, berdiri sebagai love anthem yang dewasa—tentang komitmen yang lahir dari kesadaran, bukan sekadar euforia. Pernikahan, dalam lagu ini, bukan klimaks dongeng, melainkan keputusan yang diambil dengan kepala dingin dan hati yang mantap.
Dari sana, perjalanan berlanjut. “Angan Tentangmu” menyimpan getar harap yang belum sempat terucap. “Aduh Gila” menghadirkan rasa jatuh cinta yang spontan dan manis, sementara “Terhenti” menangkap momen ketika patah hati membuat waktu seolah membeku. Di “Jika”, ada nada getir tentang harapan yang tak pernah benar-benar terjawab.
Memasuki paruh kedua, suasana menjadi lebih sunyi dan reflektif. “Pengagummu” berbicara tentang cinta yang dipendam terlalu lama. “Melawan Sepi” terasa seperti dialog dengan diri sendiri—tentang kesendirian yang pelan-pelan mengajarkan kedewasaan. “Jauh Tak Kembali” merawat kenangan tanpa ambisi memiliki kembali. Dan ketika album ditutup dengan “Hey Kamu”, ada semacam senyum kecil yang tersisa: ringan, optimistis, seolah berkata bahwa setelah segala luka dan jeda, hidup tetap layak dirayakan.
Secara musikal, Selamanya digarap dengan pendekatan pop yang bersih dan cenderung timeless. Aransemen Irwan Kusumajaya membangun ruang yang lapang bagi vokal dan lirik untuk bernapas. Permainan gitar dan bass Roy Ferrynta memberi warna hangat yang membumi, sementara sentuhan produksi dari Nina Silvana menjaga keseluruhan album tetap utuh sebagai satu narasi. Di sisi teknis, proses rekaman hingga mastering oleh Delon Sagita menghadirkan kejernihan bunyi yang membuat setiap detail terasa dekat, hampir intim.
Yang menarik, HIMM tidak berusaha terdengar berlebihan. Ia tidak mengejar metafora yang rumit atau dramatisasi yang dipaksakan. Justru dalam kesederhanaannya, Selamanya menemukan daya pikatnya. Album ini tidak menjanjikan cinta yang selalu berhasil. Ia merayakan retak, ragu, dan ruang kosong sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan manusia.
Kini, Selamanya telah tersedia di berbagai platform digital seperti Spotify dan YouTube Music. Namun lebih dari sekadar rilisan streaming, album ini terasa seperti undangan: untuk duduk sejenak, mendengarkan, dan mungkin menemukan potongan kisah kita sendiri di antara sembilan lagu yang ditawarkan.
Melalui debut ini, HIMM memperkenalkan dirinya bukan hanya sebagai penyanyi, tetapi sebagai pencerita. Dan seperti setiap pencerita yang baik, ia tidak memaksa kita percaya—ia hanya mengajak kita berjalan bersamanya, dari satu fase cinta ke fase berikutnya.
