by

Film “Untuk Angeline” Siap Tayang 21 Juli 2016 Mendatang

-Movie-352 views

image

Jakarta, UrbannewsID. | Angeline, bocah perempuan yang hilang di Bali akhirnya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Jasadnya dikubur di halaman belakang rumah, di samping kandang ayam di rumah ibu angkatnya, Margaretha Megawe, Jalan Sedap Malam Nomor 26 Sanur, Bali. Sontak, berita ini, sangat menggemparkan dan membuat publik kaget pada pertengahan tahun 2015 lalu.

Kisah tragis kematian bocah Angeline tidak hanya ramai di Tanah Air. Kematian Angeline menjadi duka yang mendalam bagi banyak orang. Terlebih saat ditemukan, kondisinya sangat mengenaskan, karena pada mayat Angeline ditemukan tanda-tanda tidak wajar. Sejak hilang pertengahan Mei 2015, banyak orang yang rela mencari Angeline dan menyebarkan foto serta pamflet di seluruh Bali.

Hal menyedihkan ini sontak mendapat perhatian serius banyak pihak, terutama Kepolisian. Sampai akhirnya terungkap, penyebab kematian Angeline, siapa pelaku dan dalangnya. Begitu, berita yang tersiar lewat media beberapa bulan yang lalu, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Denpasar, Bali memvonis terdakwa Margriet Megawe dengan hukuman seumur hidup. Margriet dinyatakan bersalah melakukan pembunuhan Angeline, bocah berusia delapan tahun.

Tindak kekerasan terhadap anak hingga meregang nyawa, bukan kali pertama terjadi. Kalau kita masih ingat, November 1984, publik Tanah Air pernah di gemparkan oleh cerita pilu seorang anak berusia 8 Tahun bernama Arie Hanggara yang tewas setelah sekian lama dianiaya orang tuanya. Kematian Arie Anggara menjadi kasus kekerasan anak pertama yang mendapat perhatian luas, sampai kisahnya kemudian dijadikan kisah film layar lebar bertajuk Arie Hanggara.

Menanggapi maraknya kekerasan pada anak yang semakin sering terjadi, baik secara fisik ataupun mental, oleh siapapun pelaku tindak kekerasan terhadap anak itu, pastinya semua orang merasa prihatin. Anak, sedianya adalah tumpuan dan harapan orang tua, wajib dilindungi maupun diberikan kasih sayang. Terinspirasi dari fakta persidangan kasus Alm. Angeline, mendorong rumah produksi Citra Visual Mandiri memfilmkan kisahnya dengan sudut pandang yang berbeda.

Film berjudul “Untuk Angeline” yang skenario dibuat oleh Lele Laila, Jito Banyu didampuk sebagai sutradara mengatakan, bahwa film ini anglenya berangkat dari ibu kandung Angeline bernama Samidah (nama di film). Bagaimana seorang perempuan berusia 26 tahun berasal dari kota Banyuwangi yang sedang mengandung ini memutuskan pindah ke Bali ikut dengan suami yang bekerja sebagai kuli. Kemudian, dia juga harus menerima kenyataan pahit secara ekonomi saat melahirkan, dan bertemu John (nama di film) warga negara asing yang membantu dan mengadopsi Angeline. Sampai akhirnya, setelah lama tidak berjumpa mendapat khabar, anaknya meregang nyawa.

Film “Untuk Angeline” yang konon sudah Lulus Sensor dengan kategori Drama Keluarga Untuk Segala Usia,. Jito menambahkan, persidangan pelaku penganiayaan dan pembunuh Angeline hanya sebagai pengantar cerita. Kita hanya fokus kepada ibunya, kalau pun kisah Angeline saat bersama ibu angkatnya yang menjadi sumber malapetaka, kita tidak ungkap secara vulgar, ujar Jitu, saat dijumpai dalam acara Rilis Poster, Trailer, OST dan Untuk Angeline Awars 2016, di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (1/6) pagi.

Psikolog sekaligus pemerhati anak, Seto Mulyadi yang hadir dalam acara tersebut, juga mengingatkan agar pembuatan film yang mengangkat kisah hidup Engeline sebaiknya mengampanyekan antikekerasan kepada anak daripada sekadar unsur komersialisasi yang ditonjolkan. Menurut Kak Seto yang akrab disapa ini, film bisa menjadi tombak bahwa kekerasan yang dilakukan ibu Engeline adalah tindakan yang tidak dibenarkan. Karena itu, film harus menekankan bahwa tindakan kekerasan kepada anak harus dihentikan.

imageFilm “Untuk Angeline” yang siap tayang dibioskop 21 Juli 2016 mendatang, selain Kinaryosih yang berperan sebagai Samidah, ibunya Angeline, dan Naomi Ivo sebagai Angeline, film ini juga diperkuat deretan pemain seperti Teuku Rifnu Wikana, Roweina Umboh, Hans De Kraker, Dewi Hughes, Ratna Riantiarno, Emma Waroka, Paramitha Rusady dan lainnya dengan penampilan spesial Kak Seto Mulyadi.

Niken Septikasari selaku eksekutif produser film ini menyatakan rasa syukurnya, bersama awak media sebagai saksi rilisnya poster, trailer dan Original soundtrack berjudul Untuk Angeline yang dinyanyikan Marsya Doeni dengan aransemen Bembi Noor. Selain itu, Niken juga mengatakan bersama organisasi Koalisi Anak Madani Indonesia yang diurusnya, siap memberikan Untuk Angeline Award 2016 kepada 5 Tokoh Sahabat Anak.

Award yang akan diberikan pada malam peringatan Hari Anak Nasional – HAN 23 Juli, dan didahulu 21 Juli bertepatan hari pertama penayangan Film Untuk Angeline di Kota Surabaya bersama Ibu Walikota Tri Rismaharini. Kelima tokoh tersebut, yakni Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan Walikota Bandung Ridwan Kamil kategori Walikota Sahabat Anak, Bupati Banyuwangi sebagai Bupati Sahabat Anak, Kak Seto Ketua Komnas Anak sebagai Tokoh Sahabat Anak dan Aktor dan Wagub Jawa Barat Deddy Mizwar sebagai Tokoh Sahabat Anak.

Lanjut dijelaskan oleh Niken, para penerima Award tersebut adalah sahabat anak dalam kapasitas tugas dan kewenangan menciptakan ruang imajinasi untuk membuat anak-anak Indonesia bisa selalu tersenyum mulai dari Perda, program ramah anak sampai film. Koalisi Anak Madani yang didukung Komnas Anak mendedikasikan Untuk Angeline Award tiap tahunnya kepada film2 anak dan keluarga selain para tokoh yang menjadi Sahabat Anak, paparnya lugas.

Film “Untuk Angeline” adalah perjuangan anti kekerasan anak, dan jadi pembelajaran semua pihak dari pola pengasuhan, sistem adopsi dan lainnya. 21 Juli jadi momentum Stop Child Abuse, ayo jadi #Sahabatuntukangeline dan ingat #UntukAngelineAnakKITA.|Edo (Foto Dudut SP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed