Urbannews | Pada suatu masa, distorsi gitar adalah bahasa paling jujur untuk meluapkan kegelisahan. Nada keras, panggung berasap, lampu menyilaukan, dan ribuan pasang mata menjadi saksi bahwa musik bisa menjadi pelarian—bahkan pelampiasan. Namun bagi Edi Kemput, musik akhirnya menjelma menjadi sesuatu yang lebih sunyi: jalan pulang.
Di tengah industri musik yang sering merayakan popularitas tanpa jeda refleksi, Edi Kemput berdiri sebagai anomali. Ia tidak menanggalkan gitar, tetapi mengganti niat di balik petikannya. Dari rock keras menuju kesadaran, dari sorak penonton menuju suara hati.
Awal yang Polos
Triwitarto Edi Purnomo lahir di Samarinda, 10 April 1966. Musik datang kepadanya bukan melalui mimpi besar, melainkan lewat pengalaman paling sederhana. Saat masih duduk di bangku SMP kelas 2, lagu pertama yang ia mainkan bukanlah rock, apalagi solo gitar rumit.
“Naik-naik ke Puncak Gunung,” katanya sambil tersenyum mengenang, dalam sebuah wawancara akhir Desember 2025.
Dari lagu anak-anak itu, jemarinya mulai mengenal irama dan kesabaran. Musik Rinto Harahap yang dipopulerkan Hetty Koes Endang menjadi pintu awal menuju dunia bunyi yang lebih dalam—sebuah proses alami yang tak pernah ia rancang secara ambisius.
Mencari Bentuk, Menemukan Karakter
Di SMA Negeri 2 Surabaya, Edi menemukan fase penting: musik instrumen. Saat banyak remaja terikat pada lagu populer, ia justru menyelami komposisi tanpa vokal. Nama Bujana, band Squirrel, Indra Lesmana, Alfonso Mouzon, hingga Casiopea menjadi referensi.
“Kalau dibilang jazz terlalu luas,” ujarnya. “Kami menyebutnya lagu-lagu instrumen.”
Ia sempat menempuh studi Ilmu Komunikasi (Jurnalistik) di Universitas Dr. Soetomo, Surabaya. Namun panggung datang lebih cepat daripada ijazah. Edi meninggalkan bangku kuliah dan memilih menjalani kehidupan yang sepenuhnya dipandu oleh nada.
Grass Rock dan Tahun-Tahun yang Bergemuruh
Tahun 1984 menjadi penanda penting ketika Edi bergabung dengan Grass Rock. Nama itu menyimpan filosofi sederhana: rumput tumbuh di mana saja. Musik mereka pun ingin hadir lintas batas, lintas kelas.
Festival demi festival mereka lalui—Log Zelebour, KMSS Jakarta—hingga puncaknya meraih Juara 1 Log Zelebour 1986. Prestasi individual pun mengiringi langkah band ini. Edi dua kali dinobatkan sebagai The Best Guitarist, sementara rekan-rekannya menyabet penghargaan serupa.
Kepercayaan menjadi band pembuka tur God Bless di 10 kota Indonesia adalah legitimasi sunyi bahwa Grass Rock telah berdiri sejajar dengan nama-nama besar rock nasional.
Musik yang Menjadi Identitas
Grass Rock merilis lima album dan dua single. Album debut Peterson (Anak Rembulan), diproduseri Ian Antono, menandai kematangan musikal mereka. Lagu-lagu ciptaan Edi—Peterson, Prasangka, dan Bersamamu—menghadirkan karakter melodis, progresif, dan emosional.
Bersamamu, yang ditulis bersama almarhum Dayan Zmach, menyimpan kejujuran persahabatan. Sementara Peterson hidup lintas generasi, diremaster berkali-kali, seolah menolak usang oleh waktu.
Melampaui Satu Panggung
Ketika dinamika band mereda, perjalanan Edi justru melebar. Ia dikenal sebagai gitaris yang lentur dan dipercaya lintas genre. Kolaborasinya merentang dari Erwin Gutawa Orchestra, Adi MS – Twilite Orchestra, hingga Chrisye, Krisdayanti, Ruth Sahanaya, Ari Lasso, dan Iwan Fals.
Album Orang Gila bersama Iwan Fals menjadi bukti bahwa Edi tak pernah terjebak dalam satu warna.
“Erwin Gutawa membuka cara pandang bermusik saya,” katanya. “Bukan hanya soal nada, tapi tentang makna.”
Lelah yang Mengendap
Namun gemuruh panggung tak selamanya mengisi batin. Tahun 2003 menjadi titik balik yang sunyi.
“Capek. Jiwa capek.”
Di balik citra rocker dan gaya hidup yang melekat padanya, Edi menemukan kehampaan. Latar keluarga religius—terutama ibunya yang aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama—menjadi penyangga yang menyelamatkannya dari kehancuran total. Pernikahan dan keluarga menjadi cermin yang jujur.
Ia berhijrah. Tanpa gegap gempita. Tanpa panggung pengakuan.
Dari Panggung ke Ruang Sunyi
Hijrah itu tak berhenti sebagai urusan personal. Edi turun ke ruang-ruang yang jarang disorot: lapas, komunitas punk, kelompok termarjinalkan. Ia datang bukan sebagai penceramah, melainkan sebagai sesama manusia.
“Bukan tausiah,” ujarnya. “Sharing.”
Ia membawa gitar dan kisah hidup—bukan untuk menggurui, melainkan menemani.
Musik sebagai Ibadah Sosial
Dalam berbagai aksi solidaritas, termasuk untuk korban bencana di Sumatera, Edi menegaskan bahwa musik semestinya menjadi jembatan empati.
“Yang penting bukan besar kecilnya angka,” katanya, “tetapi keikhlasan.”
Baginya, musik yang diniatkan untuk meringankan beban sesama adalah ibadah sosial. Ia menolak menjadikan penderitaan orang lain sebagai panggung baru.
Nada dan Tanggung Jawab
Edi juga menyuarakan kritik jernih kepada negara. Menurutnya, bencana berulang sering lahir dari kelalaian dan ketidakjujuran pengelolaan.
“Kalau pemimpin tidak amanah, rakyat yang selalu jadi korban.”
Nada kritiknya tidak meledak, tetapi tegas—seperti gitar yang tahu kapan harus keras dan kapan harus berhenti.
Mengasah Rasa, Menjemput Terang
Kini, di usia hampir 60 tahun, Edi Kemput masih memainkan gitar. Namun bunyi itu telah berubah makna. Distorsi yang dulu meraung kini menjadi ruang jeda—tempat rasa diasah, batin ditata.
Baginya, bunyi bukan lagi soal teknik atau sorotan, melainkan jalan spiritual. Setiap petikan adalah latihan kesadaran; setiap jeda adalah doa yang tak terucap. Di sanalah musik bertemu iman, dan seni menemukan terang.
Edi tidak berhenti bermusik. Ia hanya mengubah arah. Dari gemuruh menuju bening. Dari panggung menuju makna. Dari gelap menuju cahaya yang ia rawat pelan-pelan—nada demi nada.
Dan di negeri yang terus diuji, kisah Edi Kemput menjadi pengingat: musik boleh keras, tetapi hati harus tetap lembut. | Beng Aryanto





Bahasa arts yg Sangat Menyentuh jiwa dan denyut Nadi Kejujuran Bermusik dlm hidup
Dawai Getaran Nada Semakin dalam Untuk
Dinikmati, dihayati Dan Terdengar Semakin Dewasa Aura yg Tersirat ” tidak Ada katalain
Tetap Berkarya Dan Berkarya ( Semoga Mas Edi sll Diberikan Kesehatan Dan Ditambahkan Rizky yg Bermanfa”at)