Charity for Sumatra by Uthie Project: Gotong Royong yang Masih Bernyanyi

Urbannews | Di negeri yang sering diuji oleh bencana, musik kerap datang lebih dulu daripada pidato. Ia hadir tanpa jas resmi, tanpa meja konferensi, tanpa janji yang ditunda. Seperti yang terjadi dalam charity for Sumatra by Uthie Project, yang digelar di PapaBro Cafe Jakarta, Sabtu, 27 Desember 2025, ketika para musisi independen berkumpul di sebuah panggung sederhana—membawa gitar yang sudah berumur, drum yang suaranya tak lagi sempurna, dan satu bekal yang tak pernah habis: kepedulian.

Konser amal musisi independen bukan peristiwa glamor. Ia tak menjanjikan tata cahaya megah atau daftar nama besar yang berkilau di poster. Namun justru di sanalah denyut Indonesia terasa paling jujur. Ketika kabar musibah dari Sumatra sampai ke telinga, tak ada waktu untuk bertanya siapa paling terkenal, siapa paling pantas tampil. Yang ada hanya satu dorongan purba: bergerak bersama.

Gotong royong—kata yang sering terdengar usang di pidato upacara—mendadak menemukan rumahnya kembali. Ia hidup dalam cara para musisi saling berbagi panggung, bergantian alat, dan menyisihkan honor yang bahkan sering kali tak pernah ada. Dari panggung kecil di PapaBro Cafe malam itu, gotong royong tak lagi menjadi jargon, melainkan kerja nyata yang berkeringat.

Para musisi yang terlibat—Trodon, SertaMerta, Nonfiksi, Monolog Plot Twist, Pasha Chrisye, dan banyak lagi—dengan penuh kerelaan berpartisipasi berdonasi lewat karya, bergotong royong saling membantu antar sesama melalui karakter dan ekspresi musikal band masing-masing, yang diwujudkan secara tulus dalam penampilan panggung, aransemen, energi permainan, serta nuansa bunyi khas yang merepresentasikan semangat kebersamaan.

Nada-nada yang mengalun sore ke malam itu bukan sekadar rangkaian akor. Ia menjelma doa yang dipetik, harapan yang dipukul, dan empati yang dinyanyikan. Penonton datang bukan hanya untuk mendengar, tetapi untuk merasa: bahwa duka di Sumatra adalah duka kita bersama. Musik, dalam kesederhanaannya, menjembatani jarak yang tak bisa ditembus oleh laporan angka dan grafik kerusakan.

Ada ironi yang tak bisa diabaikan. Di banyak tempat di dunia, respons terhadap musibah kerap terperangkap dalam labirin prosedur. Rapat menyusul rapat, pernyataan menyusul pernyataan. Sementara itu, para musisi independen bergerak cepat—tanpa menunggu izin, tanpa menunggu sorotan. Mereka membuktikan bahwa solidaritas sosial sering kali lebih gesit daripada sistem yang terlalu percaya pada dirinya sendiri.

“Aksi solidaritas untuk korban bencana Sumatera malam ini, menegaskan bahwa musik menjadi jembatan empati. Musik yang diniatkan untuk meringankan beban sesama adalah ibadah sosial. Yang penting bukan besar kecilnya angka, tetapi keikhlasan.” jelas Uthie, sang inisiator tentang eventnya.

Konser amal ini mengingatkan kita bahwa kekuatan bangsa tidak selalu bersemayam di gedung-gedung tinggi. Ia tumbuh di komunitas kecil, di ruang-ruang alternatif, di panggung yang lantainya berderit. Di sanalah nilai-nilai lama—kebersamaan, saling menanggung beban—dirawat tanpa banyak kata.

Bagi musisi independen, panggung kecil adalah sekolah kehidupan. Di sana, ego belajar menyingkir, dan kerja kolektif menjadi keharusan. Maka ketika bencana datang, respons pun lahir secara alami. Musik menjadi alat, bukan tujuan. Tujuannya tetap manusia: mereka yang kehilangan, mereka yang membutuhkan uluran tangan.

Konser amal musisi independen tidak menawarkan solusi instan atas luka yang dalam. Namun ia memberi sesuatu yang sering kali langka: rasa ditemani. Bahwa di tengah puing dan air mata, ada suara lain yang ikut bergetar. Bahwa bangsa ini, dengan segala kekurangannya, masih mampu berkumpul dan bekerja bersama.

Pada akhirnya, mungkin inilah makna terdalam dari musik di negeri ini. Ia bukan sekadar hiburan, melainkan cara kita mengingat siapa diri kita. Dari panggung kecil, gotong royong kembali bernyanyi—lirih, jujur, dan jauh lebih bermakna daripada gemuruh yang kosong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *