Cakra Khan: Suara yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Tentang Chrisye, bersama “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”

Urbannews | Ada lagu-lagu yang selesai ketika rekaman usai. Tapi ada juga yang justru mulai hidup setelah itu—berjalan pelan, menua bersama pendengarnya. “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” adalah salah satunya.

Dirilis pada 1997, lagu ini lahir dari pertemuan dua dunia: kepekaan musikal Chrisye dan kedalaman puisi Taufiq Ismail. Ia bukan sekadar lagu religi, bukan pula hanya komposisi puitis yang ditempelkan pada melodi. Di dalamnya ada semacam kegelisahan yang sunyi—tentang tanggung jawab, tentang tubuh yang kelak menjadi saksi atas apa yang kita lakukan. Terinspirasi dari Surat Yasin ayat 65, liriknya terasa seperti bisikan yang pelan tapi menghantam.

Taufiq Ismail pernah bercerita, Chrisye memberinya waktu untuk menemukan kata-kata yang benar-benar pas. Menjelang tenggat, pada sebuah malam Jumat, puisi itu terasa “klik” dengan melodi yang sudah lebih dulu ada. Seolah memang ditakdirkan bertemu. Saat proses rekaman, suasananya tidak biasa. Chrisye, yang dikenal tenang dan tertata, tak kuasa menahan air mata. Liriknya terlalu dekat, terlalu jujur. Dan mungkin justru karena itu, ia menyelesaikan lagu tersebut dalam satu kali pengambilan suara. Tanpa ulang. Satu napas, satu rasa.

Kini, hampir tiga dekade kemudian, lagu itu kembali disuarakan. Tahun 2026 menghadirkan versi duet antara Cakra Khan dan rekaman asli almarhum Chrisye. Di atas kertas, ini terdengar seperti proyek teknologi—menggabungkan arsip vokal lama dengan interpretasi baru. Namun ketika didengar, rasanya lebih dari itu. Ada dialog lintas waktu yang terjadi di sana.

Suara Cakra yang serak dan emosional bertemu dengan vokal Chrisye yang bersih dan khas. Bukan untuk saling mengalahkan, melainkan saling mengisi. Cakra sendiri mengaku merasakan getaran yang sulit dijelaskan ketika pertama kali mendengar track vokal mentah Chrisye. “Identitasnya kuat sekali,” kurang lebih begitu ia menggambarkannya. Karena itu, ia berhati-hati. Ia tidak ingin mengubah ruh lagu ini—hanya menemani.

Di sinilah esensi kolaborasi lintas generasi terasa penting. Musik tidak pernah benar-benar milik satu zaman. Ia berpindah tangan, berpindah suara, tapi pesannya bisa tetap sama. Dalam versi terbaru ini, aransemen memang terdengar lebih modern—lebih tebal, lebih sinematik di beberapa bagian. Namun garis melodi dan atmosfer reflektifnya tetap dijaga. Tidak dibuat berlebihan. Tidak dipaksa relevan. Ia dibiarkan berbicara dengan caranya sendiri.

Video musiknya pun memperkuat kesan itu. Berlokasi di GD Sasana Krida Desa, Bumi Perkemahan Cibubur, visualnya dibagi menjadi dua bagian. Pada bagian pertama, Cakra tampil seolah berbagi ruang dengan Chrisye. Dengan bantuan teknologi dan efek visual menyerupai genangan air, keduanya hadir dalam satu bingkai. Ada nuansa spiritual yang terasa—seperti bayangan yang muncul dari permukaan yang tenang. Bukan untuk mengejutkan, melainkan untuk mengingatkan: suara bisa melampaui raga.

Bagian kedua bergerak lebih simbolik. Kamera menyorot tangan yang mengusap kepala anak, kaki yang melangkah ke tempat ibadah, lalu bergeser ke gestur-gestur lain yang lebih gelap—korupsi, kekerasan, tindakan yang menyisakan luka. Sederhana, tapi mengena. Tubuh, sebagaimana liriknya, menjadi saksi.

Cakra menutup keterlibatannya dengan rasa terima kasih. Ia menyebut Chrisye sebagai legenda yang telah membuka jalan bagi banyak penyanyi setelahnya. Dan mungkin itu benar. Ada generasi yang tumbuh dengan suara Chrisye di radio, di kaset, di ruang-ruang keluarga. Kini generasi baru mengenalnya lewat platform digital, lewat kolaborasi yang bahkan tak terbayangkan di era 90-an.

“Ketika Tangan dan Kaki Berkata” versi duet ini resmi hadir mulai 4 Februari 2026 di berbagai platform musik digital dan kanal YouTube Musica Studios. Waktunya terasa tepat—berdekatan dengan Ramadan, bulan yang kerap membawa orang kembali pada perenungan.

Pada akhirnya, lagu ini tidak menawarkan jawaban. Ia hanya mengingatkan. Bahwa setiap langkah punya arah. Setiap sentuhan punya makna. Dan suatu hari nanti, mungkin benar, tangan dan kaki kita akan bercerita.

Sementara itu, suara Chrisye—nyatanya—tidak pernah benar-benar pergi.

Song Credit Title:
Artist : Cakra Khan, Chrisye
Title : Ketika Tangan Dan Kaki Berkata
Producer : William Chow, Indrawati Widjaja
Composer : Chrisye, Taufiq Ismail
Music Producer : Dede Hakim
Vocal Director : Barsena Bestandhi
Backing Vocal : Barsena Bestandhi
Mixed by : Jones Roma
Mastered by : Ano Stevano
Label : MyMusic Records, PT Musica Studios
Publisher : Musica Publiser Indonesia, Aquarius Pustaka Musik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *