Urbannews | Senja yang turun di Jakarta, tepatnya di Sisi Barat Tugu Monas, berubah menjadi ruang tamu dan temu para musisi. Angin pun mengelus rambut pepohonan, sementara kota, seperti biasa, terus berdenyut tanpa jeda. Namun di satu sudut yang sederhana seminggu ke depan, suasana akan terasa lebih pelan—seperti jeda kecil yang dihadiahkan kepada siapa pun yang mencintai musik.
Ruang tamu dan temu yang dimaksudkan di atas diberi tajuk “Arisan Musisi”, dan Sabtu, 6 Desember 2025, jadi gelaran pertamanya. Bukan festival besar, bukan pula konser berbayar. Ia justru hadir sebagai ruang komunitas, sebuah teras senja yang di inisiasi oleh BongQ, Ferdy Tahier, dan sejumlah musisi lainnya, untuk memberi kesempatan bagi para pemain musik dari lintas genre dan latar belakang untuk bertemu, bermain, sekaligus saling menguatkan.
Di ruang kecil yang baru lahir ini, kita diingatkan bahwa kita memang tak sedarah, tapi kita searah—disatukan oleh nada yang membuat setiap perjumpaan terasa seperti pulang.
Lahir dari Keinginan untuk Menghadirkan Ruang
Ide Arisan Musisi tumbuh dari kegelisahan sederhana: banyak musisi yang membutuhkan tempat bermain, sementara ruang-ruang itu semakin sempit, atau mahal, atau sulit diakses. Maka, alih-alih menunggu panggung datang, para inisiator justru membangunnya sendiri—di ruang publik—dan membiarkan siapa saja hadir tanpa syarat.
“Musik itu bukan cuma milik yang punya panggung besar,” ujar BongQ, salah satu inisiator. “Kami ingin bikin ruang di mana siapa saja boleh datang, tanpa harus merasa minder, tanpa merasa tersisih. Panggung ini milik semua.”
Di acara ini, nantinya setiap musisi dapat mendaftarkan diri untuk tampil pada pergelaran bulan berikutnya. Semacam mekanisme arisan, tetapi yang diputar bukan uang, melainkan giliran tampil. Sistem ini memungkinkan panggung menjadi milik bersama, berpindah tangan secara adil, dan membuka peluang bagi talenta baru untuk muncul.
Di sinilah komunitas tumbuh dari satu arah yang sama—karena kita tak sedarah, tapi kita searah—dan musik menjadi jembatan yang menyatukan langkah itu.
Momen Perjumpaan yang Menghangatkan
Ketika para peserta mulai berdatangan, terdengar suara gesekan zipper tas gitar, nada-nada uji coba, dan sapaan “Bro, apa kabar?” mengisi udara. Tidak ada hierarki; semua datang sebagai sesama musisi, sesama pencinta nada.
Di satu sisi, beberapa orang duduk santai membicarakan produksi musik digital. Di sisi lain, gitaris muda mengeluarkan catatan lirik kusut—menunggu kesempatan memainkannya malam itu.
Ferdy Tahier, yang ikut menggagas kegiatan ini, menambahkan, “Kadang yang dibutuhkan musisi itu cuma dipertemukan. Sisanya terjadi sendiri. Musik selalu tahu cara mempertemukan orang yang tepat.”
Seorang musisi senior, bassis band rock and roll Powerslaves, Anwar Fatahillah, berujar; “Acara ini mengingatkan saya pada masa ketika musik pertama kali terasa menyenangkan, bukan melelahkan.” Dan seperti keluarga yang terbentuk dari pertemuan informal itu, kita kembali diingatkan: kita tak sedarah, tapi kita searah—datang membawa kecintaan yang sama pada musik.
Jamming yang Mencairkan Batas
Salah satu bagian favorit dari Arisan Musisi adalah sesi ngejam bareng. Tidak ada daftar lagu, tidak ada rehearsal, hanya isyarat dari mata dan hentakan kaki. Namun, selalu saja tercipta harmoni.
Di momen itu batas antara pemain sohor dan baru, serta penonton hilang. Yang tadinya hanya duduk, perlahan maju dan ikut bermain. Di tengah aliran spontan itu, terasa sekali: kita tak sedarah, tapi kita searah—terhubung oleh hasrat yang sama untuk berbagi nada dan energi.
Malam masih muda, tetapi jamming sering menjadi bagian yang paling sulit ditinggalkan.
Ruang Berkumpul, Ruang Bertukar Energi
Terlepas dari hujan turun cukup deras dimenit-menit penghujung acara, seperti puisi hujan di bulan Desember. Arisan Musisi tetap memberi makna, tidak hanya tentang nada; ia tentang energi yang dibagi. Para peserta bertukar kontak, membahas rencana kolaborasi, hingga memetakan kesempatan tampil berikutnya.
“Kalau ekosistemnya ingin maju, ya harus saling dorong. Bukan saling tunggu,” tutur BongQ. “Arisan Musisi ini wadah kecil, tapi kalau dijaga, ia bisa jadi besar dari semangatnya.”
Terasa kuat bahwa kita memang tak sedarah, tapi kita searah—bersama membangun ruang tanpa batas, tanpa sekat, dan tanpa syarat. Penyelenggara berkomitmen menjadikan kegiatan ini agenda rutin dan alternatif panggung bagi musisi independen.
Senja yang Berubah Menjadi Cerita
Ketika malam datang bersama rintik hujan dan lampu kota mengambil alih cahaya alami, para peserta merapikan instrumen mereka. Namun, obrolan dan tawa tidak padam. Ada rasa lega seperti setelah bertemu keluarga lama.
Arisan Musisi tidak dimaksudkan menjadi acara besar; ia dimaksudkan menjadi rumah singgah. Tempat musisi datang bukan hanya untuk bermain, melainkan untuk merasa ditemani. Di bawah senja Sisi Barat Monas, terasa lembut bahwa kita tak sedarah, tapi kita searah—saling mendekat, saling memahami, dan saling menjaga ritme satu sama lain.
Dan di Sisi Barat Monas malam itu, musik bukan sekadar suara. Ia adalah tali pengikat, jembatan perjumpaan, dan alasan bagi orang-orang untuk kembali berkumpul bulan depan. Pada akhirnya, Arisan Musik mengingatkan kita bahwa keluarga bisa lahir dari mana saja. Kita tak sedarah, tapi kita searah—dan arah itu, malam itu, bernama musik.



