Apakah Musik Masih Menghidupi Musisi Hari Ini?

Ada satu pertanyaan yang diam-diam menghantui siapa pun yang hidup dari musik, bekerja bersama musik, atau sekadar mencintai musik: apakah musik masih bisa menghidupi musisinya hari ini?

Oleh: Junior Eka Putro

Urbannews | Pertanyaan yang sederhana, tetapi punya bobot emosional yang dalam. Kita hidup di zaman ketika musik hadir tanpa batas. Mengalir 24 jam sehari, bisa diakses kapan saja, dan hadir di hampir setiap sudut kehidupan. Namun ironisnya, justru ketika musik paling mudah didengar, banyak musisi merasa paling sulit bertahan hidup darinya.

Industri musik sedang berada dalam masa keemasan baru. Data IFPI menyebut pendapatan musik global mencapai US$29.6 miliar pada 2024, menandai 10 tahun pertumbuhan berturut-turut. Streaming menjadi pengerak utama, menyumbang 69% pendapatan. Angka yang menggambarkan bagaimana cara masyarakat dunia mendengarkan musik telah berubah total.
Tapi, grafik yang terlihat optimistis itu nggak menunjukkan keseimbangan antara pendapatan industri dan pendapatan musisi. Jika industri tampak sehat, itu nggak berarti musisinya merasakan hal yang sama.

Streaming, misalnya, terlihat seperti pahlawan yang membebaskan musik dari pembajakan. Tapi begitu kita masuk lebih dalam, kita menemukan hal lain: tarif per stream sangatlah kecil! Spotify, raksasa industri, membayar sekitar $0.00318 per stream, artinya butuh sekitar satu juta stream untuk menghasilkan sekitar $4.000 sebelum dipotong label dan distributor. Platform lain, seperti Tidal, memang lebih tinggi.

Tapi nggak cukup signifikan untuk mengubah realitas. “Analisis Music Business Worldwide—yang mengolah data laporan Spotify ‘Loud & Clear’, menyebut bahwa sekitar 60% lebih artis di Spotify berpotensi menghasilkan kurang dari US$10.000 per tahun dari streaming, jika dihitung berdasarkan payout rata-rata per stream.

Jadi bayangkan musisi yang menghabiskan waktu berbulan-bulan membuat lagu, mengeluarkan biaya produksi, promosi, dan distribusi, dan ketika lagu itu mencapai satu juta stream -angka yang dari luar terlihat impresif dengan jumlah nolnya yang berbaris- penghasilan bersihnya mungkin hanya cukup untuk hidup satu bulan. Bahkan nggak cukup untuk membayar tim, sewa studio, atau biaya hidup dalam jangka panjang.

Tetapi streaming bukan cuma soal uang. Streaming adalah ekosistem. Cara musik ditemukan. Fungsinya jadi seperti billboard modern. Dapat memperbesar peluang seorang musisi menemukan pendengar di negara lain, membuka jalan untuk panggung yang lebih besar, atau membuka pintu kolaborasi yang nggak mungkin terjadi di era fisik.

Sebuah studi yang sering dikutip di industri musik, dilakukan oleh Aguiar & Waldfogel, menyebut bahwa eksposur streaming yang naik 20% dapat mendorong kenaikan pendapatan panggung musisi hingga sekitar US$46.000–49.000 per tahun.Ini menunjukkan bahwa streaming bukan sumber kekayaan, melainkan pintu menuju panggung, dan panggung adalah tempat uang mengalir.

Di sisi lain, penjualan fisik, meski turun secara global, mengalami kebangkitan kecil lewat vinil. Di Amerika Serikat, terjual 43.6 juta unit vinil pada 2024, menghasilkan sekitar US$1.4 miliar, jauh melampaui CD yang hanya menghasilkan US$541 juta. Tapi vinil hari ini bukan lagi media utama mendengar musik. Ia adalah benda sentimental, kenangan fisik, bukti loyalitas. Dan bagi musisi, vinil dan merchandise jauh lebih menguntungkan daripada streaming. Berbagai analisis ekonomi musik independen (seperti CD Baby, Bandzoogle, dan Indepreneur) memperkirakan bahwa pendapatan bersih dari penjualan sekitar 115 kaos band setara dengan royalti satu juta stream Spotify.

Namun cerita paling menarik muncul ketika kita melihat Indonesia. Indonesia bukan sekadar mengikuti pola global, tetapi memiliki sejarah digital yang unik. Ketika negara-negara lain memasuki era unduhan digital dan iTunes, Indonesia memasuki era RBT (Ring Back Tone). Pada masa puncaknya, RBT menyumbang hingga 90% pendapatan digital bagi label besar. Ketika RBT mati, kita nggak punya masa transisi yang sehat. Kita langsung masuk ke era streaming tanpa infrastruktur hak cipta digital yang matang. Ini melahirkan masalah yang kita lihat hingga hari ini.

Sistem royalti Indonesia nggak bekerja seefektif negara lain. Menurut laporan Bloomberg Technoz yang merujuk pada data LMKN, potensi royalti musik Indonesia sebenarnya mencapai triliunan rupiah per tahun, tetapi realisasi yang berhasil dikumpulkan pada 2024 hanya sekitar Rp77 miliar. Angka ini bukan sekadar kecil, tetapi menunjukkan kesenjangan structural, antara hak yang seharusnya diterima musisi dan uang yang benar-benar sampai ke tangan mereka. Banyak kafe, restoran, mall, hotel, radio lokal, hingga EO nggak membayar royalti. LMK dan LMKN masih terus berbenah, tetapi ekosistem yang ideal belum tercapai.

Akibatnya, musisi Indonesia nggak bisa bergantung pada royalti. Mereka harus mengandalkan satu hal: panggung. Honor manggung di Indonesia menjadi tulang punggung ekonomi musisi. Di sinilah ironi terbesar terjadi: musisi Indonesia bisa sangat terkenal, viral, atau trending, tetapi jika nggak sering manggung, mereka nggak bisa hidup dari musik.

Bicara panggung berarti bicara tentang semua hal yang menyertainya: ongkos produksi, tim teknis, manajemen, peralatan, perjalanan, dan promosi. Banyak musisi bergantung pada event korporasi, festival universitas, pesta pernikahan, acara brand, dan festival musik. Honor ini sering kali jauh lebih besar dibandingkan royalti dari streaming. Nggak jarang musisi dengan jutaan pendengar di Spotify hidup dari uang panggung, bukan dari lagu-lagunya.

Tetapi panggung punya batas. Panggung melelahkan. Panggung membutuhkan energi. Panggung membutuhkan kesehatan fisik dan mental. Nggak semua musisi ingin tampil setiap minggu. Nggak semua musisi cocok dengan pola hidup itu. Dan nggak semua musisi akan selalu punya panggung yang ramai. Di sinilah masalah mulai terasa: bagaimana nasib musisi yang nggak bisa mengandalkan panggung sepenuhnya?

Jawabannya jatuh pada diversifikasi pendapatan. Inilah model baru yang ditempuh musisi di seluruh dunia dan pelan-pelan juga diikuti oleh musisi Indonesia.

Musisi hari ini hidup dari banyak hal:
• konser
• merchandise
• hak cipta dan publishing
• konten digital
• kolaborasi brand
• crowdfunding dan membership
• rilisan fisik terbatas
• workshop, klinik, dan masterclass

Semuanya saling melengkapi. Ini berbeda dari era kaset dan CD ketika musisi bisa hidup dari penjualan fisik. Dulu uang datang dari lagu yang dibeli jutaan orang. Sekarang uang datang dari seluruh ekosistem yang bergerak di sekitar musik.

Ini membuat musisi nggak lagi bisa hanya membuat musik. Mereka harus membangun dunia. Mereka harus membuat komunitas. Mereka harus membuat identitas yang membuat penggemar merasa ingin menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Menariknya, generasi musisi baru tampaknya lebih cepat memahami pola ini. Mereka masuk ke industri dengan asumsi: musik bukan sumber uang. Musik adalah sumber perhatian. Dan perhatian itu harus diterjemahkan menjadi pengalaman, produk, dan hubungan.

Di sisi global, banyak musisi independen mulai meraup keuntungan besar karena memotong peran label. Mereka menggunakan D2C (direct-to-consumer), platform seperti Bandcamp, Patreon, atau penjualan langsung melalui media sosial. Mereka menguasai hak cipta mereka sendiri, menjual vinil edisi terbatas, membuat konten intim, dan mengelola komunitas. Pendapatan mereka nggak bergantung pada algoritma, tetapi pada kedekatan.

Indonesia juga menuju arah ini. Musisi independen memanfaatkan media sosial sebagai panggung kedua. Mereka membangun audiens sebelum membangun lagu. Mereka menjual merchandise yang didesain dengan karakter kuat. Mereka membuat rilisan kaset atau vinil dalam jumlah terbatas untuk para kolektor. Dan mereka mulai lebih peduli pada publishing karena tahu itulah “tabungan masa depan”.

Namun, untuk menjadikan musik sebagai sumber kehidupan, Indonesia tetap membutuhkan satu hal yang belum terselesaikan: sistem royalti yang transparan, efisien, dan berpihak pada pencipta. Selama ini nggak terjadi, musisi Indonesia akan terus hidup dari kerja fisik, bukan dari karya yang terus mengalir.

Tapi mari kita kembali ke inti pertanyaan tadi: apakah musik masih bisa menghidupi musisi hari ini? Jawabannya bukan hitam-putih. Bukan ya atau nggak. Jawabannya adalah: musik bisa menghidupi musisi hari ini, tetapi nggak cuma musik sendiri.

Musik adalah inti, tetapi untuk hidup, musisi membutuhkan ekosistem. Lagu membuka pintu, tetapi panggung mengisi dompet. Streaming mendatangkan audiens, tetapi merchandise membuat audiens itu bertahan. Brand deal memperluas pengaruh, tetapi publishing menyiapkan masa depan. Dan komunitas membuat semua itu stabil.

Musik hari ini adalah tentang hubungan. Tentang orang-orang yang merasa terhubung dengan musisi, bukan hanya dengan lagu. Dan selama hubungan itu kuat, musik akan tetap menghidupi mereka. Meski dengan cara yang berbeda dari masa lalu.

Mungkin kita perlu menerima satu kenyataan baru: Musik nggak mati. Uangnya saja yang berpindah tempat. Dan musisi yang bertahan bukanlah mereka yang paling keras, tetapi mereka yang paling paham ke mana uang itu bergerak.

Selama masih ada panggung yang menyala, selama masih ada orang yang membeli kaos band, selama masih ada streaming yang membawa lagu ke telinga pendengar baru, dan selama masih ada komunitas yang mau datang ketika sebuah musisi menaruh karyanya di dunia, maka musik akan terus menghidupi manusia yang menciptakannya. Dengan caatan, bukan sebagai mata pencarian tunggal, tetapi sebagai pusat dari semesta kecil yang terus berkembang di sekelilingnya.

Musik berubah, tapi tetap hidup. Dan selama musik hidup, musisinya pun tetap punya jalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *