AMUSTRA, Gerakan Baru Menata Ulang Ekosistem Musik Nusantara

Urbannews | Indonesia dikenal sebagai negeri dengan kekayaan musik yang nyaris tak tertandingi. Dari Sabang hingga Merauke, ribuan lagu daerah, alat musik tradisional, dan gaya musikal hidup di tengah masyarakat. Namun di balik kekayaan tersebut, industri dan ekosistem musik Indonesia—khususnya musik Nusantara—masih menghadapi persoalan mendasar: minimnya tata kelola, lemahnya perlindungan hak musisi, serta terbatasnya akses pendidikan dan profesionalisme.

Dalam konteks inilah Asosiasi Musisi Nusantara (AMUSTRA) hadir. Dideklarasikan sebagai gerakan kolektif musisi, akademisi, dan pelaku seni, AMUSTRA digadang-gadang menjadi langkah awal untuk membenahi ekosistem musik Indonesia agar lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Ketua Umum AMUSTRA, Prof. Drs. Mauly Purba, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa organisasi ini lahir dari kegelisahan panjang terhadap kondisi musisi Nusantara yang kerap terpinggirkan dalam sistem industri musik nasional.

“Selama ini musisi tradisi dan Nusantara kaya secara budaya, tetapi miskin secara struktur. Banyak yang berkarya tanpa perlindungan hak, tanpa standar profesional yang jelas, dan tanpa akses ke ekosistem industri,” ujar Prof. Purba dalam acara Deklarasi dan Peluncuran AMUSTRA di Jakarta, Selasa (16/12/2025).

Didirikan pada 14 Maret 2025, AMUSTRA memposisikan diri sebagai organisasi independen yang bergerak di bidang pengkajian, pendidikan, penciptaan, penyajian, hingga tata kelola musik. Tujuannya satu: membangun fondasi ekosistem musik Indonesia yang selama ini berjalan sporadis dan belum berpihak sepenuhnya kepada musisi.

Menjawab Masalah Lama Industri Musik

Bukan rahasia bahwa industri musik Indonesia masih timpang. Musik populer komersial mendominasi pasar, sementara musik tradisi, klasik, dan kontemporer Nusantara sering kali berjalan sendiri, bergantung pada idealisme komunitas dan dukungan personal.

AMUSTRA hadir untuk mengisi celah tersebut. Organisasi ini menargetkan terciptanya ekosistem musik yang sehat melalui:

 edukasi hak cipta dan royalti,
 penguatan kapasitas musisi,
 tata kelola profesi yang profesional,
 serta kolaborasi lintas sektor antara musisi, akademisi, industri, dan pemerintah.

“Kami ingin musisi Nusantara tidak hanya dipandang sebagai penjaga tradisi, tetapi sebagai profesional yang berhak hidup layak dari karyanya,” tegas Prof. Purba.

Misi Strategis AMUSTRA

Untuk mewujudkan visinya, AMUSTRA mengemban sejumlah misi strategis, antara lain:

1. Meningkatkan kompetensi dan profesionalisme musisi Nusantara.
2. Mengedukasi musisi terkait hak cipta, royalti, dan kesejahteraan.
3. Membangun tata kelola musik yang adil, berkelanjutan, dan beragam.
4. Menyatukan musisi, akademisi, industri, dan komunitas dalam satu ekosistem.
5. Mengembangkan riset dan pengkajian musik berbasis budaya dan keilmuan.
6. Menyelenggarakan pelatihan, seminar, festival, dan forum musik nasional maupun internasional.
7. Mempromosikan musik Nusantara ke tingkat global.
8. Fokus Isu: Dari Musik Anak hingga Jambore Nasional

AMUSTRA juga menaruh perhatian pada sejumlah isu krusial yang selama ini kurang mendapat ruang. Mulai dari musik anak berbasis nilai kebangsaan, yang kini nyaris terpinggirkan oleh konten instan, hingga pendokumentasian musik Nusantara yang penting bagi arsip budaya dan pendidikan.

Organisasi ini juga berkomitmen menjembatani dunia praktik dan akademik melalui seminar, lokakarya, dan evaluasi standar kompetensi musik. Selain itu, AMUSTRA membuka ruang interaksi bagi musisi tradisi lintas daerah dan lintas genre, serta menyediakan program berkelanjutan bagi para pengajar musik.

Salah satu agenda besar yang direncanakan adalah Jambore Musisi Nasional, yang akan menjadi ruang temu, pertunjukan, dan diskusi lintas genre—dari musik tradisi hingga kontemporer.

Dukungan Pemerintah dan Tokoh Musik

AMUSTRA mendapat dukungan penuh dari Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayaan RI, Fryda Lucyana K., S.H., LL.M., yang duduk sebagai Dewan Penasihat. Ia berharap AMUSTRA dapat menjadi “rumah besar” bagi seluruh pelaku musik Indonesia.

“Kolaborasi lintas generasi dan lintas daerah adalah kunci agar musik Indonesia tetap hidup, relevan, dan mendunia,” ujarnya.

Sementara itu, Nyak Ina Raseuki, Ph.D., Dewan Pembina AMUSTRA, menilai kehadiran organisasi ini sebagai langkah penting menjaga harkat dan masa depan keragaman musik Nusantara.

Harapan Baru bagi Musik Indonesia

Lebih dari sekadar organisasi, AMUSTRA hadir sebagai simbol perlawanan terhadap ekosistem musik yang timpang. Di tengah tantangan industri yang belum sepenuhnya berpihak pada musisi, AMUSTRA menawarkan harapan baru: musik Nusantara yang tidak hanya lestari, tetapi juga berdaulat secara ekonomi dan profesional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *