by

Acila Kembali Di Gelar Tahun 2016 Mendatang

-On Stage-217 views

ACILA FOTO

Suka atau tidak suka, kenyataannya lagu-lagu anak yang berkembang belakangan ini telah didominasi oleh lagu-lagu yang cenderung kurang mendidik dan tidak sesuai dengan usia tumbuh kembang anak itu sendiri. Kita pun sudah amat jarang, bahkan tidak pernah lagi bisa memperkenalkan lagu anak-anak yang dekat dalam hidup mereka. Sungguh miris, kini anak-anak lebih mengutamakan lagu-lagu dewasa yang masih sangat rumit dicerna oleh mereka sendiri.

Musik atau lagu anak seharusnya bermuatan sesuai dengan kebutuhan dunia anak, baik ritmik, melodi dan isi (lirik). Keriangan menjadi unsur penting dalam lagu anak yang dapat memicu terbentuknya suasana dan perasaan positif bagi perkembangan anak. Kita semua tentu saja, ingin anak-anak kita, anak Indonesia seluruhnya, mendapatkan lagu-lagu yang mendidik, sesuai dengan pertumbuhan mereka yang membangun kejiwaan mereka.

Lagu anak-anak yang sudah menjadi khazanah kultural dunia anak Indonesia ini, memang semakin sayup-sayup menghilang. Langka sudah kita mendengar lagu-lagu seperti karya Pak AT. Mahmud, Ibu Sud, Bu Kasur, Pak Dal, dan lain-lain. Hal ini, membuat beberapa orang prihatin dan mencoba matia-matian untuk mengembalikan dan menghidupkan kembali masa kejayaan lagu-lagu anak Indonesia yang edukatif dan berkualitas, serta memupuk bakat dan minat bagi masyarakat dalam penciptaan lagu anak.

Salah satu orang yang secara langsung menanggapi masalah krisis lagu anak Indonesia adalah psikolog Tika Bisono. Setelah sukses penyelenggaraan pada tahun 2011 dan tahun 2013 lalu, sekaligus melahirkan 2 album yakni Acila 1 dan Pelangi Acila. Wanita kelahiran 1 Oktober 1960 ini, terus bergerak penuh semangat untuk menggelar kembali Acila untuk periode 2015/2016 sebagai media untuk memberikan kesegaran didunia musik anak Indonesia. Apa lagi, dari album Acila ada beberapa yang telah memenangkan 5 nominasi di ajang AMI Award 2015 lalu.

Acila Indonesia 2015/2016 yang didukung PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia), Bank BRI dan juga RRI, persiapan pelaksanaan sudah dimulai sejak tahun 2014 dan tata cara serta tata laksana akan diumukan lewat media cetak maupun elektronik, atau bisa juga di website Acila, yakni www.acilaindonesia.com. Entries data peserta lomba yang diterima paling akhir bulan Maret 2016 cap pos, sedangkan penjurian dilaksanakan awal April 2016, dan pengumuman pemenang akhir Mei 2016.

“Ajang Lomba Cipta Lagu Anak atau Acila Indonesia 2015/2016 ini dilaksanakan untuk memberikan penyegaran dan alternatif baru bagilagu-lagu anak pop Indonesia yang menjadi rujukan yang kreatif, harmonis, dan edukatif, agar proses tumbuh kembang anak dapat sesuai dengan usia dan tahap perkembangan mereka, baik secara fisik, mental, spiritual dan perilaku perkembangan kepribadian serta karakter untuk menguatkan akar budaya,” jelas Tika Bisono sebagai Ketua Umum Acila, saat acara kick off Acila 2015/2016 di Kawasan Pejaten, Jakarta, Senin (28/12).

Lahirnya dua album dua Album Acila merupakan salah satu langkah pembuktian dari eksistensi atas perjalanan para penggagasnya. Termasuk juga, album bisa menjadi media presentasi atas kegiatan eksperimen dan eksplorasi bermusik para musisi atau pencipta lagu sebagai persembahan atas karya lagu anak. Namun, persoalannya bukan hanya sebatas melahirkan karya lagu anak dan kemudian mengemasnya menjadi cd album, tapi bagaimana karya yang baik ini bisa sampai ke anak-anak dan menjadi popular untuk didendangkan, sekaligus juga mampu merubah perilaku anak-anak mengkonsumsi lagu sesuai jiwanya.

Ditengah industri musik nggak asyik saat ini, terutama distribusi lewat gerai atau toko-toko cd yang mati suri menjadi persoalan. Belum lagi, penjualan lagu lewat digital download atau streaming pun sifatnya masih sangat terbatas. Hanya mereka yang paham dan betul-betul mengerti cara mengaksesnya, karena terlalu rumit dan juga sistem pembayarannya harus punya kartu kredit atau akun PayPal untuk bertransaksi yang belum tentu semua orang punya. Kalau pun ada, saat ini pola distribusi yang sekarang banyak dilakukan lewat bundling produk, dimana karya lagu ditempatkan hanya sebatas bonus atau pelengkap.

Alternatif distribusi diatas memang tidak salah, namun perlu juga dicari alternatif lain yang bisa menggerakkan dan membangkitkan kembali animo anak-anak untuk mendengarkan lagu-lagu yang sesuai karakternya. Bukan hanya lewat cd album, digital download, bundling produk, atau lainnya, tapi bisa juga karya lagu-lagu dengan muatan lirik sarat pesan yang sudah baik ini dibukukan. Bentuknya bisa bermacam-macam, bisa buku lirik lagu yang dilengkapi dengan notasi atau tablature sebagai panduan. Bisa juga, dari liri lagu-lagu ini diadaptasi menjadi sebuah buku cerita atau cerpen, karena setiap lagu ada cerita dan makna yang tersirat untuk disampaikan.

Lagu-lagu Acila tidak hanya ada dalam ruang dengar saja dalam bentuk cd album, tapi juga berada dalam ruang baca lewat buku yang mempunyai rentang waktu lama yang bisa dikonsumsi cukup lama. Paket distribusi pun bisa dijajakan di dua outlet sekaligus, di toko cd yang masih ada atau lewat toko buku. Belum lagi, lirik lagu yang sudah menjadi cerita atau cerpen, bisa menjadi medium baru atau juga promo untuk dikerjasamakan dengan radio (RRI) lewat program kru-cila, dimana anak-anak bisa membacakannya dengan ilustrasi musik lagu itu sendiri. Membudayakan kembali dongeng atau cerita untuk anak pun dapat digelorakan.|Edo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed