Urbannews | Di industri video musik, sorotan kamera kerap jatuh pada penyanyi, sutradara, atau bintang yang berdiri tepat di tengah frame. Namun jarang sekali publik menyadari ada tangan-tangan sunyi yang memastikan setiap adegan lahir dengan presisi, setiap detik terukur, dan setiap visi terwujud tanpa cela. Di ruang sunyi itulah nama Theresa Kusumadjaja bekerja—hingga akhirnya gaungnya terdengar sampai ke panggung Grammy Awards.
Pada 1 Februari 2026, di gemerlap Crypto.com Arena, Los Angeles, sejarah kecil namun penting tercatat: Theresa menjadi perempuan Indonesia pertama yang masuk nominasi Grammy dalam kategori Best Music Video. Sebuah capaian yang bukan sekadar prestasi personal, melainkan representasi ekosistem kreatif Indonesia yang pelan namun pasti menembus pusat industri global.
Video Musik sebagai Bahasa Visual Global
Nominasi itu datang lewat proyek video klip “So Be It” milik duo hip-hop legendaris Amerika, Clipse—yang digawangi Pusha T dan Malice. Disutradarai oleh Hannan Hussain, Theresa bertindak sebagai produser video—posisi yang kerap luput dari sorotan, namun justru menjadi tulang punggung produksi.
Dalam lanskap video musik kontemporer, produser bukan sekadar pengatur anggaran. Ia adalah penjaga visi. Ia menjembatani idealisme sutradara dengan realitas produksi. Ia memastikan energi kreatif tidak tergerus oleh batas waktu dan logistik. Di titik inilah Theresa berdiri—membangun ritme di balik layar, mengatur harmoni di tengah kompleksitas.
Diaspora Kreatif dan Identitas yang Cair
Theresa adalah warga negara Indonesia yang kini menetap dan berkarya di Amerika Serikat, aktif sebagai produser di New York. Media sosialnya memperlihatkan jejaring pertemanan dengan musisi dan seniman lintas disiplin—sebuah potret diaspora kreatif yang tak lagi dibatasi geografi.
Namun yang menarik bukan hanya soal domisili atau lingkar sosialnya. Yang lebih penting adalah bagaimana identitas Indonesia hadir tanpa perlu diumumkan secara eksplisit. Dalam era global, representasi tak selalu berupa simbol visual yang gamblang. Ia hadir dalam etos kerja, sensitivitas estetika, dan cara membaca budaya populer.
Di tengah kabar bahagianya yang juga diwarnai momen pertunangan dengan Graeme Bettler, publik melihat sisi personal Theresa. Tetapi di atas semua itu, yang lebih kuat adalah narasi tentang konsistensi dan keberanian menembus pasar yang sangat kompetitif.
Komentar Oleg Sanchabakhtiar
Sebagai pelaku dan pengamat video musik Indonesia, Oleg Sanchabakhtiar, video maker senior sekaligus inisiator Indonesian Music Video Awards, melihat pencapaian ini sebagai momentum penting.
https://www.indonesianmusicvideoawards.com
“Nominasi ini bukan hanya kemenangan Theresa, tapi validasi bahwa talenta Indonesia mampu bermain di level tertinggi industri global. Video musik hari ini bukan lagi produk promosi semata—ia adalah karya sinematik yang berdiri sendiri. Ketika seorang produser Indonesia masuk nominasi Grammy, itu artinya sistem kerja, disiplin produksi, dan visi kreatif kita sudah diakui dunia.” paparnya.
Oleg juga menambahkan bahwa selama ini Indonesia memiliki banyak talenta kuat di bidang video musik, namun belum semua mendapatkan panggung internasional.
“Theresa membuka pintu. Ia menunjukkan bahwa profesi produser video bukan sekadar teknis, melainkan strategis dan visioner. Ini akan menginspirasi generasi baru untuk melihat video musik sebagai medan seni yang serius, bukan batu loncatan.”
Sebuah Awal, Bukan Akhir
Nominasi Grammy bukanlah garis finis. Ia adalah penanda bahwa perjalanan telah mencapai satu bab penting. Dalam musik, seperti dalam hidup, setiap klimaks selalu diikuti oleh komposisi baru.
Theresa Kusumadjaja mungkin selama ini bekerja dalam bayang-bayang cahaya panggung. Namun kini, namanya sendiri menjadi cahaya—menerangi kemungkinan baru bagi kreator Indonesia.
Dan seperti video musik yang baik, kisah ini tidak berhenti pada satu frame. Ia bergerak. Ia berkembang. Ia terus mencari beat berikutnya.
