Harry Murti: Drum, Kayu, dan Keberanian untuk Membuat Bunyi Sendiri

Urbannews | Ada musisi yang mengejar panggung, ada pula yang memilih tinggal di balik bunyi. Harry Murti termasuk golongan kedua—dia percaya bahwa musik tidak selalu lahir dari sorotan lampu, tetapi dari kegelisahan yang dikerjakan dengan sabar.

Drum, bagi Harry, bukan sekadar instrumen ritmis. Ia adalah bahasa. Dan seperti bahasa, drum harus jujur pada penuturnya.

Nama lengkapnya Raden Mas Harimurti Koentjoro, dikenal luas sebagai Harry Murti. Karier musiknya dimulai sejak 1980, ketika ia bermain drum dalam band yang dibentuk bersama ayah Petra Sihombing dan rekan-rekannya. Di masa itu, Harry adalah drummer—pemain yang berdiri di belakang, mengatur denyut, menahan ego.

Namun perjalanan itu tidak berhenti di balik set drum. Justru di sanalah pertanyaan-pertanyaan mulai tumbuh.

Ketika Taste Mendahului Instrumen

Setiap musisi, cepat atau lambat, akan sampai pada satu titik: taste-nya berkembang lebih cepat daripada alat yang ia miliki. Di titik ini, instrumen tak lagi membantu, melainkan membatasi. Ide bunyi sudah jelas di kepala, tetapi tangan tak bisa mewujudkannya karena alat tak mampu menjangkau imajinasi itu.

Harry Murti hidup lama di ruang ini.

“Kenapa drum bagus harus selalu mahal?”
“Kenapa seolah kualitas hanya milik merek luar negeri?”

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan keluhan, melainkan refleksi musikal. Bagi Harry, drum bukan benda netral. Ia adalah perpanjangan tubuh dan pikiran. Jika instrumen gagal menerjemahkan karakter pemainnya, maka ada yang harus diperbaiki—dan tidak selalu berarti membeli yang lebih mahal.

Dari sinilah gagasan tentang custom drum impian lahir. Drum yang tidak dibuat untuk pasar, melainkan untuk rasa.

Dari Drummer ke Drum Maker

Tahun 1995 menjadi penanda penting. Harry mendirikan Harry’s Drum Craft, sebuah workshop yang dibangun bukan dari ambisi bisnis besar, tetapi dari kebutuhan musikal yang sangat personal.

Harry tidak belajar setengah-setengah. Ia pergi ke luar negeri untuk memahami proses pembuatan drum dari A sampai Z—bagaimana pabrik-pabrik internasional bekerja, bagaimana standar kualitas ditetapkan, bagaimana bunyi diperlakukan sebagai hasil dari keputusan teknis yang presisi.

Meski namanya tidak sebesar brand global, Harry’s Drum Craft berjalan dengan prinsip yang sama: kualitas lebih dulu, popularitas belakangan.

Setiap drum dibuat berdasarkan dialog. Siapa pemainnya, bagaimana karakter pukulannya, genre apa yang ia mainkan, bunyi seperti apa yang ia cari. Rata-rata drum buatan Harry memiliki empat hingga enam lapisan kayu, dirancang untuk keseimbangan resonansi, attack, dan sustain.

Kayu, Etika, dan Bunyi yang Bertanggung Jawab

Dalam dunia drum, kayu adalah jiwa. Harry memilih material yang juga digunakan oleh drum-drum ternama dunia, salah satunya kayu ebony—kayu eksotis dengan karakter suara yang kaya dan dalam.

Namun pilihan ini menyimpan dilema. Ebony adalah kayu yang dilindungi dan terancam punah di Indonesia. Karena itu, Harry sering mendapatkannya dari Eropa, dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab ekologis.

Di sisi lain, ia juga memanfaatkan kayu lokal dari bentuk yang sudah jadi—meja kayu besar, misalnya—yang kemudian ia iris ulang menjadi shell drum. Pendekatan ini bukan hanya soal ketersediaan bahan, tetapi juga sikap: menghormati material dan sejarah yang sudah melekat padanya.

Proses panjang dan material yang tidak mudah didapat berdampak pada harga. Satu set drum profesional buatan Harry dibanderol mulai dari Rp 25 juta. Angka yang mungkin terasa tinggi untuk produk lokal, namun sepadan dengan kualitas, ketahanan, dan karakter suara yang ditawarkan.

Beberapa drum buatannya bahkan telah digunakan oleh musisi internasional—pembuktian yang datang bukan dari logo besar, melainkan dari bunyi di atas panggung.

Harry tidak pernah memosisikan dirinya sebagai “melawan” brand luar. Ia lebih tertarik pada satu hal: memberi pilihan.

Pilihan bagi drummer Indonesia untuk memiliki instrumen yang dibuat sesuai karakter mereka sendiri. Pilihan untuk tidak selalu bergantung pada impor. Pilihan untuk percaya bahwa karya lokal bisa berdiri sejajar—tanpa harus kehilangan identitas.

Baginya, drum yang baik bukan yang paling mahal atau paling terkenal, melainkan yang mampu membuat pemainnya lupa pada alat dan fokus pada musik.

Drum Lokal, Identitas Global

Di tengah arus industri musik yang kian seragam, Harry’s Drum Craft hadir sebagai pengingat bahwa personalisasi adalah kemewahan sejati. Ia bukan sekadar alternatif, melainkan pernyataan: bahwa Indonesia punya pembuat instrumen dengan standar global dan rasa lokal yang kuat.

Dan Harry Murti bukan satu-satunya. Di luar sana, banyak pembuat alat musik lokal dengan dedikasi senyap namun konsisten. Mereka membangun reputasi Indonesia bukan lewat klaim, melainkan lewat kualitas.

Pada akhirnya, drum-drum buatan Harry Murti bukan hanya alat musik. Ia adalah arsip kegelisahan, hasil dialog panjang antara tangan, telinga, dan kayu. Sebuah bukti bahwa bunyi paling jujur sering lahir dari keberanian untuk membuat sendiri apa yang tidak kita temukan di pasaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *