by

“Zentuary”, Perjalanan Spiritual Musik Dewa Budjana!

-Music-124 views

image

Jakarta, UrbannewsID.| I Dewa Gede Budjana atau yang lebih dikenal dengan nama Dewa Budjana seolah tak pernah usai mendentingkan dawainya merasuk kedalam karya. Betapa tidak, bagi Dewa Budjana musik merupakan refleksi dari sebuah perjalanan spiritual. Menurut Budjana, dalam komposisi terkandung gagasan, pemikiran, perenungan, keprihatinan, emosi, dan gejolak jiwa. Tapi, dia tak menuliskannya dengan kata-kata, melainkan dengan melodi dawai gitarnya.

Budjana yang lahir pada 30 Agustus 1963 di Waikabubak, Sumba Barat ini mengungkapkan, bermusik yang dilakoninya puluhan tahun sama halnya dengan laku hidup yang dijalaninya sehari-hari. Selalu saja ada tempatnya yang hening dan teduh untuk meluluhkan, mengendapkan segala hiruk pikuk kehidupan. “Dalam kondisi gonjang-ganjing seperti ini misalnya, kita perlu tempat yang teduh!,” ujar Budjana, saat dijumpai dalam rangka konser tunggal promo albumnya.

Maka, tidak heran jika perjalanan hidup yang dilakoni Budjana selalu dirangkum kedalam bahasa musik lewat karya-karya yang direkamnya, mulai dari album perdana Nusa Damai (1997), Gitarku (2000), Samsara (2003), Home (2005), Dawai in Paradise (2011), Joged Kahyangan (2013), Surya Namaskar (2014), Hasta Karma (2015), termasuk yang teranyar album “Zentuary” yang direkam dan diedarkan dalam kemasan double-CD oleh Favored Nations, sebuah lebel milik gitaris dunia, Stave Vai. Dan satu-satunya musisi Asia yg diterima di Label Steve Vai itu, baru Dewa Budjana.

image

Dalam album Zentuary, Dewa Budjana didukung para musisi kawakan kelas dunia, yakni Jack de Johnette, Tony Levin, dan Gary Husband. Tak hanya itu, ia juga didukung Guthrie Govan (electric guitar), Tim Garland dan Danny Markovitc (saxophone). Selain itu, juga melibatkan Czech Syomphony Orchestra. Selain nama-nama kelas dunia, Dewa Budjana juga melibatkan para musisi dan penyanyi Indonesia seperti Saat Syah (traditional flute), Nyak Ina Raseuki dan Risa Saraswati (vocal/voices).

Zentuary sendiri sebuah penggabungan dua kata, Zen dan Sanctuary. Lagi-lagi ini merupakan refleksi seorang Dewa Budjana yang memotret dirinya sendiri sepanjang perjalanan hidupnya. Menurutnya, zen sebagai pikiran dan batin yang hening, serta mengendap. Sedangkan sanctuary adalah tempat yang teduh, damai, dan tenang. Karena setiap awal pasti akan memiliki akhir, terlepas dari sebuah keinginan yang bertentangan. “Ini semacam perjalanan spiritual melakoni hidup. Ada saatnya kita butuh suasana yang sejuk, damai, dan hening meninggalkan hiruk pikuk kehidupan,” jelasnya.

Dengan musik memang semuanya akan menjadi lebih mudah. Yang paling abstrak pun di dunia nyata sulit bertemu, di dalam musik bisa diketemukan dengan mudah. Contohnya, Chord-chord mayor misalnya bisa ditabrakkan dengan chord minor. Tapi, semua tergantung cara membacanya dan menginterpretasinya, kemudian yang terpenting mampu menterjemahkan untuk bisa berdialog dengan bahasa musik. Walau instrumen musik menghasilkan beragam bunyi, tapi dia mampu menghasilkan harmoni yang enak didengar.

image

Komposisi Budjana dalam Zentuary penuh muatan nuansa etnik yang kental dengan atmosfir warna jazz yang sudah disebarluaskan secara worldwide sejak Oktober silam. Guna menandai hadirnya di Indonesia, Dewa Budjana menggelar konser tunggal promo albumnya yang berlangsung di dua tempat. Budjana didukung banyak musisi tanah air seperti Shadu Rasjidi (electric bass), Marthin Siahaan (keyboard), Irsa Destiwi (piano/keyboard), Demas Narawangsa (drums), Jalu G. Pratidina (perkusi), Rega Dauna (harmonika) dan tentunya, Saat Syah.

Konser pertama telah digelar di Taman Tebing Breksi yang terletak di kawasan perbukitan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, pada 25 November 2016 lalu. Ikut tampil dalam konser tersebut para vokalis, seperti Sruti Respati dan Asterika Widiantini, serta musisi lokal Yogyakarta, yakni Singgih Sanjaya String Orchestra dan Anon Suneko Omah Gamelan. Kemudian berlanjut di NuArt Sculpture Park, Bandung, pada tanggal 30 November 2016, ditemani sederet penyanyi pendukung. Diantaranya, Trie Utami, Cabrinu Asteriska, Irsa Destiwi, Jalu Pratidina, Shadu Rasjidi, Demas Narawangsa, Marthin Siahaan, dan Rega Dauna.

Pilihan dua tempat konser terbuka (outdoor) yang masih kental dengan nuansa keindahan alam dan kulturalnya, memang sangat ngepas dengan komposisi musik berbalut unsur etnik dalam album Zentuary yang selalu melekat. Budjana ingin menyuguhkan sesuatu yang beda, menyatukan harmonisasi musiknya dengan atmosfir alam. Tebing Breksi maupun di di NuArt Sculpture Park adalah tempat yang tepat dan strategis, sehingga sangat pas dengan konsep album ‘Zentuary’ yang instrumental menyejukkan hati yang mendengarnya untuk melebur bersama alam.|Edo (Foto Istimewa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed