by

Winter in Tokyo, Film Drama Jepang Rasa Indonesia

-Movie-157 views

image

Jakarta, UrbannewsID. | Menyaksikan film ‘Winter in Tokyo’ karya Fajar Bustami, sutradara yang mulai unjuk gigi di panggung perfilman Indonesia, Senin (1/8) sore di CGV Blitz Thamrin, Jakarta, kita diajak menyaksikan sebuah drama romansa remaja Jepang. Walau filmnya sendiri dibuat oleh para sineas lokal dengan jajaran aktor-aktris Indonesia, namun baik nama pemain, karakter dan atmosphirnya semua berlatar belakang Negeri Matahari Terbit.

Film besutan Unlimited Production dan Maxima Pictures yang akan tayang pada tanggal 11 Agustus 2016 mendatang. Ternyata diangkat dari novel Bestseller berjudul sama karya Ilana Tan, dan kemudian di adaptasi menjadi cerita sebuah film oleh Titien Wattimena yang di dampuk sebagai penulis naskahnya. Menurut Oswin Bonifanz selaku produser dan juga founder dari Unlimited Production, memfilmkan novel ‘Winter in Tokyo’ bukanlah perkara mudah.

image“Novel karya Ilana Tan yang berlatar di Tokyo, Jepang dengan karakter yang melekat didalamnya, justeru di sinilah tantangannya. Novel ‘Winter in Tokyo’ sangat menarik untuk difilmkan, karena tidak saja begitu romantis tetapi ada juga pesan moral mengenai makna cinta itu sendiri. Banyak orang yang tidak bisa membebaskan antara cinta dan sayang, bahkan salah mengartikan cinta pada keinginan sesaat dan sepihak,” ungkap Oswin, menambahkan.

Film ‘Winter in Tokyo’ berkisah tentang Keiko (Pamela Bowie), gadis cantik yang tinggal di apartment pinggiran Kota Tokyo. Kedatangan Kazuto (Dion Wiyoko) yang kembali ke Jepang setelah lama tinggal di Amerika, sebagai tentangga baru di apartment membuat hidup Keiko jadi lebih berwarna. Kebersamaan mereka di sepanjang musim dingin menimbulkan benih cinta di hati Kazuto. Pada saat itulah Keiko baru menyadari perasaannya yang sebenarnya, karena cinta harus dirasakan untuk bisa dimengerti.

Film Winter in Tokyo yang sepenuhnya melakukan syuting di Jepang ini. Menurut Fajar Nugros, agar dapat merasakan suasana romantis dengan kualitas dan lanskap Tokyo yang bagus seperti isi cerita novelnya. “Novel Winter in Tokyo adalah kisah cinta yang susah ditebak. Salem. Main nya nggak di permukaan dengan kata-kata saja, tapi dengan ekspresi dan suasana. Situasi winter itu bukan pemanis saja, tapi bikin suasana dan perasaan romantis makin dapat,” jelas Fajar.

image

Para pemain Winter in Tokyo seperti Dion Wiyoko (Nishimura Kazuto), Morgan Oey (Kitano Akira), Pamela Bowie (Ishada Keiko), Kimberly Ryder (Iwamoto Yuri), Ferry Salim (Shinza), Brigitta Cynthia (Haruka) dan Brandon Salim (Tomoyuki), mau tidak mau harus mengeksplorasi ceritanya dan juga karakter orang Jepang secara total. Hal ini, menjadi tantangan tersendiri bagi pemain, terutama dari sisi bahasa maupun aksen yang digunakan pas Jepang-nya maupun Indonesia sendiri.

Soal bahasa yang digunakan dalam film ini sangat menarik. Terutama, penggunaan bahasa Indonesia yang baku sesuai khaedah bahasa yang baik dan benar. Walau, Fajar Nugros sebagai sutradara maupun Titien Wattimena mengatakan soal bahasa ini, terutama dialog bahasa Indonesia sengaja dibuat baku, untuk menggambarkan karakter orang Jepang dalam berbicara. Hal ini juga untuk menjaga konsistensi karakter pemain dalam berdialog.

Memang betul menjaga konsistensi karakter dalam film sangat penting, jika dikaitkan dengan cerita dari mana asalnya. Tapi jika dipaksakan dan tidak total akan menjadi lucu dan mungkin bisa jadi bumerang. Bagaimana tidak, saat terjadi dialog nampak pemain terlihat kaku dan tidak ada ekspresinya. Pemain seperti sibuk menghafal dialog tapi lupa berakting. Seperti tidak ada rasa dan chemistry antara pemain, dan akhirnya cenderung membosankan. |Edo (Foto Istimewa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed