by

Usmar Ismail Awards 2016, Penting Nggak Sih?

-Movie-76 views

image

Jakarta, UrbannewsID. | Judul diatas sangat menarik, terutama menyangkut pertanyaan yang mungkin akan muncul dibenak banyak orang, penting nggak sih Usmar Ismail Awards (UIA) 2016 digelar ditengah begitu banyak festival atau ajang penghargaan bagi para insan perfilman yang selalu melahirkan dan menyisakan kontroversi dikemudian hari.

Pertanyaan semacam diatas sesuatu hal yang wajar, karena ajang penghargaan semacam ini bukanlah milik segelintir orang yang dikemas secara ekskulsif, tapi sudah masuk keruang publik. Terlebih lagi, ada beberapa festival film yang dibuat oleh negara dengan menggunakan dana publik kerap menjadi sorotan, terutama soal pertanggungjawaban yang tidak transparan dan akuntabel.

Lantas, bagaimana dengan UIA 2016 penting nggak sih? Ajang penghargaan yang diprakarsai Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (YPPHUI), sedikit berbeda dengan festival atau ajang penghargaan lainnya yang ada. UIA merupakan ajang penghargaan yang diprakarsai secara independen diberikan kepada insan perfilman ini, juga menghadirkan para wartawan sebagai juri penilai yang selama ini terpinggirkan dan nyaris terlupakan.

Tentu saja kehadiran UIA menjadi berbeda bukanlah masalah, karena banyak ajang penghargaan akan memunculkan lebih banyak sudut pandang penilaian untuk saling memperkuat, dan bukan sebaliknya. Termasuk juga akan bertambah jumlah penerima penghargaan, karena setiap tahun industri film Indonesia melahirkan lebih dari satu film, aktor, dan pekerja film lain yang pantas dihargai sebagai yang terbaik.

Secara teknis, Usmar Ismail Award akan memberi penilaian terhadap film-film nasional dari berbagai genre. Dewan juri akan memilih film bioskop yang tayang selama kurun waktu akhir Desember 2014 hingga Februari 2016. Yang menarik, ajang yang menyiapkan 17 piala tersebut menggandeng wartawan yang tergabung dalam Forum Pewarta Film untuk menyeleksi sekaligus memilih film mana yang berpeluang terbaik dari yang terbaik dari masing-masing kategori.

Gelaran UIA 2016 sekaligus juga menyambut Hari Film Nasional ke-66 yang jatuh pada 30 Maret 2016. Adisurnya Abdy selaku sekretaris YPPHUI dan juga Ketua Pengarah UIA menjelaskan, alasan pewarta film yang dilibatkan dalam penjurian dan bukan insan film, adalah karena pewarta dianggap berdasarkan pengalamannya menilai dan mengkritisi.

Pewarta film minimal pasti sudah nonton 70 persen dari film Indonesia yang beredar. Krena mereka menjadi bagian dari premier film, soal bagaimana kalau ada film yang belum mereka nonton dan harus dinilai, kami ada mekanisme,” ucapnya Adisurya dalam konferensi pers di gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta Selatan, Jumat (15/1) sore.

Adisurya juga menambahkan, penjurian yang dilakukan oleh para pewarta film tak ubahnya seperti Golden Globe yang penilaiannya itu dari jurnalis juga. Tentunya, sebelum penilaian dilakukan dewan juri yang teridiri dari pewarta film akan diberikan pembekalan dasar-dasar produksi film. Dari fotografi, sinematografi, penyutradaraan, penulisan skenario, kostum dan hal teknis lainnya.

Panitia UIA 2016 bekerjasama dengan stasiun televisi Trans 7 yang dalam hal ini bertindak sebagai team official, akan menayangkan acara awarding night pada Sabtu, 2 April 2016 mendatang. Taufik Andaru Baskara sebagai Ketua Pelaksana menambahkan, ajang ini didedikasikan untuk mneghormati sekaligus menghargai sosok pria kelahiran Bukittinggi 20 Maret 1921, H Usmar Ismail.

Selain ingin menghadirkan sebuah ajang penghargan bergengsi yang berbeda dalam industri perfilman Indonesia, sekaligus juga untuk memperingati Hari Film Nasional dimana sosok beliau sebagai bapak perfilman menjadi tonggak sejarah kemajuan industri film di Indonesia,” tutup putra aktris senior Lenny Marlina ini.

Guna mendukung konsep malam puncak pada 2 April manti, Samuel Watimena, desainer senior tanah air yang masih konsisten terlibat di dunia perfilman Indonesia dan juga salah satu ketua bidang acara menuturkan, pada perhelatan malam puncak akan menampilkan sebuah festival film dengan ‘Rasa Nusantara’ sepenuhnya.

Saya akan banyak melibatkan para designer yang mengeksplorasi kekayaan budaya nusantara dalam konten yang lebih lengkap. Kehadiran identitas Indonesia sangat penting di masa global seperti saat ini, untuk memperlihatkan nusantara dalam balutan kain, tatanan rambut hingga perhiasan yang ada.” jelas Samuel.

Peresmian UIA 2016 yang mengusung tagline “Anugerah Film Sesungguhnya” yang dihadiri oleh artis pejabat, serta tokoh-tokoh organisasi perfilman seperti Lenny Marlina, Widyawati dan lainnya bertempat di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Kuningan Jakarta.

Ketua Dewan Juri dan Kehumasan, Teguh Imam Suryadi menjelaskan, anugerah insan perfilman Indonesia sesungguhnya ini dapat memotivasi lagi kreativitas di dunia perfilman tanah air, selain menjadi trigger bagi penyelenggaran festival film yang lain tentunya. Karena Film dan Pewarta Film sesungguhnya tidak bisa dipisahkan.

Dalam perhelatan perdananya ini akan diadakan beberapa program UIA 2016 kedepannya yang telah dimulai dengan berziarah ke makam ‘Bapak Perfilman Indonesia’ Haji Usmar Ismail di TPU Karet Bivak, Jakarta Selatan, pada Minggu (10/1) kemarin. Akan menyusul program berupa roadshow, seminar, pameran foto, workshop penjurian film, dan pemberian penghargaan.

|Edo (Foto Istimewa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed