by

“Sundul Gan: The Story of Kaskus”, Film Biopik Dua Pendekar Pendiri Kaskus!

-Movie-82 views

image

Jakarta, UrbannewsID. | Bioskop Indonesia beberapa tahun belakangan diramaikan oleh film biopik atau film biografis yang mengambil latar peristiwa yang sudah lama terjadi, tetapi yang baru saja lewat (recent history), bahkan bisa saja orang yang difilmkan masih hidup. Tokoh-tokohnya pun tidak harus “orang besar” yang sudah masuk taman makam pahlawan atau yang dikenal publik lintas kalangan dan lintas generasi.

Sebagai contoh, film biopik Sang Pencerah (2010), Soegija (2012), Sang Kiai (2013), Soekarno (2013), dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015) adalah biopik pahlawan yang paling ramai dibicarakan. Begitu pula produksi pengetahuan sejarah hidup tokoh-tokoh masyarakat yang masih ada, seperti Si Anak Kampoeng (2011) tentang Syafii Maarif, Jokowi (2013) tentang Jokowi, Sepatu Dahlan (2014) tentang Dahlan Iskan, drama romantis tentang B.J. Habibie dan Ainun istrinya, dan film Rudy Habibie sendiri yang masih proses produksi.

Film-film tentang tokoh muda, baik dari masa lalu maupun yang masih hidup, dan atau orang dengan popularitas yang lebih terbatas juga dibuat biopiknya, semisal Marsinah (2001) aktivis buruh yang dibunuh pada 1994, Sokola Rimba (2013 tentang Butet Manurung, seorang perempuan yang mengabdikan hidupnya untuk mendidik anak-anak di hutan pedalaman di Jambi, hingga Gie (2005). Belakangan, film Merry Riana memotret kesuksesan Merry Riana, seorang pengusaha muda dan motivator, semenjak ia menjadi orang susah di negeri orang hingga “jadi orang sukses”.

imageKini, hadir sebuah film inspiratif dengan sentuhan komedi yang diadaptasi dari kisah nyata perjalanan Ken Dean Lawadinata dan Andrew Darwis, dua anak muda dalam membangun situs forum komunitas terbesar di Indonesia – Kaskus, berjudul “Sundul Gan: The Story of Kaskus” yang disutradarai, diperankan dan diproduseri oleh anak muda yang berbakat, akan tayang perdana di bioskop di seluruh Indonesia pada tanggal 2 Juni 2016.

Pertanyaan-pertanyaan yang mampir pertama-tama dalam kepala saya ketika mengerjakan tulisan ini adalah: Pahlawan bagi siapa? Bagaimana pola penulisan sejarah yang sudah ada membingkai kehidupan si tokoh yang difilmkan? Seperti apa dia dipersepsikan dalam masyarakat? Bagaimana ia direpresentasikan dalam konteks kekinian dan untuk menyampaikan ihwal apa? Pertanyaan-pertanyaan ini mengarah pada problem film biografis dalam tegangan-tegangan antara sejarah dan masyarakat (atau komunitas-komunitas).

Seringkali didiskusikan sebagai sebuah genre, corak biopik cenderung konservatif, jarang sekali mengalami perubahan fundamental, sebagaimana model naratif dalam biografi tertulis juga tidak banyak berubah. Sebagai genre, biopik bisa dikenali dari karakteristik dasarnya: cerita tentang historical person atau peristiwa-peristiwa yang berpusat pada orang tersebut, yang berpijak pada dokumen-dokumen yang ada.

Kami menghadirkan film adaptasi kisah nyata dua anak muda Indonesia yang sukses membangun situs forum komunitas terbesar di Indonesia dengan cara yang ringan, menggunakan efek visual dan disampaikan dalam bahasa anak muda. Dengan demikian kami berharap film ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat terutama generasi muda dan menginspirasi mereka,” jelas Naya Anindita, sutradara film “Sundul Gan: The Story of Kaskus” , saat dijumpai di Kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (28/4).

Film Sundul Gan: The Story of Kaskus’ yang menghadirkan aktor Dion Wiyoko yang berperan sebagai Ken Dean Lawadinata dan Albert Halim menjadi Andrew Darwis, kedua pendiri Kaskus. Naya Anindita menambahkan, ini film komedi ringan yang menyentuh dan menceritakan banyak hal tentang persahabatan dan tantangan dalam membuat bisnis baru. Naya juga berharap film ini dapat membawa elemen baru pada perfilman ber-genre biografi.

Dion Wiyoko, aktor film pemeran Ken Dean Lawadinata mengungkapkan, selama proses syuting, Ia harus merubah fisik dan belajar banyak mengenai karakter Ken yang memiliki visi dan determinasi yang besar dalam mengejar mimpinya. Perjalanan Ken dan Andrew menginspirasi Dion untuk tidak gampang menyerah, dan selama proses pembuatan film ini Dion belajar banyak tentang bagaimana kita harus berani mengambil risiko demi mencapai apa yang kita cita-citakan.

Begitu juga, Albert Halim, aktor film pemeran Andrew Darwis mengatakan, bekerjasama dengan Naya adalah pengalaman yang menyenangkan. Masukan dan metode yang ia terapkan dalam mengarahkan untuk memerankan karakter Andrew membuat Albert nyaman dan percaya diri dalam memainkan peran tersebut. Dari dulu menurut Albert, ia sudah menjadi Kaskuser, jadi senang dapat dipercaya untuk memainkan peran Mimin, tokoh inspirasional bagi kaum muda.

Sementara, baik Andrew Darwis dan Ken Dean Lawadinata, duo pendekar pendiri Kaskus ini mengungkapkan, Film ‘Sundul Gan’ ini adalah warisan bagi anak-anak nya dan generasi muda di Indonesia. Semoga mereka bisa belajar sesuatu dari film ini. Kami adalah contoh anak muda yang memiliki impian, melihat peluang dan bekerja keras dalam mewujudkannya mimpi. Didukung dengan kemajuan teknologi, semakin banyak yang melihat kemajuan ini sebagai ‘ladang’ baru untuk memulai bisnis.

Film “Sundul Gan: The Story of Kaskus” yang akan mengadakan roadshow ke beberapa universitas dan pusat perbelanjaan di kota-kota besar di Indonesia. Meski wajar hadir dalam narasi biografis secara umum, elemen motivasional lebih menonjol sebagai magnet inspirasi. Potret dari sosok-sosok yang difilmkan, sejak awal dibingkai sebagai seseorang yang telah meraih kesuksesan individual, rela berkorban demi nilai dan tujuan hidup yang lebih tinggi, dst—nilai-nilai yang dipandang mulia dalam masyarakat. Ekspos yang besar di media-media serta penerbitan biografi dan memoar dalam ruang baca juga tak bisa diremehkan. Selamat, semoga mampu menjadi trigger bagi generasi muda Indonesia.|Edo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed