by

“Sundul Gan: The Story of Kaskus”, Film Biopik Dua Pendekar Kaskus Bergaya ng’Pop!

-Movie-100 views

image

Jakarta, UrbannewsID. | Ketika memenuhi undangan nonton bareng awak media film “Sundul Gan: The Story of Kaskus” yang mengangkat kisah nyata perjalanan Ken Dean Lawadinata dan Andrew Darwis, dua anak muda yang bersahabat ini dalam membangun situs forum komunitas terbesar di Indonesia “Kaskus” yang digelar di Epicentrum XXI Jakarta, Selasa (31/5) sore. Sebelum menyaksikan filmnya, muncul pertanyaan-pertanyaan yang mampir dalam kepala saya; tokoh yang diangkat dalam film ini pahlawan bagi siapa? Seperti apa mereka ini dipersepsikan dalam masyarakat? Bagaimana ia direpresentasikan dalam konteks kekinian dan untuk menyampaikan ihwal apa?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengarah pada problem film biografis dalam tegangan-tegangan antara riwayat kehidupan dan masyarakat (atau komunitas-komunitas). Bagaimana pola penulisan riwayatnya membingkai kehidupan si tokoh yang difilmkan? Seringkali didiskusikan sebagai sebuah genre, corak biopik cenderung konservatif, jarang sekali mengalami perubahan fundamental, sebagaimana model naratif dalam biografi tertulis juga tidak banyak berubah. Sebagai genre, biopik bisa dikenali dari karakteristik dasarnya: cerita tentang historical person atau peristiwa-peristiwa yang berpusat pada orang tersebut, yang berpijak pada dokumen-dokumen yang ada.

imageTapi, begitu menyaksikan film Sundul Gan: The Story of Kaskus’ yang menghadirkan aktor Dion Wiyoko yang berperan sebagai Ken Dean Lawadinata dan Albert Halim menjadi Andrew Darwis, kedua pendiri Kaskus, pertanyaan-pertanyaan diatas sedikit terjawab. Film yang menjadi debut Naya Anindita sebagai sutradara di layar lebarnya ini, walau ada beberapa hal tidak maksimal seperti penggunaan CGI (Computer-Generated Imagery) saat Ken dan Andrew bertemu di rooftop sebuah gedung dengan latar belakang kota Seattle, Amerika Serikat, kurang mulus dan terlihat seperti tempelan gambar.

Film Sundul Gan yang digarap rumah produksi 700 Pictures, Ilya Sigma dan Priesnanda Dwisatria sebagai penulis skenario. dibintangi oleh Dion Wiyoko, Albert Halim, Pamela Bowie, Masayu Anastasia, Richard Kyle, Afgan, Ernest Prakasa, dan Baim Wong. Naya berhasil menggarap secara ringan dengan sentuhan gaya anak muda yang ng’pop berbalut sedikit komedi yang menceritakan tentang persahabatan dan tantangan dalam membuat bisnis baru. Dan ini, menjadi kredit point bagi Naya yang dapat membawa elemen baru pada perfilman ber-genre biografi.

image“Kami menghadirkan film adaptasi kisah nyata dua anak muda Indonesia yang sukses membangun situs forum komunitas terbesar di Indonesia dengan cara yang ringan, menggunakan efek visual dan disampaikan dalam bahasa anak muda. Dengan demikian kami berharap film ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat terutama generasi muda dan menginspirasi mereka,” jelas Naya Anindita, sutradara film “Sundul Gan: The Story of Kaskus” , saat dijumpai di Kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa (31/5).

Dion Wiyoko, aktor film pemeran Ken Dean Lawadinata mengungkapkan, selama proses syuting, Ia harus merubah fisik dan belajar banyak mengenai karakter Ken yang memiliki visi dan determinasi yang besar dalam mengejar mimpinya. Perjalanan Ken dan Andrew menginspirasi Dion untuk tidak gampang menyerah, dan selama proses pembuatan film ini Dion belajar banyak tentang bagaimana kita harus berani mengambil risiko demi mencapai apa yang kita cita-citakan.

Begitu juga, Albert Halim, aktor film pemeran Andrew Darwis mengatakan, bekerjasama dengan Naya adalah pengalaman yang menyenangkan. Masukan dan metode yang ia terapkan dalam mengarahkan untuk memerankan karakter Andrew membuat Albert nyaman dan percaya diri dalam memainkan peran tersebut. Dari dulu menurut Albert, ia sudah menjadi Kaskuser, jadi senang dapat dipercaya untuk memainkan peran Mimin, tokoh inspirasional bagi kaum muda.

Sementara, baik Andrew Darwis dan Ken Dean Lawadinata, duo pendekar pendiri Kaskus ini mengungkapkan, Film ‘Sundul Gan’ ini adalah warisan bagi anak-anak nya dan generasi muda di Indonesia. Semoga mereka bisa belajar sesuatu dari film ini. Kami adalah contoh anak muda yang memiliki impian, melihat peluang dan bekerja keras dalam mewujudkannya mimpi. Didukung dengan kemajuan teknologi, semakin banyak yang melihat kemajuan ini sebagai ‘ladang’ baru untuk memulai bisnis.

Sesuai dengan judul filmnya, Sundul (menaikkan lagi posting lama) dan Gan (sapaan sesama Kaskuser, dari kata “juragan”), film garapan Naya Anindita hanya ingin menceritakan kisah awal Kaskus berdiri secara ringan dan menyenangkan. Film yang bisa disaksikan di bioskop mulai 2 Juni 2016, soundtrack film ini pun diisi oleh band-band lokal muda, seperti Elephant Kind, Rock & Roll Mafia, Roman Foot Soldiers, Eliezer Mezano & Khrisna Dwi Putra dan Sore untuk mempertegas bahwa film ini untuk anak-anak muda.

Meski wajar hadir dalam narasi biografis secara umum, elemen motivasional lebih menonjol sebagai magnet inspirasi. Potret dari sosok-sosok yang difilmkan, sejak awal dibingkai sebagai seseorang yang telah meraih kesuksesan individual, rela berkorban demi nilai dan tujuan hidup yang lebih tinggi, dst—nilai-nilai yang dipandang mulia dalam masyarakat. Ketika kisah perjuangan Ken dan Andrew mampu menjadi role model dan trigger untuk membuat perubahan positif bagi generasi muda Indonesia yang ingin memulai bisnis, bahwa suksesan bisa diraih siapa saja, asal punya passion dan mimpi, serta melakukan aksi nyata menuju kesuksesan itu.

Lalu, ada satu hal pertanyaan lagi? Apakah, Ken dan Andrew berkawan dan sama-sama seiring sejalan membangun Kaskus selama 17 tahun ini, mampu mempertahankannya. Jangan-jangan, setelah film ini malah mereka bingung harus berbuat apa? Bagaimana Kaskus kedepan merevolusi dirinya untuk selalu menyuguhkan menu-menu inovatif dan kreatif agar tidak ketinggalan kereta, atau terkena penyakit egosentris ke dua pendekar yang sudah kadung populer ini. Ya, semoga saja tuntutan dan harapan Kaskuser, bahwa Kaskus tetap ada dan jauh lebih baik, Ken dan Andrew mampu menjawabnya. Selamat!| Edo (Foto Istimewa)

Sekilas kisah film Sundul Gan: The Story of Kaskus

Ken Dean Lawadinata (Dion Wiyoko) seakan tak memiliki tujuan hidup lain selain bermain game. Sejak duduk di bangku SMA, ia menghabiskan sebagian besar waktunya di depan televisi sambil memegang stick PlayStation. Hal yang sama dengan Andrew Darwis (Albert Halim), mahasiswa Jurusan Teknologi Informasi di sebuah universitas di Seattle, Amerika Serikat. Ia dan laptop layaknya pasangan kekasih, tak terpisahkan. Hari-harinya lebih banyak diisi dengan memandangi laptop di apartemennya atau kedai kopi.

Keduanya bertemu dalam sebuah acara kumpul-kumpul mahasiswa Indonesia di Seattle. Mengetahui bahwa Andrew adalah pembuat situs web Kaskus alias Kasak Kusuk yang sedang hits, Ken menjadi bersemangat. Hingga suatu hari, Ken mengajak Andrew pulang ke Indonesia untuk mengembangkan Kaskus di Tanah Air. Cukup sulit membujuk Andrew yang tak pulang kampung selama enam tahun. Belum lagi ia pesimistis Kaskus bisa bernasib baik di Tanah Airnya.

Namun, Ken dengan modal nekat dan keyakinannya akan potensi Kaskus, akhirnya berhasil menarik Andrew keluar dari zona nyaman. Tanpa Ken sadari, ia pun ikut meninggalkan zona nyamannya. Berbekal dana pinjaman dari sang ayah, Ken dan Andrew pun memulai bisnis mereka di Jakarta. Namun, perjalanan keduanya bukan tanpa masalah dan hambatan. Pertengkaran sengit sering terjadi. Ken sibuk di luar, sedangkan Andrew merasa ditinggalkan rekannya itu.

Di tengah hubungan persahabatan yang semakin merenggang, datang sebuah bencana besar. Kaskus terancam “hancur”, begitu pun dengan pertemanan Andrew dan Ken. Maka, jangan berharap bisa menyaksikan kehebatan teknologi dipadu dialog berat layaknya film Social Network dalam film ini. Lalu, seperti apa kisah dua pendiri situs komunitas terbesar di Indonesia itu., saksikan saja filmnya Gan!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed