by

Sensor Mandiri, Penting Nggak Sih!

-Movie-35 views

TITIP EDO

Jakarta, UrbannewsID. | Judul diatas sangat menarik, terutama menyangkut pertanyaan yang mungkin akan muncul dibenak banyak orang, penting nggak sih sebuah karya kreatif, khususnya film disensor atau dipotong-potong? Pertanyaan semacam ini sesuatu hal yang wajar, dan acapkali selalu melahirkan serta menyisakan kontroversi diranah kerja kreatif disatu sisi dan masyarakat penonton dengan ragam asumsi.

Lantas bagaimana, penting nggak sih? Mari kita simak, transformasi percepatan teknologi kini masuk dalam ruang kehidupan yang memunculkan gaya hidup baru. Apalagi, perangkat yang ada hari ini memungkinkan quadruple play, atau konvergensi empat isi dan fitur yang dahulu terpisah: teks (koran), audio (radio), audio visual (televisi), dan smartphone (telepon genggam) semakin canggih ini, memungkinkan setiap orang bisa menonton video yang diunggah ke jaringan Internet kapan saja serta di mana saja dengan cepat, mudah dan bisa diakses secara mobile.

Persoalannya bukan kehadirannya, tapi soal konten atau layanan produk film-nya jika terdapat adegan-adegan yang mengandung unsur kekerasan hingga pornografi yang dapat dinikmati secara bebas oleh masyarakat yang masih memegang kultur ketimuran, apalagi anak-anak. Apakah para distributor atau eksibitor sudah melakukan sensor sendiri, jawabannya Tidak! Jika diperhatikan, sejauh ini masih terdapat ratusan atau mungkin ribuan konten pada saluran streaming yang memuat film berkategori dewasa tanpa adanya penyensoran terlebih dahulu.

Jika demikian, timbul pertanyaan lagi, siapa yang memiliki otoritas mengatur, menjaga dan mengawasinya? Berdasarkan UU Nomor 33 Tahun 2009, pemerintah telah mengamanatkan Lembaga Sensor Film untuk melindungi masyarakat dari pengaruh negatif film/iklan film, berdampak terhadap hancurnya tatanan kehidupan masyarakat, baik dari segi ideologi, sosial-politik, dan eksistensi sebuah bangsa. Demikian pula bagi bangsa Indonesia, pengaruh karya film dapat berdampak pada aspek tatanan etika, moral, ideologi, keamanan, dan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam konteks tersebut diatas, perkembangan perfilman secara mondial telah memasuki era baru, yaitu apa yang disebut dengan era digital. Era ini ditandai dengan kemajuan teknologi perfilman yang semakin modern, baik itu dalam teknologi produksi maupun teknologi penyiaran. Industri penyiaran film telah memasuki fase e-cinema dan digital film. LSF tidak bisa berjalan sendiri untuk memainkan peran sebagi penjaga gawang memfilterisasi kedigjayaan film yang bisa merubah perilaku dalam hitungan detik.

LSF dengan paradigma barunya, harus membangun dialog yang konstruktif, strategis serta substantif, baik dengan stake holder, pemangku kepentingan perfilman nasional maupun masyarakat, guna membangun kesadaran bersama terhadap pengaruh film atas sebuah tatanan kehidupan dan peradaban bangsa. Termasuk juga, LSF bersama dengan masyarakat seiring sejalan melaksanakan self censorship atau swasensor. Artinya, masyarakat dipersiapkan secara dewasa dan bertanggung jawab guna memilih dengan sadar berbagai program dan tayangan film yang sesuai dengan kebutuhannya.
Perspekstif diatas tersebut, terekam dalam acara talkshow bertajuk “Membangun Sensor Mandiri Dalam Tayangan Film” yang digelar di Auditorium Universiatas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Kamis (17/3) pagi hingga siang hari. Acara pertama dari rangkaian kegiatan LSF mensosialisasikan “Ayo Sensor Mandiri” di Perguruan Tinggi ini, “, dipenuhi para mahasiswa dan juga anak-anak SMA/SMK sebagai tamu undangan yang sangat antusias hadir untuk mendengarkan paparan dari nara sumber.

Talkshow yang dibagi dalam dua sesi ini, menghadirkan nara sumber Ketua Lembaga Sensor Film, Dr. Ahmad Yani Basuki, M.Si dan Arturo Gunapriatna P.Msn dari LSF di sesi pertama, serta Bounty Umbara editor Fim 3 dan Richard Oh sutradara film Milancholy is a Movement di sesi kedua. Pada prinsipnya, mengajak generasi muda bersama-sama untuk memfilterisasi dari pengaruh film negatif yang berdampak buruk perubahan perilaku dan tatanan budaya bangsa, sekaligus menjadi bahan bagi LSF untuk mengetahui lebih dekat pandangan anak muda tentang keberadaan dan fungsi LSF.|Edo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed