by

Sebuah Penghargaan untuk SM Ardan dari Dewan Juri Usmar Ismail Awards 2016

-Movie-137 views

imageJakarta, UrbannewsID. | Dewan juri UIA 2016 yang terdiri dari kalangan pewarta dan kritikus film Indonesia yang tergabung dalam Forum Pewarta Film (FPF) memberikan penghargaan kepada tokoh yang memiliki andil besar dalam sejarah sastra dan film Indonesia yang nyaris terlupakan.

Ya, Dia adalah Syahmardan atau populer dengan nama SM Ardan kelahiran Medan, Sumatera Utara, pada 2 Februari 1932 ini, seorang penyair, cerpenis, novelis, esais, jurnalis dan penulis drama. Meski tidak memiliki darah Betawi dalam tubuhnya, justru Ardan lebih dikenal sebagai sastrawan dan tokoh Betawi.

Dari ragam sumber, kebangkitan lenong, topeng Betawi, dan lain-lain tidak lepas dari tangannya. Sejarah mencatat bahwa Ardan-lah yang pertama kali menggunakan dialek Betawi dalam karya sastra Indonesia. Barulah disusul Firman Muntaco yang banyak menulis sketsa-sketsa Betawi. Karangan-karangan Ardan dimuat di Kisah, yakni majalah sastra bergengsi yang khusus memuat cerita pendek pada 1950-an. Pada 1955, beberapa cerita pendek Ardan yang pernah dimuat di majalah Kisah diterbitkan oleh Gunung Agung dengan judul Terang Bulan Terang di Kali.

imageKumpulan sajaknya diterbitkan bersama Ajip Rosidi dan Sobron Aidit, berjudul Ketemu di Jalan pada 1956. Naskah dramanya, Nyai Dasima yang diterbitkan dalam bentuk novel di 1965. Ardan kemudian lebih banyak menggeluti dunia film. Alasannya untuk hidup. Ini memang di maklumi, karena di Indonesia agaknya tak seorang pun bisa hidup dengan layak hanya dari mengandalkan tulisan-tulisan sastra.

Sebagai jurnalis, dia pernah menjadi redaktur ruang kebudayaan Genta di majalah Merdeka, redaktur Trio (1958), wartawan olahraga Suluh Indonesia, redaktur Abad Muslimin (1966), dan redaktur Citra Film (1981-1982). Lebih dari 22 tahun, dia mengabdi pada Sinematek Indonesia di Pusat Perfilman H Usmar Ismail. Dia juga pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (1982-1990).

Maka sangat tepat, jika Dewan Juri UIA yang terdiri dari Adrian Jonathan (Cinema Poetica), Ami Herman (riauinfo.com), Bambang Sulistyo (Majalah Gatra), Bens Leo (wartawan senior/ pengamat musik), Benny Benke (Suara Merdeka), Bobby Batara (Majalah Allfilm), Chaidir Banjar (Kedaulatan Rakyat), Daniel Irawan (kritikus), Dimas Supriyanto (Poskota), Ekky Imanjaya (kritikus), Ipik Tanoyo (Bali Pos), Puput Pudji (bintang.com), Herman Wijaya (tabloid Bintang Film), Sihar Ramses (Sinar Harapan), Susi Ivvaty (Kompas), Shandy Gasella (detik.com), Tertiani (Jakarta Post), Wina Armada (wartawan senior/ pengamat), Yan Wijaya (wartawan senior), memberikan penghargaan buat beliau.

SM Ardan menghebuskan nafas pada hari Ahad 26 November 2006 pukul 10.18 WIB akibat penyakit yang dideritanya. Dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat dan meninggalkan seorang istri, Masfufah serta tiga orang anak.|Edo (ragam sember)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed