by

Sebuah Catatan Perjalanan Musik Spiritual Dewa Budjana!

-Music-31 views

IMG_20170314_222318

Jakarta, UrbannewsID.| Sore itu, saya menghadiri sebuah undangan seorang rekan, Dion Momongan namanya, untuk mampir ke acara Musik Bagus Day yang di gagas Glenn Fredly untuk keempat kalinya pada Kamis (9/3) lalu di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan. Acara yang berlangsung bersamaan dengan Hari Musik Nasional ini, sederet kegiatan pun digelar mulai dari workshop musik, pasar musik dengan menu CD, kaset, vinyl, action figure, turntable, kaos dan pernak-pernik lainnya, sampai panggung musik.

Berada di acara Musik Bagus Day, selalu saja ada pilihan untuk mengenang dan memotret musik Indonesia dari masa ke masa yang terekam dalam segala bentuk medium visual, seperti sebuah jejak yang tak berjejak. Tanpa harus mengeluh dengan kondisi industrinya lagi asyik (nggak) asyik katanya, sejatinya memang harus tetap melangkah walau tertatih untuk maju kedepan. Dari sekian banyak agenda yang ditawarkan, denger bareng album terbaru Dewa Budjana “Zentuary” bersama Dion Momongan, menarik hati.

Dewa Budjana yang memang tak pernah usai mendentingkan dawainya, tatkala inspirasi merasuk kedalam batinnya segera ia dijadikan sebuah karya. Menurutnya, musik merupakan refleksi dari sebuah perjalanan spiritual, karena dalam setiap komposisi terkandung gagasan, pemikiran, perenungan, keprihatinan, emosi, dan gejolak jiwa. Budjana tak menuliskan syairnya dengan kata-kata, melainkan dengan melodi dawai gitarnya untuk mengajak yang mendengarkannya menyelami cerita dibalik bunyi setiap nada.

Musik adalah sebuah seni bercerita. Melalui musik, kebenaran bisa disampaikan secara apa adanya yang bisa merasuk ke dalam hati dan pikiran. Dengan musik memang semuanya akan menjadi lebih mudah dipertemukan, termasuk yang paling abstrak sekalipun di dunia nyata sulit bertemu. Seperti instrumen musik menghasilkan beragam bunyi, tapi dia mampu menghasilkan harmoni yang enak didengar. Tapi semua tergantung cara membacanya dan menginterpretasinya, sehingga mampu berdialog dengan bahasa musik.

Komposisi Budjana dalam setiap karyanya penuh muatan nuansa etnik yang kental dengan atmosfir cukup unik dan terkesan magis. Budjana mengungkapkan, bermusik yang dilakoninya puluhan tahun sama halnya dengan laku hidup yang dijalaninya sehari-hari. Selalu saja ada tempatnya yang hening dan teduh untuk meluluhkan, mengendapkan segala hiruk pikuk kehidupan. Maka tidak heran, perjalanan hidup yang dilakoninya terekam dalam setiap karyanya mulai dari album perdana Nusa Damai, Gitarku, Samsara, Home, Dawai in Paradise, Joged Kahyangan, Surya Namaskar, Hasta Karma, termasuk juga album teranyarnya Zentuary.

Setiap judul album pun memiliki makna tersendiri bagi diri Budjana, seperti albumnya “Zentuary”. Menurutnya, zen sebagai pikiran dan batin yang hening, serta mengendap. Sedangkan tuary penggalan dari kata sanctuary yang bertarti tempat teduh, damai, dan tenang. “Karena setiap awal pasti akan memiliki akhir, terlepas dari sebuah keinginan yang bertentangan. Ini semacam perjalanan spiritual melakoni hidup. Ada saatnya kita butuh suasana yang sejuk, damai, dan hening meninggalkan hiruk pikuk kehidupan,” ujarnya, suatu ketika di acara berbeda.

Lagi-lagi ini merupakan refleksi seorang Dewa Budjana yang memotret dirinya sendiri sepanjang perjalanan hidupnya. Sayang, acara yang seharusnya bisa dikemas menarik hanya berada di ruang berukuran luas kurang lebih 9 meter persegi terasa sangat sempit. Bangku-bangku yang bisa dihitung dengan jari, tidak mampu menampung antusias mereka yang ingin mendengarkan dan ikut terlibat didalamnya. Saya sendiri bersama Djoko Sirat bassis SOG dan Adib Hidayat dari Majalah Rolling Stone Indonesia, memilih berada diluar ruang.

IMG_20170314_222201

Mendengarkan serta menyimak obrolan Dion Momongan sebagai moderator menggali dan mengupas dengan detail latar belakang album Budjana, mulai dari inspirasi, proses rekaman sampai diperdengarkan karya lagunya. Seandainya dikemas dalam ruang cukup mumpuni, suasana yang santai dan bersahabat, akan semakin asyik. Musik sebagai seni bercerita tanpa sekat akan merasuk dalam jiwa bagi siapa pun yang mendengarkannya. Mengurai rahasia yang tak terungkap, dari tempat tak bertempat untuk sesekali mengucap salam lewat video streeming bagi sahabat lainnya nun jauh disana.|Edo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed