by

Program Workshop Penjurian UIA 2016: Antara Objektivitas dan Subjektivitas Penilaian

-Movie-58 views

 

UIA 2016_WORKSHOP JURI 2

Jakarta, UrbannewsID. | Perhelatan prestisius ajang penghargaan sesungguhnya bagi insan perfilman di Indonesia, yakni Usmar Ismail award 2016, ternyata sudah siap memasuki tahap penjurian. Sejak diumukan penyelenggaraan dan juga para pelaksananya awal Januari lalu, ada lebih dari 140 film yang siap dinilai sebagai peserta UIA 2016.

Mampukah para juri mempertanggungjawabkan peraih penghargaan terbaik yang di pilih kepada publik? Bagaimana para juri menentukan karya sinema yang layak dianugerahi penghargaan Piala UIA? Lewat pertanyaan-pertanyaan macam ini, preferensi seorang juri terhadap sisi konten film sedang dipertaruhkan krebilitasnya.

Tentu saja bukan hal mudah. Menjadi juri adalah sebuah anugerah dan kehormatan namun sekaligus juga sebuah tantangan, sebab jika keputusan yang dihasilkan dinilai kontroversial oleh banyak orang maka pertanggungjawaban sepenuhnya akan kembali kepada juri secara moralitas.

Banyak pertimbangan yang harus dibuat, dari segi cerita, sinematografi, artistik sampai akting. Nah, agar para juri kompak dalam memberikan penilaian terhadap karya sinema, maka perlu disusun guide lines atau buku panduan, serta pembekalan keilmuan sebagai dasar penilian secara utuh.

Senin (15/2/2016) siang, bertempat di Gedung Theater Perpusnas Jakarta, digelar sebuah workshop bagi 15 Juri UIA 2016 yang terdiri dari para pewarta film. Acara yang dipandu Teguh Imam Suryadi dengan nara sumber Zairin Zain, seorang produser dari rumah produksi Citra Sinema, George Kamarullah seorang sinematografer, serta Samuel Wattimena sebagai desainer, berbagi cerita dan pengalaman seputar dunia film yang digelutinya.

Acara yang digelar berkat kerjasama Bidang Penjurian dan Kehumasan Usmar Ismail Award 2016, Sinematek dan Perpusnas. Zairin Zain lebih menekan penilaian sebuah film secara utuh, tidak sepotong-potong. Menurut Zairin, film merupakan hasil karya bersama atau hasil kerja kolektif. Dengan kata lain, proses pembuatan film pasti melibatkan kerja sejumlah unsur atau profesi.

Film juga memiliki kelengkapan beberapa unsur untuk menunjang sebuah karya seni, yakni seni rupa, seni fotografi, seni arsitektur, seni tari, seni puisi sastra, seni teater, seni musik. Kemudian ditambah lagi dengan seni pantomin dan novel. Kesemuannya merupakan pemahaman dari sebuah karya film yang terpadu dan biasa kita lihat. Maka, sejatinya para juri sedikitnya bisa memahami unsur-unsur tersebut.

Sementara, George Kamarullah sebagai sinematografer yang memiliki pengalaman mumpuni dan segudang prestasi Piala Citra yang diraihnya, lebih menekankan pada objektivitas dan mengesampingkan subjetivitas atau selera pribadi. George yang lebih konsen pada sisi sinematografi ini, memberikan beberapa tips untu dewan juri melalui sudut pandang kamera atau aspek visual sebagai panduan dalam menilai nanti.

Menurut George, mengetahui secara tehnis sinematografi sangat penting agar selera pribadi minimal bisa dikesampingkan. Point-point yang menjadi acuan atau panduan dari sisi aspek sinematografi atau visual bisa dilihat dari; Pesan nya, Gaya Bertutur nya, Aspeknya, Emosinya, Sudut Kameranya,Pergerakan kameranya, Pencahayaannya, Komposisinya, dan terakhir Keunikan serta Estetikanya. Sehingga para juri mampu melihat secara objektif secara utuh, karena film adalah produk visual.

Pembekalan melalui workshop ada sebuah pertemuan ide, gagasan dan pengetahuan sebagai sumber sangat penting, untuk menjaga kemurnian penilaian. Workshop semacam ini tidak hanya berhenti saat ada ajang penghargaan saja atau temporer, menurut Teguh Imam Suryadi, ketua Forum Pewarta Film, kegiatan ini akan diagendakan secara rutin kedepannya untuk teman-teman pewarta yang menggeluti dunia film di tanah air.|Edo (Foto Dudut SP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed