by

Posisi Tawar Artis di Industri Film, Tivi, dan Iklan, Untuk Siapa?

-Movie-220 views

image

Jakarta, UrbannewsID.| Menjadi artis itu memang keren, banyak uang, menyenangkan dan tentunya membanggakan. Namun dibalik ‘superioritas’ sebagai artis, tak banyak yang bisa ‘langgeng’ dalam menjalani profesi tersebut. Hanya beberapa artis yang mampu mempertahankan ‘posisi’nya di hati masyarakat, dan juga disenangi para saudagar pemilik modal untuk keperluan bisnisnya. Selebihnya, ada yang ‘pensiun’ (dini) sebagai artis dan memutuskan untuk ‘banting setir’ ke profesi lain. Hal itu disebabkan lantaran ‘siklus’ dunia keartisan yang berputar begitu cepat, termasuk ketidaksiapan menjaga kualitas dan profesionalitas.

Maka tidak heran, jika ada yang mengatakan saat ini daya tawar artis Indonesia, khususnya yang berada dilingkaran industri film, tivi dan iklan, sangat rendah. Artis atau bisa juga disebut sebagai pekerja seni sabagai salah satu profesi penggerak sektor industri kreatif, sejatinya harus meningkatkan kualitas dan daya saing untuk diperhitungkan keberadaannya. Apalagi, saat ini Indonesia sedang bersiap menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community, kesiapan tenaga kerja yang berkualitas dan profesional menjadi perhatian penting.

image

Daya tawar dan kesiapan kualitas profesi keartisan inilah menjadi sorotan utama, dan kemudian diangkat menjadi tema diskusi panel yang digagas Forum Pewarta Film dan Pusbang Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bertajuk “Posisi Tawar Artis di Industri Film, Tivi dan Iklan” yang digelar di Gedung A, Kemendikbud, Jakarta, Selasa (4/10/2016). Diskusi yang dihadiri anggota dan pengurus organisasi para artis film, seperti Parfi, Parfi 1956, Pafindo, juga Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI). Selain menjadi ajang silaturami, diskusi ini dimaksudkan pula untuk menemukan solusi tepat guna mengatasi persoalan diatas.

image

Menurut Syamsul B. Adnan selaku pekerja seni film senior, posisi tawar artis Indonesia masih rendah di industri hiburan karena sistem rekrutmen artis tidak menggunakan parameter yang baku. Tidak punya aturan atau standar yang jelas soal berapa besar honor artis, termasuk ukuran kemampuan si artis itu sendiri. “Untuk itu, artis perlu sertifikasi kompetensi profesi agar lebih kuat sebagai posisi tawar dalam mendapatkan pekerjaan. “Sertifikasi kompetensi diibaratkan Surat Izin Mengemudi (SIM) bagi para pengendara. SIM-nya pun berbeda tingkatan dan peruntukannya, sesuai besar serta kecilnya jenis kendaraan. Begitupun, artis atau pekerja seni grade-nya berbeda sesuai kemampuan dan pengalamannya,” ujar Syamsul.

image

Hal senada, Bagiono SH, Ketua Perkumpulan Artis Film Indonesia (Pafindo) menyampaikan, bahwa sertifikasi kompetensi sebenarnya sudah diamanatkan oleh Undang-Undang No. 33 Tahun 2009, tentang Perfilman. Dimana, dalam UU tersebut mewajibkan insan Perfilman memiliki sertifikasi yang dikeluarkan oleh lembaga atau organisasi yang berkekuatan hukum. Menurut Bagiono,”Kita berharap, Pemerintah mendorong upaya secepatnya program sertifikasi profesi keaktoran. Dengan adanya standardisasi dibidang ini, maka nantinya diperlukan pendidikan dan latihan bagi aktor dan aktris,” jelasnya.

image

Rendahnya daya tawar artis, dirasakan pula oleh artis sinetron Yanti Yaseer yang telah mengantongi lebih dari seratus judul film, ftv dan sinetron. Yanti yang kini bergabung di organisasi Pafindo, mengaku pernah dibayar setengah dari honor yang seharusnya diterima. Untuk itu, kini ia belajar dan berorganisasi supaya lebih paham soal jaminan profesi kedepannya. Sementara, Thamrin Lubis, Sekretaris Persatuan Artis Film Imdonesia (Parfi) menuturkan, pihaknya sudah membentuk Lembaga Sertifikasi Peofesi (LSP) yang anggotanya Roy Marten, Adisurya Abdy, dan Aditya Gumay. Hanya, tinggal menunggu pengesahan Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan dan Kebudayaan.

Diskusi yang dibuka oleh Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud Maman Wijaya, dan berlangsung sekitar dua jam ini banyak hal menarik mengemuka. Pada intinya, mereka sepakat sudah saatnya para pekerja seni atau artis memiliki sertifikasi Profesi. Seperti yang disampaikan oleh Teguh Imam Suryadi, sebagai moderator yang juga koordinator Forum Pewarta Film. “Diskusi ini digagas selain sebagai ajang silaturahmi, sekaligus juga untuk menyatukan persepsi organisasi artis yang marak muncul belakangan ini. Sehingga, mereka mampu mempersiapkan langkah kedepan profesi artis di Indonesia untuk memiliki standardisasi kompetensi sebagai penguat posisi tawar dalam dunia hiburan,” ujar Teguh Imam Suryadi.|Edo (Foto Dudut SP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed