by

Plesetan Lagu “Harta Berharga”, Pelecehan Sebuah Karya Cipta

-Our Corner-152 views

Urbannews | Harta yang paling berharga adalah keluarga//Istana yang paling indah adalah keluarga//Puisi yang paling bermakna adalah keluarga/Mutiara tiada tara adalah keluarga

Selamat pagi Emak//Selamat pagi Abah//Mentari hari ini berseri indah//Terima kasih Emak Terima kasih Abah//Restu sakti perkasa bagi kami putra putri yang siap berbakti….Dst.

Para pemirsa televisi tentu tidak asing lagi dengan lirik di atas. Lirik penuh makna dari sebuah lagu indah theme song (lagu tema) sinetron Keluarga Cemara yang tayang sejak 6 Oktober 1996 – 28 Februari 2005. Sinetron ini dibintangi oleh Adi Kurdi (sebagai Abah) dan Novia Kolopaking (Emak) dan beberap artis lain yang masih anak-anak dan remaja.

Sinetron ini awalnya tayang di RCTI pada tahun 1996 sampai 2003, dan dilanjutkan dengan nama Keluarga Cemara: Kembali ke Asal yang tayang di TV7 pada tahun 2004 dan 2005.

Membicarakan sinetron Keluarga Cemara tentu tak lengkap tanpa membahas lagu tema sinetron tersebut yang berjudul Harta Berharga. Lagu Harta Berharga terasa sangat kuat, lirik maupun melodinya.  Lagu yang liriknya diciptakan oleh Arswendo Atmowiloto dan notasi lagunya oleh Harry Tjahjono, benar-benar menempel dengan sinetron Keluarga Cemara. Tanpa melihat ke layar televisi pun, dengan mendengar lagu tersebut masyarakat sudah mengetahui sinetron yang ditayangkan.

Sampai hari ini, pemirsa televisi yang menggemari Keluarga Cemara pasti masih hapal dengan keindahan lagu Harta Berharga dengan liriknya yang sarat makna. Liriknya mengandung  pesan yang sangat luhur; sebuah ode bagi keluarga –sesuatu yang sulit ditemukan lagi saat ini.

Namun lagu yang sarat makna dan mengandung unsur pendidikan itu tiba-tiba dirusak oleh sebuah tayangan komedi si stasiun televisi Trans-7 yang kemudian menyebar ke Tik Tok.

Dalam tayangan komedi itu terlihat dua orang tahanan di dalam sel sedang menyanyi sambil bermain gitar. Lagu yang dinyanyikannya sama persis dengan lagu Harta Berharga yang menjadi lagu tema sinetron Keluarga Cemara. Tapi, liriknya sudah “diperkosa”, antara lain dengan mengganti kata “Keluarga” dengan kata “Kelurahan”; kata “Abah” dengan kata “Lurah”; kata “Emak” diganti kata “RW” dan lain-lain.

Lirik selengkapnya menjadi sebagai berikut:

Harta yang paling berharga adalah kelurahan//Mutiara tiada tara adalah kelurahan….//Selamat pagi lurah//Selamat pagi RW//Selamat pagi RT dan bendahara//Kalau bikin KTP atau Kartu Keluarga silahkan datang aja ke Kelurahan..Dst

Penulis melihat, ada dua pelanggaran besar yang dilakukan oleh pihak televisi – bukan hanya bintang yang tampil di acara tersebut dengan memelesetkan lirik lagu Harta Berharga.

Pertama, pihak televisi telah melanggar Hak Cipta dari lagu tersebut, karena menyanyikannya secara utuh dan mengubahnya tanpa ijin. Apalagi lagu itu digunakan untuk sebuah tayangan komersial.

Kedua, pihak televisi mendiamkan, bahkan menyiarkan pihak yang dengan sengaja memelesetkan lirik lagu Harta Berharga tanpa seijin pemilik Hak Cipta. Dan yang sangat disesalkan, pemelesetan lirik lagu melenceng jauh dari pesan dan nilai yang terdapat dalam lirik asli lagu Harta Berharga.

Menurut salah seorang penciptanya, Harry Tjahono, sastrawan, cerpenis, novelis, pencipta lagu juga jurnalis, lagu Harta Berharga sudah menjadi lagu yang dipelajari oleh anak-anak dari beberapa sekolah dasar di Jakarta. Hal itu menunjukkan bahwa lagu tersebut mengandung unsur pendidikan yang tinggi, yang dapat menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak-anak untuk mencintai keluarga dan menghormati orangtua mereka.

Dengan memelesetkan lirik lagu secara brutal, kemudian ditayangkan di media televisi, bahkan kemudian menyebar ke Tik Tok, bukan saja membuat persepsi masyarakat, terutama anak-anak terhadap lagu tersebut menjadi salah. Bagaimana kalau kemudian anak-anak justru ikut menyanyikan lagu yang sudah diplesetkan karena meniru tayangan di televisi dan Tik Tok? Bukankah itu akan merusak pesan mendidik dari lagu tersebut?

Baik artis yang menyanyikannya maupun televisi yang menayangkan bisa saja mengatakan bahwa pemelesetan kata pada lirik lagu merupakan hal yang sudah sering dilakukan. Tapi, sering dilakukan bukan berarti boleh dan dibenarkan untuk dilakukan. Hendaknya baik artis maupun pihak televisi memikirkan juga dampak terhadap tujuan dari pemuatan lirik aslinya. Jangan hanya karena kepentingan komersial, semua cara dihalalkan.

Menyodorkan konsep lawakan dalam sebuah tayangan / panggung komedi memang tidak mudah. Seringkali pelawak terjebak pada hal-hal yang tidak etis bahkan sadistis dalam menjual lawakan. Bagi pecinta sinetron Keluarga Cemara yang hapal dengan lirik lagu Harta Berharga, mendengar kedua pelawak memelesetkan lagu tersebut, bukannya terhibur, tetapi malah terasa miris dan sedih. Seperti itulah kualitas lawakan artis komedi kita saat ini? Seperti itukah cara-cara yang dilakukan televisi untuk menjaring penonton? Menyedihkan! (Matt Bento)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed