by

Petuah Teater Djarum Melalui Medium “Tampah”, Sebuah Perenungan Dari Tradisi Yang Mengakar

image

Jakarta, UrbannewsID. | Bakti Budaya Djarum Foundation bersama Teater Djarum mempersembahkan sebuah pertunjukan teater bertajuk “Petuah Tampah” yang diselenggarakan sore hari ini, Minggu (8/5) di auditorium Galeri Indonesia Kaya. Pertunjukan ini didukung oleh 13 pemain, yang menggabungkan unsur gerak dan dialog, serta perlambangan atas simbolisasi yang ditawarkan. Gagasan “Petuah Tampah” ini dicetuskan oleh Teresa Rudiyanto. Kemudian penyusunan naskah dan penyutradaraan oleh Asa Jatmiko.

Teater Djarum menjalankan berbagai agenda rutin dalam upaya menjalin kerjasama dengan seniman, komunitas kesenian, budayawan, serta berbagai pihak dalam mengembangkan jaringan kerja seni, membuka ruang ekspresi dan apresiasi masyarakat di bidang seni teater. Oleh karena itu, kami mendukung kegiatan Teater Djarum ini dengan harapan seni teater dapat terus berkembang sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan positif kepada masyarakat,” ujar Renitasari Adrian Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Pada pertunjukan kali ini, Teater Djarum mengangkat tampah sebagai ekspresi seni pertunjukan, karena saratnya nilai-nilai penting tersebut. Kemajuan teknologi modern, terutama teknologi komunikasi, diakui maupun tidak merupakan arus besar yang menjadikan banyak nilai di dalam masyarakat kita terputus dan terkoyak. Apalagi jika kita tidak mampu secara arif dan bijaksana menyikapinya. Oleh karenanya, tampah yang menawarkan banyak nilai diangkat dalam “Petuah Tampah”.

“Tampah” sendiri merupakan alat tradisional masyarakat kita yang dipergunakan utamanya untuk memilah dan memilih padi bernas, juga dipergunakan untuk fungsi-fungsi lain, misalnya: tempat nasi tumpeng untuk syukuran, tempat bumbu-bumbu dapur. Dan di dalam tradisi Jawa, tampah juga memiliki arti filosofi, yakni: nampa atau menerima. Pada beberapa peristiwa anak hilang di senjakala, menurut mitosnya karena diajak bermain makhluk halus (sebagai digondhol wewe), tampah kemudian dijadikan alat tetabuhan oleh para tetangga sambil keliling kampung. Dan ditemukanlah si anak hilang tadi, tengah kebingungan terduduk di batang sebuah pohon besar. Terlepas percaya atau tidak, nyatanya tampah telah menjadi alat magi yang berguna bagi masyarakat.

Singkatnya, Tampah memiliki nosi “ke dalam” dan “ke luar” bagi masyarakat kita. Pada pemaknaan ke dalam, Teater Djarum menawarkan kembali perenungan akan tumbuhkembangnya kepribadian anak manusia di dalam kehidupan yang bagaikan siklus atau cakra manggilingan (roda yang berputar). Berdenyut, berkesinambungan dan terus hidup. Sementara Tampah dalam pemaknaan “keluar” bagi masyarakat merupakan media bersosialisasi, bertegur-sapa, serta terjalinnya upaya saling membutuhkan dan saling menopang. Tampah menjadi alat yang mempertemukan secara langsung pribadi dengan banyak pribadi.

Pertunjukan Petuah Tampah ini merupakan wujud konsistensi kami untuk berkreasi dibidang seni teater. Melalui lakon ini, kami ingin menyampaikan pesan bahwa jangan sampai kita kehilangan jati diri kita di jaman modern yang penuh dengan kemajuan teknologi ini. Kemajuan teknologi memang tak terbantahkan, namun bukan berarti kita melupakan nilai-nilai luhur yang menjadi pedoman kita dalam menjalani kehidupan,” ujar Asa Jatmiko, Sutradara dalam lakon Petuah Tampah.

Eksplorasi Tampah berlangsung selama 3 bulan penuh. Dan naga-naganya, tidak akan pernah berakhir. Oleh karena setiap latihan dan pemanggungan, Teater Djarum selalu menemukan hal-hal baru. Seperti ketika tiba-tiba menemukan kata wos (bahasa Jawa yang berarti beras), yang juga berarti “inti” kehidupan. Kemudian ketika Teater Djarum menemukan tampah yang disusun dari anyam-anyaman bambu, tiba-tiba tersadarakan bahwa bangunan dari seluruh proses para pemain dan pendukung teater tidak lain merupakan “anyam-anyaman” dari pribadi-pribadi yang mewujud tampah sebagai pentas besarnya. Begitu seterusnya, yang menyadarkan kepada kami bahwa eksplorasi tampah ini semakin membuat kami mengerti bahwa kami banyak tidak mengerti.

Setelah tampil di Galeri Indonesia Kaya, Teater Djarum masih akan membawa lakon Petuah Tampah ini ke beberapa kota seperti Kudus yang akan dilaksanakan di Balai Budaya Redjosari, 25 Mei 2016 mendatang. Kemudian Teater Djarum juga akan menyambangi Yogyakarta di Omah Petroek Karang Klethak pada 27 Agustus 2016. Dan terakhir, Teater Djarum akan berada di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, pada 24 September 2016.|Edo (Foto Istimewa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed