by

Panitia Festival Film Indonesia 2016 Pastikan Independensi Juri

-Movie-243 views

image

Jakarta, UrbannewsID. | Festival Film Indonesia (FFI) dari tahun ke-tahun selalu berkutat pada persoalan sistem penjurian dalam menilai sebuah film, hingga siapa yang layak menjadi juri. Nampaknya, tidak ada standarisasi yang baku sebagai pegangan atau panduan untuk dijadikan rujukan sekaligus menjadi tolok ukur sistem penjurian sebuah festival. Jadi tidak heran, acapkali FFI digelar sistemnya selalu berubah-ubah.

Hal ini mengemuka, saat Ketua Bidang Penjurian FFI 2016, Olga Lydia, menyampaikan bahwa tahun ini Panitia pastikan Independensi juri di XXI Plaza Indonesia, Jakarta, Kamis (8/9) sore. “Terus terang, memang belum ada sistem penjurian yang baku sebagai pegangan, termasuk juga sulitnya mencari juri yang memenuhi kritaria yang layak. Tapi, kami mencoba menyempurkan sistem penjurian yang lalu dengan mengembangkan sistem penjurian lebih ketat dan independen,” jelas Olga.

Ajang penghargaan yang konon katanya tertinggi bagi insan perfilman Indonesia ini. Pendaftaran untuk film bioskop dibuka dari tanggal 1 September sampai 15 September, sementara pendaftaran untuk film non bioskop dibuka dari tanggal 1 September sampai 20 September. Untuk memastikan Independensi penjurian dan meningkatkan kualitas festival, tahun ini perubahannya dengan melibatkan asosiasi profesi dan nomine tahun sebelumnya. Sementara, akuntan publik Deloitte yang akan menghitung hasil voting tetap dipertahankan.

Lukman Sardi, Ketua FFI 2016 mengatakan, asosiasi yang dilibatkan dalam sistem penjurian diantaranya, Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI), Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI), Asosiasi Casting Indonesia (ACI), Indonesian Film Directors Club (IFDC), Indonesian Motion Picture Audio Association (IMPACT), Rumah Aktor Indonesia (RAI), Indonesian Film Editors (INAFEd), Sinematografer Indonesia (SI), Indonesian Production Designers (IPD) dan Penulis Indonesia untuk Layar Lebar (PILAR).

Saat ada yang tanya, kenapa organisasi artis tertua di Indonesia, Parfi (Persatuan Artis Film Indonesia) tidak ikut dilibatkan. Olga menjelaskan,”Parfi sebenarnya diawal sudah masuk list sebagai asosiasi profesi yang ikut dilibatkan. Berhubung ada masalah internal di Parfi sendiri, hingga kita bingung mau menyampaikan ke siapa ajakan untuk ikut terlibat di penjurian. Tapi, kami berusaha mencoba lagi menghubungi mereka, apakah penyelesaian internal mereka sudah selesai,” papar Olga.

Tapi Panitia lupa, atau mungkin terlupakan. Parfi sebagai organisasi memiliki sekretariat yang secara administratif tetap berjalan, walau sedang terjadi kisruh dan estafet kepemimpinan ketua umumnya. Ajakan tetaplah ajakan, sebagai sebuah penghargaan untuk asosiasi profesi Artis tertua tanpa reserve harusnya. Layangkan saja surat ajakan secara resmi, ikut tidaknya biar mereka yang memutuskan secara resmi juga. Hal ini, mengacu dari esensi FFI digelar sebagai ajang penghargaan tertinggi bagi insan perfilman Indonesia. Dan, Parfi dengan anggotanya ada didalamnya.

Olga Lydia, Ketua Bidang Penjurian FFI 2016, mengatakan penjurian untuk film bioskop di bagi dalam tiga tahap. Di tahap pertama, untuk pertama kalinya Panitia FFI akan melibatkan asosiasi profesi, yang akan memilih 15 film terbaik per kategori sesuai dengan profesinya masing-masing. “Film yang belum pernah tayang di bioskop Indonesia, dapat disaksikan secara streaming oleh anggota Asosiasi yang sudah memiliki username dan password,” tambahnya.

Di penjurian tahap kedua, masing-masing juri yang terlibat akan mendapatkan kiriman info berisi panduaan untuk menonton 15 film terbaik per kategori secara streaming, be serta username dan password untuk dapat menonton. Di paket tersebut juga akan diberikan panduaan untuk menggunakan aplikasi voting untuk memilih lima film yang masuk ke daftar nominasi FFI 2016. Olga menambahkan hasil voting akan dikirim ke akuntan publik yang ditunjuk oleh Panitia FFI untuk diverifikasi.

“Seluruh anggota juri di Tahap II otomatis menjadi Juri Tahap III, ditambah dengan Dewan Juri 20 dan FFI Lifetime Member yang merupakan para nominee dari FFI sebelumnya, sistem penjurian dengan 100 juri ini sudah kita mulai sejak tahun 2014′” ujarnya Olga. Selain itu, Olga juga menjelaskan bahwa nantinya para anggota Dewan juri tersebut akan kembali menonton lima film yang masuk nominasi dan kembali melakukan voting untuk memilih film terbaik.

Sementara itu, pendaftaran untuk film non bioskop dilakukan dalam dua tahap. Film bioskop terdiri dari empat kategori, diantaranya film pendukung, film dokumenter panjang dan film animasi. Pada tahap pertama, penjurian akan dilakukan oleh Panel Dewan Juri untuk menentukan lima film dari setiap kategori ini yang masuk nominasi. Dewan Juri melakukan penilaian secara bersama-sama di satu tempat yang memenuhi standar teknik minimal yang disediakan oleh Panitia Pelaksanaan FFI.

Olga memastikan para Dewan juri yang ikut serta akan melaksanakan tugasnya dengan independen. Dipilih dengan seksama yang memiliki kredibilitas baik dalam bidang profesinya dan hampir semua sedang tidak memiliki film yang ikut kompetisi. “Selanjutnya, Dewan juri yang berjumlah 100 orang ditambah dengan FFI Lifetime Member akan diberikan password dan username untuk menonton lima film tersebut secara streaming dan memilih film terbaik secara voting, hasil voting juga akan ditabulasi oleh kantor akuntan publik yang independen,” jelas Olga.

Lukman menambahkan FFI 2016 ini juga ingin menjaring bakat-Bakar muda dengan melakukan tambahan pembukaan pendaftaran untuk kategori film non bioskop, yang kebanyakan diikuti oleh anak-anak muda. “Meski setiap tahun tema dan gelaran FFI ini berubah-ubah namun agenda besar kami ialah untuk memajukan dunia film Indonesia dan menjadikan film national sebagai tuan rumah di Tanah Air. Untuk itu, menjaring insan-insan muda dunia film Tanah Air menjadi penting karena perubahan dimulainya dari generation muda,” tutup Lukman.

Hajatan besar bagi para insan film dengan dana cukup lumayan ini. Lagi-lagi, untuk mendapatkan akses informasi terkini dari kinerja panitia dengan mudah dan cepat agak sulit. Contohnya, seperti sistem penjurian dan siapa saja jurinya harus digelar preskon dulu baru kita mengetahui. Semestinya, urusan informasi seluk-beluk tentang FFI 2016 bisa dengan mudah di akses lewat website. Di era digital saat ini sebenarnya sangat mudah mendekatkan yang jauh dan merapatkan yang dekat. Urusan website sebenarnya urusan remeh-temeh jika diniatkan. Bukankah dalam susunan kepanitiaan ada ketua bidang humas?|Edo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed