by

Outlook Musik 2022: Mendung Tanpo Udan

-Our Corner-190 views

Ditulis Oleh: Anas Syahrul Alimi, Ketua Bidang Pengembangan dan Pendidikan Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI), CEO Prambanan Jazz Festival

Urbannews | Industri musik memasuki bagian akhir tahun kedua Covid-19. Sepanjang tahun kedua, ada harapan industri kreatif berbasis panggung seperti musik bakal pulih. Atau paling tidak memulai lagi hidupnya yang normal. Tapi, ternyata tidak. Malahan makin lindap.

Terutama, setelah gelombang Covid-19 tiba dari India. Berita lelayu musisi dari segala penjuru bumi menyebar. Dari DJ hingga pelantun musik gospel. Dari musisi jazz hingga rock. Dari Amerika Latin hingga Afrika. Dari Eropa hingga Indonesia. Dari yang sepuh hingga yang muda.

Di tiang kecil nisan para penghibur itu, saya begitu masygul membaca nama-nama mereka: Armando Manzanero, Charley Pride, Jerry Demara, Tommy DeVito, William Pursell, Trini Lopez, Dave Greenfield, Nick Cordero, Troy Sneed, Mike Huckaby, Fred the Godson, John Prine, Adam Schlesinger, Joe Diffie, Matthew Seligman, Lee Konitz, Ellis Marsalis, John “Bucky” Pizzarelli, Wallace Roney, Alan Merrill, Manu Dibango, Eddy Davis, DJ Black N Mild, Glenn Fredly, Didi Kempot, Rahayu Supanggah, Aria Baron, Neneng Anjarwati, Yose Haryo Soejoto, Elly Kasim, Bens Leo, dan Idang Rasjidi.

Termasuk yang pergi dan tak kuat menghadapi ganasnya Covid-19 adalah guru saya dalam hal promotor musik, yakni Tommy Pratama. Tommy adalah pengibar bendera Original Production dan pernah membuatkan panggung megah sejak awal 90-an untuk penampilan grup musik Iron Maiden, Megadeth, Scorpions, Deep Purple, Toto, Level 42, Extreme, maupun Air Supply.

Pembaca, sekali lagi, tidak ada yang bisa direfleksikan sepanjang 2020 hingga 2021 selain jatuhnya musisi dan pekerja panggung di alam (nyaris) kebangkrutan. Serta, mengeja dengan nanar epitaf dari nisan para musisi dunia yang telah memberi segalanya kepada keberlanjutan dunia musik ini sebagai instrumentalia kebudayaan.

Memang, saat layar chart pandemi tampak melandai dan daya tampung ranjang rumah sakit mulai kembali “normal”, pemerintah mengumpulkan para penyelenggara konser–termasuk para penggawa utama yang berkumpul di Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI)–untuk merumuskan bagaimana menyelenggarakan pertunjukan dengan tata cara baru.

Lampu izin itu, apa boleh buat, belum terang benar. Kedap-kedip. Ini bukan kedap-kedip remang-remang asyik yang menambah kegairahan ruangan diskotek, melainkan suasana waswas.

Frase yang pas untuk menunjukkan suasana tarik-ulur di lapangan pertunjukan musik adalah mendung tanpo udan. MTU atau mendung tanpo udan adalah judul lagu ciptaan Kukuh Prasetya Kudamai. Di malam tahun baru, di kafe saya, Prambanan Jazz Cafe, bukan tanpa alasan bila saya secara spesial menghadirkan Kukuh dan Orkes Kudamai untuk menyanyikan lagu itu dalam versi muasalnya yang bukan dangdut koplo.

Seperti mendung tanpo udan, seperti itulah jagat musik kita. Bukan saja soal royalti, bukan saja soal panggung, tapi juga pajak dan regulasi-regulasi turunannya.Ini sejatinya soal lama. Tetapi, pandemi yang membikin semuanya bikin runyam, membuat air mata berlinang sejadinya. Mungkin, karena pandemi, air mata pelaku di jagat musik itu tak pernah terlihat, seperti seorang pecinta yang putus asa menangis di tengah hujan. Semestanya melulu basah kuyup.

Dunia musik kita belum basah kuyup sepenuhnya, tapi sangat tidak sehat. Seperti mendung. Mendung itu selalu bikin waswas. Kalau keluar, kita dirongrong cemas bagaimana kalau nanti dihantam badai di tengah jalan. Kalau tidak keluar, ya, eman-eman membiarkan rezeki lewat. Bagaimana kalau misalnya tidak hujan. Jadinya serba nanggung.

Serupa mendung tanpo udan itu, seperti itulah nasib JogjaROCKarta dan Prambanan Jazz Festival pada 2021 lalu, misalnya. Mau mendirikan panggung akbar, bagaimana pada hari “h” izin tidak keluar. Sebaliknya, kalau tidak loading panggung, bagaimana kalau tiba-tiba cerah.

Maunya kita adalah ini: kalau hujan, hujanlah sekalian. Kalau terang, teranglah sekalian.

Mendung tanpo udan adalah gambaran industri musik kita yang gamang. Musisi yang bermimpi hidup ongkang-ongkang kaki dari royalti tidak bisa. Belum lagi mesin organisasi yang “dipercaya” bisa mengurus soal royalti ini tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Hidup dari panggung pertunjukan juga tidak bisa. Hidup dari bantuan langsung tunai apalagi karena nama si musisi tidak ada dalam daftar keluarga fakir miskin yang dipunyai Kementerian Sosial RI.

Mendung itu tidak enak. Baju yang dijemur eman-eman. Kering tidak, bau iya.Kerap para pelaku di industri pagelaran atau konser musik ini tidak sejalan dengan maunya pemerintah. Kadang pelaku industri ke kiri, pemerintah ke kanan. Persis mendung tanpo udan.

Di tahap visi misi, di atas kertas putih pidato sambutan semua tampak bahagia dan asyik, seperti lirik ini:

awak dewe tau duwe bayangan

besok yen wes wayah omah-omah

anaku moco koran sarungan

kowe belonjo dasteran

Dalam realitas di lapangan, justru keras dan luka seperti ini:

nanging saiki wes dadi kenangan

aku karo koe wes pisahanaku kiri koe kanan, wes bedo dalan

Musisi inginnya hidup dari royalti karya mereka, tapi penegakan hukum hak cipta tidak berjalan. Macet puluhan tahun. Padahal, pemerintah bersikukuh membangun dan memperkuat ekosistem digital industri musik agar bisa bersaing di luar negeri. Ironi itulah yang disebut mendung tanpo udan.

Promotor musik ingin menyelenggarakan pagelaran dengan pajak yang ringan. Tapi, pemerintah memberlakukan pajak hiburan yang besarannya diserahkan kepada pemda masing-masing. Maunya desentralisasi. Dan, inilah potret pajak hiburan: tidak merata. Beda kota/kabupaten, beda pajaknya. Pajak hiburan itu merentang dari 5% hingga 45%.

Industri musik diinginkan bisa berkibar, tetapi regulasi seperti pajak justru kerap menghambatnya. Pandemi mestinya menjadi titik tolak memeriksa seluruh regulasi yang selama ini memberatkan industri musik, tetapi hal itu tidak dilakukan. Itulah mendung tanpo udan.

Alih-alih romantis dan optimistis, mendung tanpo udan adalah situasi yang sulit. Bahkan, gawat dan berbahaya. Lagu ciptaan Kukuh Prasetya Kudamai itu sesungguhnya menceritakan akhir hubungan yang pahit, tetapi dibawa santai dan “full senyum” seperti nggak ada apa-apa, baik-baik saja.

Di musim mendung tanpo udan, awasi jemuranmu. Jaga selalu hubunganmu agar jauh dari Layangan Putus. Sudah mendung, putus pula.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed