by

Modern Metal Dalam Musik Death Distortion, Membawa Angin Segar Bagi Penggemar Musik Cadas di Tanah Air

-Music-300 views

image

Jakarta, UrbannewsID. | Sebuah band dengan passion ‘warna musik’ tertentu bisa jadi karya besar atas inisiatif pencinta musik rock (rock lover). Di era digital dengan fisik CD mengecil jumlahnya macam sekarang, band baru membuat album dengan hard cover, genre rock, dan lebih lagi memilih musik metal termasuk barang langka dan berani. Tapi, itulah yang dilakukan Ilham Johan sang Executive Producer Death Distortion, band Modern Metal Jakarta.

Pasukan inti Deat Distortion yang diyakini bisa dahsyat membangun musik metal, di panggung dan rekaman. Terbilang unik dari sisi usia pemainnya termasuk juga campuran wajah baru dan wajah lama yang wara-wiri di panggung musik rock tanah air. Rian Dani, drummer berbakat muda belia (15thn) asal Papua, Trison Manurung (lead vocal Roxx & ex Edane), Wawan Cher (ex gitaris Blue Savana, Wolfgangs dan No Limits), Ega Liong (gitaris Gahar Blackout Band) dan Didiek Orange, basist Roxx dan One Feel).

imageCikal bakal lahirnya Dead Distortion sendiri saat gelaran event bertajuk Indonesian Rock Collaboration (IRC) di Rolling Stone Cafe, Jakarta, Agustus tahun lalu. Sebuah pentas musik rock yang di prakarsai Putra Mandala Production ini, mengkolaborasikan beberapa musisi rock senior dan yunior dalam satu panggung, satu diantaranya Rian, drumer rock berumur 14 tahun saat itu.

Dari event IRC yang terbilang cukup sukses inilah, Trison Manurung ditawarkan bentuk band, harus genre rock, yang metal pun Oke, oleh Ilham Johan. Bagi Trison, tawaran ini merupakan tantangan, karena Roxx Band yang dibangunnya, lagi vakum panjang. Tanpa buang-buang waktu, Trison bersama Rian Dani putra Ilham Johan sang promotor mengontak teman lamanya untuk direkrut jadi personel.

Maka, terbentuklah formasi Death Distortion seperti diatas akhir Desember 2015 dengan ditandai melalui uji coba 2 superhitnya, yakni “Reinkarnasi” dan “Dead Distortion” saat di gelar Indonesian Rock Collaboration (IRC) 2 di Fame Station Bar & Cafe Bandung. IRC yang ke 2 yang juga menggandeng band terkenal asal Bandung BurgerKill (BK), penampilan Death Distortion mendapat aplaus panjang dari para penonton.

Album Reinkarnasi Death Distortion yang bertengger 10 lagu ini, digarap sepanjang 4 bulan, dimulai Oktober 2015 direkam lagu pertama ‘Reinkarnasi’ di studio La Voice, selanjutnya beberapa lagu masuk rekaman digital di studio Akalliar, sementara Mixing Mastering dikerjakan di Putra Mandala Studio – Pulo Mas, dilakukan bersama seluruh pemain pada Februari 2016, Ega Liong ditugasi sebagai Sound Engineer.

imageDitelisik lebih dalam, Dead Distortion yang menampilkan formasi dua gitar, memang punya passion ngembangin musik metal, tapi yang lebih modern atau sebut Modern Metal. Menurut Trison, pilihan itu menjadi sangat pas, jika kita menikmati bagaimana padunya duet gitaris Wawan – Ega pada lagu ‘Death Distortion’, ‘Reinkarnasi’ atau lagu ‘Ambisius’ yang terlihat warna modern rock metalnya Metalica.

Ega dan Wawan masih main padu tatkala Death Distortion dengan sangat sengaja membuat aransemen ‘musik rock yang jualan’ seperti pada lagu ‘Terbang Bersama Garuda’ yang liriknya bercerita tentang persaudaraan dan persahabatan yang indah antar suku bangsa, banyak memainkan gitar akustik, dengan perkusi tifa asal Papua. Ini Juga menjadi semacam personifikasi dari Rian Dani sebagai musisi yang berdarah Makasar Papua. Disini peran Rian terasa istimewa yang diperkuat betotan bass Didiek Orange.

Ega dan Wawan masih main padu tatkala Death Distortion dengan sangat sengaja membuat aransemen ‘musik rock yang jualan’ seperti pada lagu ‘Terbang Bersama Garuda’ yang liriknya bercerita tentang persaudaraan dan persahabatan yang indah antar suku bangsa, banyak memainkan gitar akustik, dengan perkusi tifa asal Papua. Ini Juga menjadi semacam personifikasi dari Rian Dani sebagai musisi yang berdarah Makasar Papua. Disini peran Rian terasa istimewa.

Dead Distortion yang juga menyertakan 2 lirik berbahas Inggris dalam albumnya ini, yakni “Death Distortion” dan “Corruption”. Menurut Trison, pada melodi musik Modern Metal, seringkali melafalkan lirik bahasa Indonesia terasa susah, tapi lirik teks Inggris menjadi lebih mudah dinyanyikan, karena adanya suku kata yang pendek-pendek. Album pun dikunci dengan lagu ‘Residivis’, bercerita tentang seseorang yang ‘sudah sepuh’, bertato, rantai bergantung di celananya yang robek, bak rocker tua dengan aksesoris nya.

Saya senang lihat perkembangan Death Distortion, materi lagu dalam album ini, rock banget, metal sekali dan Rian masih bisa mengimbangi seniornya yang usianya berlipat dari umurnya. Saya juga turun tangan melihat kebersamaan mereka latihan, bikin lagu atau rekaman di studio. Jika perlu, mengusulkan revisi cover Death Distortion pun saya lakukan,” kata Ilham Johan, putra Makasar yang menikahi perempuan Papua Vince Lennawaly, saat ditemui di Equus Cafe and Lounge, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (30/4) sore.

Menarik dicatat, tentang ketiadaan nama pencipta lagu pada teks lirik dalam cover album Dead Distortion saat ditanyakan. Trison menjelaskan, ini memang sengaja tidak ada nama pencipta secara individual, karena tema lirik, ‘ragam warna musik rock’ Death Distortion dipikirkan dan ditulis secara bersama. Ini hanya pembuktian kerja kolektif dan membiasakan diri untuk bekerja bareng dalam sebuah tim, karena semua personel punya kontribusi kuat dan bertanggung jawab sesuai porsinya dalam setiap lagu.

Death Distortion yang sudah merampungkan 2 video klip, yakni Reinkarnasi yang disutradarai Oleg Sanchabachtiar dan ‘Death Distortion’ garapan sutradara Hendry Tivo, dalam first album Death Distortion sebagai bonus track. ‘Bonus track dua video klip ini menjadi jawaban dari kerinduan rock lovers pada tayangan video klip musik yang sekarang kian jarang kita lihat di televisi.

Semoga dengan hadirnya Dead Distortion bersama albumnya ini bisa menjadi tonggak bangkitnya kembali musik rock yang akan merajai kembali industri musik nasional seperti era-era sebelumnya. Seperti slogan-slogan para pencinta musik rock, yakni “Rock Never Dies!” sepertinya memang benar terjadi. Karena musik rock akan tetap menggelora dan semangatnya terus mengalir diurat nadi untuk selalu mendapat tempat di hati penggemarnya.|Edo (Dudut SP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed