by

Menandai Kelahirannya, Indonesia Dance Company Menggelar Pertunjukan “We Dance” Awal Oktober 2016

-On Stage-171 views

image

Jakarta, UrbannewsID.| Bicara soal Ballet di Indonesia, tidak bisa lepas dari sosok perempuan hebat bernama Marlupi Sijangga. Berkat kecintaannya pada tarian yang satu ini, segudang penghargaan yang pernah di terima Marlupi atas karya dan kerja kerasnya di bidang seni tari balet antara lain Best Executif Award dari Singapura (1982), Adhi Karya Award (1993), serta penghargaan Karier dan Prestasi Pria Wanita (1996).

Sebagai salah satu penari Ballet profesional yang dimiliki ndonesia, Marlupi Sijangga mulai belajar Ballet di sekolah Ballet “Tegal Sari” pada tahun 1952, dengan Mrs. Zahller dari Belanda. Pada tahun 1956, Marlupi Sijangga membuka sekolah balet sendiri di Bon Becak Bungurun dengan nama “Marry”. Kemudian, sesuai nasehat dari kepala Bidang Kesenian dan Kebudayaan (Moelyono Suryopranomo) di tahun 1970, sekolah balet Marry berubah nama menjadi “Marlupi Dance Academy” (MDA).

Hasil kerja keras Marlupi Sijangga selama 59 tahun bersama akademi tari terbesar dan tertua di Indonesia yang didirikannya, Marlupi Dance Academy telah menghasilkan banyak penari dan pengajar dengan standar Internasional. Langkah Marlupi Sijangga dalam perkembangan dunia tari di Indonesia, diteruskan oleh para penerusnya yaitu Fifi Sijangga (anak) dan Claresta Alim (cucu) dengan mendirikan “Indonesia Dance Company (IDCO)”, sebagai suatu wadah profesional dalam pengembangan potensi tari dan karier sebagai profesi yang menjanjikan.

image

Fifi Sijangga yang juga aktif mengelola Marlupi Dance Academy, sebagai Executif Director IDCO dibantu oleh banyak profesional di bidang tari dalam menjalankan IDCO seperti Marlupi Sijangga yang menjadi patron, Claresta Alim sebagai Founder & Artistic Director, Rita Rettasari sabagai Technical Director, Yuniki Salim sebagai Creative Director, Leonny Ariesa sabagai Managing Director dan Jonathan Pranadjaja sebagai Ballet Mistress.

“IDCO menggunakan balet klasik sebagai fondasi dalam pelatihan, karena teknik di dalam tari Ballet merupakan dasar yang kuat untuk mencarikan berbagai jenis tarian lainnya. Teknik tersebut sudah melingkupi kelenturan tubuh, kekuatan menggunakan otot, garis tubuh yang indah dan benar, musikalitas serta mengandung nilai estetika dan artistik yang tinggi,” jelas Fifi Sijangga menyoal IDCO yang dipimpinnya, saat dijumpai di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat (30/9) sore.

Claresta Alim menambahkan, sebagai akademi yang mewadahi para seniman tari di Indonesia, IDCO hadir dengan koreografer dan para penari pilihan yang memiliki dedikasi tinggi di dunia tari. Selain dirinya, ada pula Jonatha Pranadjaja, Siti Soraya dan Michael Halim. Sementara, penari yang tergabung dalam IDCO yakni Chailiessa Purnama Yosaputra, Cindy Kwan, Dheidra Fadhillah, Irene Aryanto, Leonny Ariesa, Maria Linsy Ariani, Michael Halim, dan masih banyak lagi.

Sebagai bukti kecintaannya untuk terus mengembangkan dan mengenalkan tari ballet pada masyarakat Indonesia, IDCO akan menggelar sebuah pertunjukan bertajuk “We Dance” selama dua hari, yakni pada tanggal 1 Oktober (khusus undangan) dan 2 Oktober (untuk umum), di Gedung Kesenian Jakarta. Fifi Sijangga berharap “We Dance” bisa menjadi sebuah karya yang baik dan diterima banyak orang, sebagai sebuah awal dari terbentuk dan berdirinya IDCO yang ditetapkan pada tanggal 1 Oktober 2016 nanti.

Untuk menyaksikan pertunjukan ini, harga tiket dibandrol untuk VIP: IDR 150 dan Balcony: IDR 100. RSVP di 021-5656303/0815 881 2828. Sedangkan pertunjukan We Dance, IDCO akan menampilkan beberapa jenis tarian dengan Claresta Alim sebagai Artistic Director, serta Siti Soraya Thajib, Siko Setyanto dan Claresta Alim sebagai Choreographer.

Berikut jenis tarian dalam pertunjukan nanti, yakni :

1. SIPATMO (tarian ballet yang terinspirasi dari cokek dan orkes gambang kromong, perpaduan antara pribumi dan non pribumi, bercerita tentang kehidupan perempuan di masa dahulu dari remaja hingga menjadi wanita dewasa, jagalah hati jangan dinodai dengan menjaga selalu sembilan Lawang/lubang dalam tubuh wanita).
Penata Tari : Claresta Alim
Penata Busana : Didi Budiardjo
Penata Artistik. : Felix Tjahyadi
Musik. : Hendra Duo Percussion

2. PSYCOLOR (warna merupakan sebuah perwujudan akan berbedanya karakter setiap individual manusia. Tapi, perbedaan itulah yang menjadikan satu sama lain bisa saling melengkapi dalam menuju sebuah keharmonisan).
Penata Tari. : Siko Setyanto
Penata Busana : Febrizal
Musik. : Balkansky feat Theodossii Spassov

3. BURN IN PASSION (perbedaan neo-ballet dengan pengaruh budaya, semangat dan gairah dari tarian tradisional flamingo Spanyol).
Penata Tari : Siti Soraya
Penata Busana : Febrizal
Musik. : Kuroshitsuji II – Danse Macabre by Angele Dubeau and La Pieta

4. FESTIVO (karya tari dengan gaya modern dan kontemporer dimana membawakan kemeriahan festival musim panas di Jepang).
Penata Tari. : Siti Soraya
Penata Busana. : Febrizal
Musik. : Zatoichi – Festivo

|Edo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed